kata Islam (Berasal dari bahasa Arab: al-
islām, yang berasal dari kata salam
yang artinya selamat) adalah agama
yang mengimani satu Tuhan, yaitu
Allah. Dengan lebih dari satu
seperempat milyar orang pengikut di
seluruh dunia, menjadikan Islam
sebagai agama terbesar kedua di
dunia setelah agama Kristen. Islam
memiliki arti "penyerahan", atau
penyerahan diri sepenuhnya kepada
Tuhan. Pengikut ajaran Islam dikenal
dengan sebutan Muslim yang berarti
"seorang yang tunduk kepada Alloh",
atau lebih lengkapnya adalah
Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat
bagi perempuan. Islam mengajarkan
bahwa Allah menurunkan firman-Nya
kepada manusia melalui para nabi
dan rasul utusan-Nya, dan meyakini
dengan sungguh-sungguh bahwa
Muhammad adalah nabi dan rasul
terakhir yang diutus ke dunia oleh
Allah.
Kata Islam merupakan penyataan
kata nama yang berasal dari akar
triliteral s-l-m, dan didapat dari
tatabahasa bahasa Arab Aslama,
yaitu bermaksud "untuk menerima,
menyerah atau tunduk." Dengan
demikian, Islam berarti penerimaan
dari dan penundukan kepada Tuhan,
dan penganutnya harus
menunjukkan ini dengan
menyembah-Nya, menuruti
perintah-Nya, dan menghindari
politheisme. Perkataan ini
memberikan beberapa maksud dari
al-Qur’an. Dalam beberapa ayat,
kualitas Islam sebagai kepercayaan
ditegaskan: "Barangsiapa yang Allah
menghendaki akan memberikan
kepadanya petunjuk, niscaya Dia
melapangkan dadanya untuk
(memeluk agama) Islam..." Ayat lain
menghubungkan Islām dan dīn
(lazimnya diterjemahkan sebagai
"agama"): "...Pada hari ini telah Ku-
sempurnakan untukmu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu jadi agama bagimu." Namun
masih ada yang lain yang
menggambarkan Islam itu sebagai
perbuatan kembali kepada Tuhan-
lebih dari hanya penyataan
pengesahan keimanan.
Secara etimologis kata Islam
diturunkan dari akar kata yang sama
dengan kata salām yang berarti
“damai”. Kata 'Muslim' (sebutan bagi
pemeluk agama Islam) juga
berhubungan dengan kata Islām,
kata tersebut berarti “orang yang
berserah diri kepada Allah" dalam
bahasa Indonesia.
Kepercayaan dasar Islam dapat
ditemukan pada kalimah shahādatāin
("dua kalimat persaksian"), yaitu
"ashadu alaa ilaha illallah,
Wa’ashadu an’na Muhammadar
Rasulullah" - yang berarti "Tiada
Tuhan selain Allah, Dan Nabi
Muhammad itu adalah utusan Allah".
Adapun bila seseorang meyakini dan
kemudian mengucapkan dua kalimat
persaksian ini, berarti ia sudah
dapat dianggap sebagai seorang
Muslim atau mualaf (orang yang baru
masuk Islam dari kepercayaan
lamanya).
Kaum Muslim percaya bahwa Allah
mewahyukan al-Qur'an kepada
Muhammad sebagai Khataman
Nabiyyin (Penutup Para Nabi) dan
menganggap bahwa al-Qur'an dan
Sunnah (setiap perkataan dan
perbuatan Muhammad) sebagai
sumber fundamental Islam.
Mereka tidak menganggap
Muhammad sebagai pengasas agama
baru, melainkan sebagai pembaharu
dari keimanan monoteistik dari
Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi lainnya.
Tradisi Islam menegaskan bahwa
agama Yahudi dan Kristen telah
membelokkan wahyu yang Tuhan
berikan kepada nabi-nabi ini
dengan mengubah teks atau
memperkenalkan intepretasi palsu,
ataupun kedua-duanya.
Umat Islam juga meyakini al-Qur'an
sebagai kitab suci dan pedoman
hidup mereka yang disampaikan oleh
Allah kepada Muhammad. melalui
perantara Malaikat Jibril yang
sempurna dan tidak ada keraguan di
dalamnya (Al-Baqarah [2]:2). Allah
juga telah berjanji akan menjaga
keotentikan al-Qur'an hingga akhir
zaman dalam suatu ayat.
Adapun sebagaimana dinyatakan
dalam al-Qur'an, umat Islam juga
diwajibkan untuk mengimani kitab
suci dan firman-Nya yang
diturunkan sebelum al-Qur'an
(Zabur, Taurat, Injil dan suhuf para
nabi-nabi yang lain) melalui nabi
dan rasul terdahulu adalah benar
adanya. Umat Islam juga percaya
bahwa selain al-Qur'an, seluruh
firman Allah terdahulu telah
mengalami perubahan oleh manusia.
Mengacu pada kalimat di atas, maka
umat Islam meyakini bahwa al-
Qur'an adalah satu-satunya kitab
Allah yang benar-benar asli dan
sebagai penyempurna kitab-kitab
sebelumnya.
Umat Islam juga meyakini bahwa
agama yang dianut oleh seluruh nabi
dan rasul utusan Allah sejak masa
Nabi Adam adalah agama tauhid,
dengan demikian tentu saja Ibrahim
juga menganut ketauhidan secara
hanif (murni imannya) maka
menjadikannya seorang muslim.
Pandangan ini meletakkan Islam
bersama agama Yahudi dan Kristen
dalam rumpun agama yang
mempercayai Nabi Ibrahim as. Di
dalam al-Qur'an, penganut Yahudi
dan Kristen sering disebut sebagai
Ahli Kitab atau Ahlul Kitab.
Hampir semua Muslim tergolong
dalam salah satu dari dua mazhab
terbesar, Sunni (85%) dan Syiah
(15%). Perpecahan terjadi setelah
abad ke-7 yang mengikut pada
ketidaksetujuan atas kepemimpinan
politik dan keagamaan dari
komunitas Islam ketika itu. Islam
adalah agama pradominan sepanjang
Timur Tengah, juga di sebagian
besar Afrika dan Asia. Komunitas
besar juga ditemui di Cina,
Semenanjung Balkan di Eropa Timur
dan Rusia. Terdapat juga sebagian
besar komunitas imigran Muslim di
bagian lain dunia, seperti Eropa
Barat. Sekitar 20% Muslim tinggal di
negara-negara Arab, 30% di
subbenua India dan 15.6% di
Indonesia, negara Muslim terbesar
berdasar populasi.
Islam memberikan banyak amalan
keagamaan. Para penganut
umumnya diwajibkan untuk
memegang Lima Rukun Islam, yaitu
lima pilar yang menyatukan Muslim
sebagai sebuah komunitas. Tambahan
dari Lima Rukun, hukum Islam
(syariah) telah membangun tradisi
perintah yang telah menyentuh
pada hampir semua aspek kehidupan
dan kemasyarakatan. Tradisi ini
meliputi segalanya dari hal praktikal
seperti kehalalan, perbankan, jihad
dan zakat
fungsi zakat
1. jiwa. Sebab sudah pasti
ia akan menjadi orang yang
dicintai dan dihormati
sesuai tingkat
pengorbanannya.
2. Di dalam zakat terdapat
penyucian terhadap akhlak.
1. Zakat merupakan sarana
untuk membantu dalam
memenuhi hajat hidup para
fakir miskin yang
merupakan kelompok
mayoritas sebagian besar
negara di dunia.
2. Memberikan dukungan
kekuatan bagi kaum
Muslimin dan mengangkat
eksistensi mereka. Ini bisa
dilihat dalam kelompok
penerima zakat, salah
satunya adalah mujahidin fi
sabilillah.
3. Zakat bisa mengurangi
kecemburuan sosial, dendam
dan rasa dongkol yang ada
dalam dada fakir miskin.
Karena masyarakat bawah
biasanya jika melihat
mereka yang berkelas
ekonomi tinggi
menghambur-hamburkan
harta untuk sesuatu yang
tidak bermanfaaat bisa
tersulut rasa benci dan
permusuhan mereka. Jikalau
harta yang demikian
melimpah itu dimanfaatkan
untuk mengentaskan
kemiskinan tentu akan
terjalin keharmonisan dan
cinta kasih antara si kaya
dan si miskin.
4. Zakat akan memacu
pertumbuhan ekonomi
pelakunya dan yang jelas
berkahnya akan melimpah.
5. Membayar zakat berarti
memperluas peredaran
harta benda atau uang,
karena ketika harta
dibelanjakan maka
perputarannya akan meluas
dan lebih banyak pihak
yang mengambil manfaat.
Hikmah dari zakat antara lain:
1. Mengurangi kesenjangan
sosial antara mereka yang
berada dengan mereka
yang miskin.
2. Pilar amal jama'i antara
mereka yang berada
dengan para mujahid dan
da'i yang berjuang dan
berda'wah dalam rangka
meninggikan kalimat Allah
SWT.
3. Membersihkan dan
mengikis akhlak yang buruk
4. Alat pembersih harta dan
penjagaan dari ketamakan
orang jahat.
5. Ungkapan rasa syukur
atas nikmat yang Allah SWT
berikan
6. Untuk pengembangan
potensi ummat
7. Dukungan moral kepada
orang yang baru masuk
Islam
8. Menambah pendapatan
negara untuk proyek-
proyek yang berguna bagi
ummat.
· QS (2:43) ("Dan
dirikanlah salat, tunaikanlah
zakat dan ruku'lah beserta
orang-orang yang ruku'".)
· QS (9:35) (Pada hari
dipanaskan emas perak itu
dalam neraka jahannam,
lalu dibakar dengannya
dahi mereka, lambung dan
punggung mereka (lalu
dikatakan) kepada mereka:
"Inilah harta bendamu yang
kamu simpan untuk dirimu
sendiri, maka rasakanlah
sekarang (akibat dari) apa
yang kamu simpan itu.")
· QS (6: 141) (Dan Dialah
yang menjadikan kebun-
kebun yang berjunjung dan
yang tidak berjunjung,
pohon korma, tanam-
tanaman yang bermacam-
macam buahnya, zaitun dan
delima yang serupa (bentuk
dan warnanya) dan tidak
sama (rasanya). Makanlah
dari buahnya (yang
bermacam-macam itu) bila
dia berbuah, dan
tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan
disedekahkan kepada fakir
miskin); dan janganlah kamu
berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang yang
berlebih-lebihan).
4. Puasa
Puasa dalam agama Islam atau
Shaum (dalam Bahasa Arab ﺻﻮﻡ )
artinya menahan diri dari makan
dan minum serta segala perbuatan
yang bisa membatalkan puasa, mulai
dari terbit fajar hinggalah terbenam
matahari, untuk meningkatkan
ketakwaan seorang muslim. Perintah
puasa difirmankan oleh Allah pada
Al-Quran surat Al-Baqarah ayat
183.
Berpuasa merupakan salah satu dari
lima Rukun Islam. Terdapat puasa
wajib dan puasa sunnah, namun tata
caranya tetap sama.
Waktu haram puasa adalah waktu
saat umat Muslim dilarang berpuasa.
Hikmah puasa adalah ketika semua
orang bergembira, seseorang itu
perlu turut bersama merayakannya.
· Hari Raya Idul Fitri (1
Syawal)
· Hari Raya Idul Adha (10
Zulhijjah)
· Hari-hari Tasyrik (11,
12, dan 13 Zulhijjah)
Perintah berpuasa dari Allah
terdapat dalam Al-Quran di surat
Al-Baqarah ayat 183.
"Yaa ayyuhaladziina
aamanuu kutiba alaikumus
siyaamu kamaa kutiba
'alalladziina min qablikum
la allakum tataquun"
“ Wahai orang-orang yang beriman,
telah diwajibkan ke atas kamu
berpuasa sebagaimana telah
diwajibkan ke atas umat-umat yang
sebelum kamu, semoga kamu menjadi
orang-orang yang bertaqwa."
Ibadah shaum Ramadhan yang
diwajibkan Allah kepada setiap
mu’min adalah ibadah yang
ditujukan untuk menghamba kepada
Allah seperti yang tertera dalam QS.
Al- Baqarah/2: 183. Hikmah dari
ibadah shaum itu sendiri adalah
melatih manusia untuk sabar dalam
menjalani hidup. Maksud dari sabar
yang tertera dalam al-Quran adalah
‘gigih dan ulet’ seperti yang
dimaksud dalam QS. Ali ‘Imran/3:
146.
1. Baris terlekuk
· Baris isi
Puasa adalah menahan. secaara
artian adalah menahan keinginan
hawa nafsu(atau jasad/diri).namun
justru malah menjalankan keinginan
keinginan Allah lah yang terkandung
di dalam AlQuran. sehingga lebih
optimal lagi dalam menjalankan
ibadah yang Allah inginkan.
perintah puasa lebih menekankan
kedalam aktifitas sendi kehidupan.
dimana mampunya kita untuk
menahan hawa nafsu kita (bahkan
hingga makan dan minum pun kita
tahan) kemudian menjalankan
keinginan Allah sepenuhnya.
sehingga meraih Taqwa
perintah pusa jatuh pada madinah.
dimana dikondisi ummat islam saat
itu baru saja hijrah dari mekkah
setelah di tekan dari berbagai sisi
kehidupan.. namun di sinilah terlihat
sifat kesabaran(tidak lemah, tidak
lesu, pantang mundur) dari semangat
ummat islam untuk bangkit
menyebarkan ayat-ayat Allah.ke
seluruh wilayah..
· Puasa yang hukumnya
wajib
o Puasa Ramadan
o Puasa karena
nazar
o Puasa kifarat
atau denda
· Puasa yang hukumnya
sunah
o Puasa 6 hari di
bulan Syawal
o Puasa Arafah
o Puasa Senin-
Kamis
o Puasa Daud
(sehari puasa,
sehari tidak)
o
Puasa Asyura (pada bulan muharam)
o Puasa 3 hari
pada pertengahan
bulan (menurut
kalender islam),
tanggal 13, 14,
dan 15
1. Beragama Islam
2. Berakal sehat
3. Baligh (sudah cukup
umur)
4. Mampu melaksanakannya
5. Orang yang sedang
berada di tempat (tidak
sedang safar)
1. Islam (tidak murtad)
2. Mummayiz (dapat
membedakan yang baik dan
yang buruk)
3. Suci dari haid dan nifas
4. Mengetahui waktu
diterimanya puasa
1. Niat
2. Meninggalkan segala hal
yang membatalkan puasa
dari terbit fajar hingga
terbenam matahari
5. Naik Haji Ke baitullah
Muslim juga mempercayai Rukun
Iman yang terdiri atas 6 perkara
yaitu:
1. Iman kepada Allah
Dalam Islam, Allah adalah satu-
satunya Tuhan (tanpa sekutu) [4] ,
Sang Pencipta, Hakim dari seluruh
makhluk, Maha Kuasa, Maha
Penyayang, Maha Pemurah dan
Tuhan dari Ibrahim, Ismail, Ishaq,
Yakub, Musa, Dawud, Sulaiman, Isa
dan Muhammad. Menurut F.E.
Peters, " Al Qur'an menyatakan
29:46, Muslim mempercayai dan
sejarawan menyetujui, bahwa
Muhammad dan pengikutnya
menyembah Tuhan yang sama
dengan yang disembah Yahudi.
Allah-nya Al Qur'an adalah Tuhan
Sang Pencipta yang ada dalam kisah
Ibrahim. Peters mengatakan bahwa
Al Qur'an menggambarkan Allah lebih
berkuasa dan jauh dibandingkan
dengan Yahweh, dan juga
merupakan Tuhan universal, tidak seperti Yahweh yang lebih dekat dengan bangsa Israel. [5]
Berdasarkan keterangan : Allaahu
ismun li dzaatil wajibul wujuud
artinya : Allah itu adalah sebuah
nama kepada yang pasti ada
keberadaannya (eksistensi). Jadi
jelaslah Allah itu adalah sebuah
nama kepada sesuatu yang wajib
untuk dilayani dengan sebenar-
benarnya, karena berdasarkan
keterangan: Allaahu ismun li dzaati
ma'budi bi haqq artinya : Allaah itu
adalah sebuah nama kepada sesuatu
yang wajib dilayani (ma'budi)
dengan sebenar-benarnya
pelayanan (ibadah).
Dalam tradisi Islam disebutkan ada
99 nama untuk Allah (Asmaaul
Husna), diambil dari nama-nama
yang digunakan Al Qur'an untuk
merujuk kepada Allah. [6] Di antara
nama-nama tersebut adalah :
· Al Malikul Mulk (Raja
diRaja, Maharaja)
· Al Hayy (Maha Hidup)
· Al Muhyii (Maha Memberi
Kehidupan)
Sesungguhnya sifat-sifat Allah yang
mulia tidak terbatas/terhingga. Di
antaranya juga tercantum dalam
Asma'ul Husna. Sebagian ulama
merumuskan 20 Sifat Allah yang
wajib dipahami dan diimani oleh
ummat Islam di antaranya:
1. Wujud (Ada). Mustahil Allah itu
tidak ada (adam)
2. Qidam (Terdahulu) Allah itu Qidam
(Terdahulu). Mustahil Allah itu
Huduts (Baru). “Dialah Yang Awal
…” [Al Hadiid:3]
3. Baqo’ (Kekal) Allah itu
Baqo’ (Kekal). Tidak mungkin Allah
itu Fana’ (Binasa). Allah sebagai
Tuhan Semesta Alam itu hidup terus
menerus. Kekal abadi mengurus
makhluk ciptaannya. Jika Tuhan itu
Fana’ atau mati, bagaimana nasib
ciptaannya seperti manusia? “Dan
bertawakkallah kepada Allah yang
hidup (kekal) Yang tidak mati…” [Al
Furqon 58]
4. Mukhollafatuhu lil hawaadits
(Tidak Serupa dengan MakhlukNya)
Allah itu berbeda dengan
makhlukNya (Mukhollafatuhu lil
hawaadits). Mustahil Allah itu sama
dengan makhlukNya
(Mumaatsalaatuhu lil Hawaadits).
Kalau sama dengan makhluknya
misalnya sama lemahnya dengan
manusia, niscaya “Tuhan” itu bisa
mati dikeroyok oleh manusia.
Mustahil jika “Tuhan” itu dilahirkan,
menyusui, buang air, tidur, dan
sebagainya. Itu adalah manusia.
Bukan Tuhan! Allah itu Maha Besar.
Maha Kuasa. Maha Perkasa. Maha
Hebat. Dan segala Maha-maha yang
bagus lainnya. “…Tidak ada
sesuatupun yang serupa dengan
Dia…” [Asy Syuura:11]
5. Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri
dengan sendirinya) Allah itu
Qiyamuhi Binafsihi (Berdiri dengan
sendirinya). Mustahil Allah itu
Iftiqoorullah (Berhajat/butuh) pada
makhluknya. “.. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu) dari semesta
alam.” [Al ‘Ankabuut:6]
6. Wahdaaniyah (Esa)
Allah itu Wahdaaniyah (Esa/Satu).
Mustahil Allah itu banyak (Ta’addud)
seperti 2, 3, 4, dan seterusnya.
Allah itu Maha Kuasa. Jika ada
sekutuNya, maka Dia bukan yang
Maha Kuasa lagi. Jika satu Tuhan
Maha Pencipta, maka Tuhan yang
lain kekuasaannya terbatas karena
bukan Maha Pencipta.
”Allah sekali-kali tidak mempunyai
anak, dan sekali-kali tidak ada
tuhan yang lain beserta-Nya. Kalau
ada tuhan beserta-Nya, masing-
masing tuhan itu akan membawa
makhluk yang diciptakannya, dan
sebagian dari tuhan-tuhan itu akan
mengalahkan sebagian yang lain.
Maha Suci Allah dari apa yang
mereka sifatkan itu” [Al
Mu’minuun:91]
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang
Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala
sesuatu. Dia tidak beranak dan
tidak diperanakkan, dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan
Dia.” [Al Ikhlas:1-4]
7. Qudrat (Kuasa)
Sifat Tuhan yang lain adalah Qudrat
atau Maha Kuasa. Tidak mungkin
Tuhan itu ‘Ajaz atau lemah. Jika
lemah tentu bisa dikalahkan oleh
manusia.
”Jika Dia kehendaki, niscaya Dia
musnahkan kamu dan mendatangkan
makhluk baru (untuk menggantikan
kamu). Dan yang demikian tidak sulit
bagi Allah.” [Fathiir:16-17]
8. Ilmu (Mengetahui)
Allah itu berilmu (Maha Mengetahui).
Mustahil Allah itu Jahal (Bodoh).
Allah Maha Mengetahui karena
Dialah yang menciptakan segala
sesuatu. Sedangkan manusia tahu
bukan karena menciptakan, tapi
sekedar melihat, mendengar, dan
mengamati. Itu pun terbatas
pengetahuannya sehingga manusia
tetap saja tidak mampu menciptakan
meski hanya seekor lalat.
“Dan Allah memiliki kunci semua
yang ghaib; tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia
mengetahui apa yang di daratan
dan di lautan, dan tiada sehelai
daun pun yang gugur melainkan Dia
mengetahuinya, dan tidak jatuh
sebutir biji-pun dalam kegelapan
bumi, dan tidak sesuatu basah atau
kering, melainkan tertulis dalam
kitab yang nyata (Lauh
Mahfudz)” [Al An’aam:59]
9. Hayaat (Hidup)
Allah itu Hayaat (Maha Hidup). Tidak
mungkin Tuhan itu Maut (Mati). Jika
Tuhan mati, maka bubarlah dunia
ini. Tidak patut lagi dia disembah.
Maha Suci Allah dari kematian/
wafat.
“Dan bertawakkallah kepada Allah
yang hidup kekal Yang tidak
mati…” [Al Furqaan:58]
10. Sama’ (Mendengar)
Allah bersifat Sama’ (Maha
Mendengar). Mustahil Tuhan bersifat
Shomam (Tuli).
Allah Maha Mendengar. Mustahil
Allah tuli.
“… Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” [Al Baqarah:256]
11. Bashor (Melihat)
Allah bersifat Melihat. Mustahil Allah
itu ‘Amaa (Buta).
“Sesungguhnya Allah mengetahui
apa yang ghaib di langit dan bumi.
Dan Allah Maha Melihat apa yang
kamu kerjakan.” [Al Hujuraat:18]
2. Iman kepada malaikat
Allah
Malaikat (Bahasa Arab: ﻣﻼﺀﻛﺔ )(baca:
malaa-ikah) adalah makhluk yang
memiliki kekuatan-kekuatan yang
patuh pada ketentuan dan perintah
Allah.
Menurut bahasa, kata “Malaikat”
merupakan kata jamak yang berasal
dari Arab malak ( ﻣﻠﻚ) yang berarti
kekuatan, yang berasal dari kata
mashdar “al-alukah” yang berarti
risalah atau misi, kemudian sang
pembawa misi biasanya disebut
dengan Ar-Rasul.
Malaikat diciptakan oleh Allah
terbuat dari cahaya (nuur),
berdasarkan salah satu hadist
Muhammad, “Malaikat telah
diciptakan dari cahaya.”
Iman kepada malaikat adalah bagian
dari Rukun Iman. Iman kepada
malaikat maksudnya adalah meyakini
adanya malaikat, walaupun kita
tidak dapat melihat mereka, dan
bahwa mereka adalah salah satu
makhluk ciptaan Allah. Allah
menciptakan mereka dari cahaya.
Mereka menyembah Allah dan selalu
taat kepada-Nya, mereka tidak
pernah berdosa. Tak seorang pun
mengetahui jumlah pasti malaikat,
hanya Allah saja yang mengetahui
jumlahnya.
Walaupun manusia tidak dapat
melihat malaikat tetapi jika Allah
berkehendak maka malaikat dapat
dilihat oleh manusia, yang biasanya
terjadi pada para Nabi dan Rasul.
Malaikat selalu menampakan diri
dalam wujud laki-laki kepada para
nabi dan rasul. Seperti terjadi
kepada Nabi Ibrahim.
Di antara para malaikat yang wajib
setiap orang Islam ketahui sebagai
salah satu Rukun Iman, berdasarkan
Al Qur'an dan hadits. Nama
(panggilan) berserta tugas-tugas
mereka adalah sebagai berikut:
· Jibril - Pemimpin para
malaikat, bertugas
menyampaikan wahyu dan
mengajarkannya kepada
para nabi dan rasul.
· Mikail - Membagi rezeki
kepada seluruh makhluk.
· Israfil - Meniup
sangkakala (terompet) pada
hari kiamat.
· Munkar dan Nakir -
Memeriksa amal manusia di
alam barzakh.
· Raqib dan 'Atid -
MEncatat amal manusia di
dunia
· Izrail - Mencabut nyawa
seluruh makhluk.
· Ridwan - Menjaga pintu
syurga.
· Malik - Pemimpin
Malaikat Zabaniah dan
penjaga neraka.
· Zabaniah - 19 malaikat
penyiksa dalam neraka
yang bengis dan kasar.
· Hamalat al 'Arsy - Empat
malaikat pembawa 'Arsy
Allah, pada hari kiamat
jumlahnya akan ditambah
empat menjadi delapan.
· Harut dan Marut - Dua
Malaikat yang turun di
negeri Babil.
· Darda'il - Malaikat yang
mencari orang yang
berdo'a, bertaubat, minta
ampun dan lainnya pada
bulan Ramadhan.
· Hafazhah (Para Penjaga):
o Kiraman Katibin
- Para malaikat
pencatat yang
mulia, ditugaskan
mencatat amal
manusia.
o Mu’aqqibat -
Para malaikat
yang selalu
memelihara/
menjaga manusia
dari kematian
sampai waktu yang
telah ditetapkan
yang datang silih
berganti.
· Arham - Malaikat yang
diperintahkan untuk
menetapkan rejeki,
keberuntungan, ajal dan
lainnya pada 4 bulan
kehamilan.
· Jundallah - Para
malaikat perang yang
bertugas membantu nabi
dalam peperangan.
· Ad-Dam'u - Malaikat
yang selalu menangis jika
melihat kesalahan manusia.
· An-Nuqmah - Malaikat
yang selalu berurusan
dengan unsur api dan
duduk disinggasana berupa
nayala api, ia memiliki
wajah kuning tembaga.
· Ahlul Adli - Malaikat
besar yang melebihi
besarnya bumi besera
isinya dikatakan ia memiliki
70 ribu kepala.
· Ar-Ra'd - Malaikat
pengatur awan dan hujan.
· Malaikat Berbadan Api
dan Salju - Malaikat yang
setengah badannya berupa
api dan salju berukuran
besar serta dikelilingi oleh
sepasukan malaikat yang
tidak pernah berhenti
berzikir. [16]
· Penjaga Matahari -
Sembilan Malaikat yang
menghujani matahari
dengan salju
· Malaikat Rahmat -
Penyebar keberkahan,
rahmat, permohonan ampun
dan pembawa roh orang-
orang shaleh, ia datang
bersama dengan Malaikat
Maut dan Malaikat `Adzab.
· Malaikat `Adzab -
Pembawa roh orang-orang
kafir, zalim, munafik, ia
datang bersama dengan
Malaikat Maut dan Malaikat
Rahmat.
· Pembeda Haq dan Bathil
- Para malaikat yang
ditugaskan untuk
membedakan antara yang
benar dan salah kepada
manusia dan jin.
· Penentram Hati - Para
malaikat yang mendoakan
seorang mukmin untuk
meneguhkan pendirian sang
mukmin tersebut.
· Penjaga 7 Pintu Langit -
7 malaikat yang menjaga 7
pintu langit. Mereka
diciptakan oleh Allah
sebelum Dia menciptakan
langit dan bumi.
· Pemberi Salam Ahli Surga
- Para malaikat yang
memberikan salam kepada
para penghuni surga.
· Pemohon Ampunan Orang
Beriman - Para malaikat
yang terdapat disekeliling
'Arsy yang memohonkan
ampunan bagi kaum yang
beriman.
· Pemohon Ampunan
Manusia di Bumi - Para
malaikat yang bertasbih
memuji Allah dan
memohonkan ampun bagi
orang-orang yang ada di
bumi.
Nama Malaikat Maut dikatakan Izrail,
tidak ditemukan sumbernya baik
dalam Al Quran maupun Hadits.
Kemungkinan nama malaikat Izrail
didapat dari sumber Israiliyat. Dalam
Al Qur'an dia hanya disebut Malak
al-Maut atau Malaikat Maut.
Malaikat Jibril, walau namanya
hanya disebut dua kali dalam Al
Qur'an, ia juga disebut di banyak
tempat dalam Al Qur'an dengan
sebutan lain seperti Ruh al-Qudus,
Ruh al-Amin/ Ar-Ruh Al-Amin dan
lainnya.
Dari nama-nama malaikat di atas
ada beberapa yang disebut
namanya secara spesifik didalam Al
Qur'an, yaitu Jibril (QS 2 Al
Baqarah: 97,98 dan QS 66 At Tahrim:
4), Mikail (QS 2 Al Baqarah: 98) dan
Malik (QS Al Hujurat) dan lain-lain.
Sedangkan Israfil, Munkar dan Nakir
disebut dalam Hadits.
Wujud para malaikat telah
dijabarkan didalam Al Qur'an ada
yang memiliki sayap sebanyak 2, 3
dan 4. surah Faathir 35:1 yang
berbunyi:
“ Segala puji bagi
Allah Pencipta
langit dan bumi,
Yang menjadikan
malaikat sebagai
utusan-utusan
(untuk mengurus
berbagai macam
urusan) yang
mempunyai sayap,
masing-masing
(ada yang) dua,
tiga dan empat.
Allah
menambahkan
pada ciptaan-Nya
apa yang
dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya
Allah Maha Kuasa
atas segala
sesuatu. (Faathir
35:1) ”
Kemudian dalam beberapa hadits
dikatakan bahwa Jibril memiliki 600
sayap, Israfil memiliki 1200 sayap,
dimana satu sayapnya menyamai
600 sayap Jibril dan yang terakhir
dikatakan bahwa Hamalat al-'Arsy
memiliki 2400 sayap dimana satu
sayapnya menyamai 1200 sayap
Israfil.
Wujud malaikat mustahil dapat
dilihat dengan mata telanjang,
karena mata manusia tercipta dari
unsur dasar tanah liat kering dari
lumpur hitam yang diberi bentuk[27]
tidak akan mampu melihat wujud
dari malaikat yang asalnya terdiri
dari cahaya, hanya Nabi Muhammad
SAW yang mampu melihat wujud asli
malaikat bahkan sampai dua kali.
Yaitu wujud asli malikat Jibril .
Mereka tidak bertambah tua
ataupun bertambah muda, keadaan
mereka sekarang sama persis ketika
mereka diciptakan. Dalam ajaran
Islam, ibadah manusia dan jin lebih
disukai oleh Allah dibandingkan
ibadah para malaikat, karena
manusia dan jin bisa menentukan
pilihannya sendiri berbeda dengan
malaikat yang tidak memiliki pilihan
lain. Malaikat mengemban tugas-
tugas tertentu dalam mengelola alam
semesta. Mereka dapat melintasi
alam semesta secepat kilat atau
bahkan lebih cepat lagi. Mereka
tidak berjenis lelaki atau perempuan
dan tidak berkeluarga.
Sifat-sifat malaikat yang diyakini
oleh umat Islam adalah sebagai
berikut:
1. Selalu bertasbih siang
dan malam tidak pernah
berhenti.
2. Suci dari sifat-sifat
manusia dan jin, seperti
hawa nafsu, lapar, sakit,
makan, tidur, bercanda,
berdebat, dan lainnya.
3. Selalu takut dan taat
kepada Allah.
4. Tidak pernah maksiat
dan selalu mengamalkan
apa saja yang
diperintahkan-Nya.
5. Mempunyai sifat malu.
6. Bisa terganggu dengan
bau tidak sedap, anjing dan
patung.
7. Tidak makan dan minum.
8. Mampu merubah
wujudnya.
9. Memiliki kekuatan dan
kecepatan cahaya.
Malaikat tidak pernah lelah dalam
melaksanakan apa-apa yang
diperintahkan kepada mereka.
Sebagai makhluk ghaib, wujud
Malaikat tidak dapat dilihat,
didengar, diraba, dicium dan
dirasakan oleh manusia, dengan kata
lain tidak dapat dijangkau oleh
panca indera, kecuali jika malaikat
menampakkan diri dalam rupa
tertentu, seperti rupa manusia. Ada
pengecualian terhadap kisah
Muhammad yang pernah bertemu
dengan Jibril dengan menampakkan
wujud aslinya, penampakkan yang
ditunjukkan kepada Muhammad ini
sebanyak 2 kali, yaitu pada saat
menerima wahyu dan Isra dan Mi'raj.
Beberapa nabi dan rasul telah di
tampakkan wujud malaikat yang
berubah menjadi manusia, seperti
dalam kisah Ibrahim, Luth, Maryam,
Muhammad dan lainnya.
Berbeda dengan ajaran Kristen dan
Yahudi, Islam tidak mengenal istilah
"Malaikat Yang Terjatuh" (Fallen
Angel). Azazil yang kemudian
mendapatkan julukan Iblis, adalah
nenek moyang Jin, seperti Adam
nenek moyang Manusia. Jin adalah
makhluk yang dicipta oleh Allah dari
'api yang tidak berasap', sedang
malaikat dicipta dari cahaya.
Menurut syariat Islam ada beberapa
tempat dimana para malaikat tidak
akan mendatangi tempat (rumah)
tersebut dan ada pendapat lain
yang mengatakan adanya
pengecualian terhadap malaikat-
malaikat tertentu yang tetap akan
mengunjungi tempat-tempat
tersebut. Pendapat ini telah
disampaikan oleh Ibnu Wadhdhah,
Imam Al-Khaththabi, dan yang
lainnya. Tempat atau rumah yang
tidak dimasuki oleh malaikat itu
diantara lain adalah:
1. Tempat yang didalamnya
terdapat anjing, (kecuali
anjing untuk kepentingan
penjagaan keamanan,
pertanian dan berburu);
2. Tempat yang terdapat
patung (gambar);
3. Tempat yang didalamnya
ada seseorang muslim yang
mengancungkan dengan
senjata terhadap
saudaranya sesama muslim;
4. Tempat yang memiliki
bau tidak sedap atau
menyengat.
Kesemuanya itu berdasarkan dalil
dari hadits shahih yang dicatatat
oleh para Imam, diantaranya adalah
Ahmad, Hambali, Bukhari, Tirmidzy,
Muslim dan lainnya. Tidak sedikit
nash hadits yang menyatakan bahwa
malaikat rahmat tidak akan
memasuki rumah yang di dalamnya
terdapat anjing dan pahala pemilik
anjing akan susut atau berkurang.
Malaikat Jibril pun enggan untuk
masuk ke rumah Muhammad sewaktu
ia berjanji ingin datang ke
rumahnya, dikarenakan ada seekor
anak anjing di bawah tempat tidur.
Malaikat Rahmat pun tidak akan
mendampingi suatu kaum yang
terdiri atas orang-orang yang
berteman dengan (memelihara)
anjing.
3. Iman kepada Kitab
Allāh (Al-Qur'an, Injil,
Taurat, Zabur dan suhuf)
Al-Qur’ān (ejaan KBBI: Alquran,
Arab: ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ) adalah kitab suci agama
Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-
Qur'an merupakan puncak dan
penutup wahyu Allah yang
diperuntukkan bagi manusia, dan
bagian dari rukun iman, yang
disampaikan kepada Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melalui
perantaraan Malaikat Jibril. Dan
sebagai wahyu pertama yang
diterima oleh Rasulullah SAW adalah
sebagaimana yang terdapat dalam
surat Al-'Alaq ayat 1-5 [1] .
Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-
Qur’an berasal dari bahasa Arab
yang berarti "bacaan" atau "sesuatu
yang dibaca berulang-ulang". Kata
Al-Qur’an adalah bentuk kata benda
(masdar) dari kata kerja qara'a yang
artinya membaca. Konsep pemakaian
kata ini dapat juga dijumpai pada
salah satu surat Al-Qur'an sendiri
yakni pada ayat 17 dan 18 Surah
Al-Qiyamah yang artinya:
“Sesungguhnya
mengumpulkan Al-Qur’an
(di dalam dadamu) dan
(menetapkan) bacaannya
(pada lidahmu) itu adalah
tanggungan Kami. (Karena
itu,) jika Kami telah
membacakannya, hendaklah
kamu ikuti {amalkan}
bacaannya”.(75:17-
Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan
Al-Qur'an sebagai berikut:
“Kalam Allah SWT yang merupakan
mukjizat yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW dan ditulis di
mushaf serta diriwayatkan dengan
mutawatir, membacanya termasuk
ibadah”.
Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni
mendefinisikan Al-Qur'an sebagai
berikut:
"Al-Qur'an adalah firman Allah yang
tiada tandingannya, diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW
penutup para Nabi dan Rasul,
dengan perantaraan Malaikat Jibril
a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf
yang kemudian disampaikan kepada
kita secara mutawatir, serta
membaca dan mempelajarinya
merupakan ibadah, yang dimulai
dengan surat Al-Fatihah dan
ditutup dengan surat An-Nas"
Dengan definisi tersebut di atas
sebagaimana dipercayai Muslim,
firman Allah yang diturunkan kepada
Nabi selain Nabi Muhammad SAW,
tidak dinamakan Al-Qur’an seperti
Kitab Taurat yang diturunkan
kepada umat Nabi Musa AS atau
Kitab Injil yang diturunkan kepada
umat Nabi Isa AS. Demikian pula
firman Allah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW yang
membacanya tidak dianggap sebagai
ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak
termasuk Al-Qur’an.
Kemurnian Kitab Al-Quran ini
dijamin langsung oleh Allah, yaitu
Dzat yang menciptakan dan
menurunkan Al-Quran itu sendiri.
Dan pada kenyataannya kita bisa
melihat, satu-satu kitab yang mudah
dipelajari bahkan sampai dihafal
oleh beribu-ribu umat Islam.
Dalam Al-Qur'an sendiri terdapat
beberapa ayat yang menyertakan
nama lain yang digunakan untuk
merujuk kepada Al-Qur'an itu
sendiri. Berikut adalah nama-nama
tersebut dan ayat yang
mencantumkannya:
· Al-Kitab, QS
(2:2),QS (44:2)
· Al-Furqan
(pembeda benar
salah): QS(25:1)
· Adz-Dzikr
(pemberi
peringatan): QS
(15:9)
· Al-Mau'idhah
(pelajaran/
nasehat): QS
(10:57)
· Al-Hukm
(peraturan/
hukum): QS
(13:37)
· Al-Hikmah
(kebijaksanaan):
QS(17:39)
· Asy-
Syifa' (obat/
penyembuh): QS
(10:57), QS
(17:82)
· Al-Huda
(petunjuk): QS
(72:13), QS
(9:33)
· At-Tanzil
(yang
diturunkan): QS
(26:192)
· Ar-Rahmat
(karunia): QS
(27:77)
· Ar-Ruh
(ruh): QS
(42:52)
· Al-Bayan
(penerang): QS
(3:138)
· Al-Kalam
(ucapan/
firman): QS
(9:6)
· Al-Busyra
(kabar
gembira): QS
(16:102)
· An-Nur
(cahaya): QS
(4:174)
· Al-Basha'ir
(pedoman): QS
(45:20)
· Al-Balagh
(penyampaian/
kabar) QS
(14:52)
· Al-Qaul
(perkataan/
ucapan) QS
(28:51)
Al-Qur'an terdiri atas 114 bagian
yang dikenal dengan nama surah
(surat). Setiap surat akan terdiri
atas beberapa ayat, di mana surat
terpanjang dengan 286 ayat adalah
surat Al Baqarah dan yang
terpendek hanya memiliki 3 ayat
yakni surat Al Kautsar, An-Nasr dan
Al-‘Așr. Surat-surat yang panjang
terbagi lagi atas sub bagian lagi
yang disebut ruku' yang membahas
tema atau topik tertentu.
Sedangkan menurut tempat
diturunkannya, setiap surat dapat
dibagi atas surat-surat Makkiyah
(surat Mekkah) dan Madaniyah
(surat Madinah). Pembagian ini
berdasarkan tempat dan waktu
penurunan surat dan ayat tertentu
di mana surat-surat yang turun
sebelum Rasulullah SAW hijrah ke
Madinah digolongkan surat Makkiyah
sedangkan setelahnya tergolong
surat Madaniyah.
Surat yang turun di Makkah pada
umumnya suratnya pendek-pendek,
menyangkut prinsip-prinsip
keimanan dan akhlaq, panggilannya
ditujukan kepada manusia.
Sedangkan yang turun di Madinah
pada umumnya suratnya panjang-
panjang, menyangkut peraturan-
peraturan yang mengatur hubungan
seseorang dengan Tuhan atau
seseorang dengan lainnya (syari'ah).
Pembagian berdasar fase sebelum
dan sesudah hijrah ini lebih tepat,
sebab ada surat Madaniyah yang
turun di Mekkah. [rujukan?]
Dalam skema pembagian lain, Al-
Qur'an juga terbagi menjadi 30
bagian dengan panjang sama yang
dikenal dengan nama juz.
Pembagian ini untuk memudahkan
mereka yang ingin menuntaskan
bacaan Al-Qur'an dalam 30 hari
(satu bulan). Pembagian lain yakni
manzil memecah Al-Qur'an menjadi 7
bagian dengan tujuan penyelesaian
bacaan dalam 7 hari (satu minggu).
Kedua jenis pembagian ini tidak
memiliki hubungan dengan
pembagian subyek bahasan tertentu.
Kemudian dari segi panjang-
pendeknya, surat-surat yang ada
didalam Al-Qur’an terbagi menjadi
empat bagian, yaitu:
· As Sab’uththiwaal (tujuh
surat yang panjang). Yaitu
Surat Al-Baqarah, Ali
Imran, An-Nisaa’, Al-
A’raaf, Al-An’aam, Al Maa-
idah dan Yunus
· Al Miuun (seratus ayat
lebih), seperti Hud, Yusuf,
Mu'min dan sebagainya
· Al Matsaani (kurang
sedikit dari seratus ayat),
seperti Al-Anfaal, Al-Hijr
dan sebagainya
· Al Mufashshal (surat-
surat pendek), seperti Adh-
Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq,
An-Nas dan sebagainya
Al-Qur'an memberikan dorongan
yang besar untuk mempelajari
sejarah dengan secara adil, objektif
dan tidak memihak [2] . Dengan
demikian tradisi sains Islam
sepenuhnya mengambil inspirasi dari
Al-Qur'an, sehingga umat Muslim
mampu membuat sistematika
penulisan sejarah yang lebih
mendekati landasan penanggalan
astronomis.
Al-Qur'an tidak turun sekaligus. Al-
Qur'an turun secara berangsur-
angsur selama 22 tahun 2 bulan 22
hari. Oleh para ulama membagi masa
turun ini dibagi menjadi 2 periode,
yaitu periode Mekkah dan periode
Madinah. Periode Mekkah
berlangsung selama 12 tahun masa
kenabian Rasulullah SAW dan surat-
surat yang turun pada waktu ini
tergolong surat Makkiyyah.
Sedangkan periode Madinah yang
dimulai sejak peristiwa hijrah
berlangsung selama 10 tahun dan
surat yang turun pada kurun waktu
ini disebut surat Madaniyah.
Penulisan (pencatatan dalam bentuk
teks) Al-Qur'an sudah dimulai sejak
zaman Nabi Muhammad SAW.
Kemudian transformasinya menjadi
teks yang dijumpai saat ini selesai
dilakukan pada zaman khalifah
Utsman bin Affan.
Pada masa ketika Nabi Muhammad
SAW masih hidup, terdapat beberapa
orang yang ditunjuk untuk
menuliskan Al Qur'an yakni Zaid bin
Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah
bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab.
Sahabat yang lain juga kerap
menuliskan wahyu tersebut walau
tidak diperintahkan. Media penulisan
yang digunakan saat itu berupa
pelepah kurma, lempengan batu,
daun lontar, kulit atau daun kayu,
pelana, potongan tulang belulang
binatang. Di samping itu banyak
juga sahabat-sahabat langsung
menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an
setelah wahyu diturunkan.
Pada masa pemerintahan Abu
Bakar
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar,
terjadi beberapa pertempuran
(dalam perang yang dikenal dengan
nama perang Ridda) yang
mengakibatkan tewasnya beberapa
penghafal Al-Qur'an dalam jumlah
yang signifikan. Umar bin Khattab
yang saat itu merasa sangat
khawatir akan keadaan tersebut
lantas meminta kepada Abu Bakar
untuk mengumpulkan seluruh tulisan
Al-Qur'an yang saat itu tersebar di
antara para sahabat. Abu Bakar
lantas memerintahkan Zaid bin
Tsabit sebagai koordinator pelaksaan
tugas tersebut. Setelah pekerjaan
tersebut selesai dan Al-Qur'an
tersusun secara rapi dalam satu
mushaf, hasilnya diserahkan kepada
Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan
mushaf tersebut hingga wafatnya
kemudian mushaf tersebut berpindah
kepada Umar sebagai khalifah
penerusnya, selanjutnya mushaf
dipegang oleh anaknya yakni Hafsah
yang juga istri Nabi Muhammad SAW.
Pada masa pemerintahan
Utsman bin Affan
Pada masa pemerintahan khalifah
ke-3 yakni Utsman bin Affan,
terdapat keragaman dalam cara
pembacaan Al-Qur'an (qira'at) yang
disebabkan oleh adanya perbedaan
dialek (lahjah) antar suku yang
berasal dari daerah berbeda-beda.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran
Utsman sehingga ia mengambil
kebijakan untuk membuat sebuah
mushaf standar (menyalin mushaf
yang dipegang Hafsah) yang ditulis
dengan sebuah jenis penulisan yang
baku. Standar tersebut, yang
kemudian dikenal dengan istilah cara
penulisan (rasam) Utsmani yang
digunakan hingga saat ini.
Bersamaan dengan standarisasi ini,
seluruh mushaf yang berbeda
dengan standar yang dihasilkan
diperintahkan untuk dimusnahkan
(dibakar). Dengan proses ini Utsman
berhasil mencegah bahaya laten
terjadinya perselisihan di antara
umat Islam di masa depan dalam
penulisan dan pembacaan Al-Qur'an.
Mengutip hadist riwayat Ibnu Abi
Dawud dalam Al-Mashahif, dengan
sanad yang shahih:
Suwaid bin Ghaflah berkata,
"Ali mengatakan: Katakanlah
segala yang baik tentang
Utsman. Demi Allah, apa
yang telah dilakukannya
mengenai mushaf-mushaf Al
Qur'an sudah atas
persetujuan kami. Utsman
berkata, 'Bagaimana
pendapatmu tentang isu
qira'at ini? Saya mendapat
berita bahwa sebagian
mereka mengatakan bahwa
qira'atnya lebih baik dari
qira'at orang lain. Ini
hampir menjadi suatu
kekufuran'. Kami berkata,
'Bagaimana pendapatmu?'
Ia menjawab, 'Aku
berpendapat agar umat
bersatu pada satu mushaf,
sehingga tidak terjadi lagi
perpecahan dan
perselisihan.' Kami berkata,
'Pendapatmu sangat baik'."
Menurut Syaikh Manna' Al-Qaththan
dalam Mahabits fi 'Ulum Al Qur'an,
keterangan ini menunjukkan bahwa
apa yang dilakukan Utsman telah
disepakati oleh para sahabat.
Demikianlah selanjutnya Utsman
mengirim utusan kepada Hafsah
untuk meminjam mushaf Abu Bakar
yang ada padanya. Lalu Utsman
memanggil Zaid bin Tsabit Al-
Anshari dan tiga orang Quraish,
yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said
bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-
Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan
mereka agar menyalin dan
memperbanyak mushaf, dan jika ada
perbedaan antara Zaid dengan
ketiga orang Quraish tersebut,
hendaklah ditulis dalam bahasa
Quraish karena Al Qur'an turun
dalam dialek bahasa mereka. Setelah
mengembalikan lembaran-lembaran
asli kepada Hafsah, ia mengirimkan
tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah,
Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah,
Kufah, dan sebuah ditahan di
Madinah (mushaf al-Imam).
Upaya-upaya untuk mengetahui isi
dan maksud Al Qur'an telah
menghasilkan proses penerjemahan
(literal) dan penafsiran (lebih dalam,
mengupas makna) dalam berbagai
bahasa. Namun demikian hasil usaha
tersebut dianggap sebatas usaha
manusia dan bukan usaha untuk
menduplikasi atau menggantikan teks
yang asli dalam bahasa Arab.
Kedudukan terjemahan dan tafsir
yang dihasilkan tidak sama dengan
Al-Qur'an itu sendiri.
Terjemahan Al-Qur'an adalah hasil
usaha penerjemahan secara literal
teks Al-Qur'an yang tidak dibarengi
dengan usaha interpretasi lebih
jauh. Terjemahan secara literal tidak
boleh dianggap sebagai arti
sesungguhnya dari Al-Qur'an. Sebab
Al-Qur'an menggunakan suatu lafazh
dengan berbagai gaya dan untuk
suatu maksud yang bervariasi;
kadang-kadang untuk arti hakiki,
kadang-kadang pula untuk arti
majazi (kiasan) atau arti dan maksud
lainnya.
Terjemahan dalam
bahasa Indonesia di
antaranya dilaksanakan
oleh:
1. Al-Qur'an
dan
Terjemahannya,
oleh
Departemen
Agama Republik
Indonesia, ada
dua edisi
revisi, yaitu
tahun 1989
dan 2002
2. Terjemah
Al-Qur'an, oleh
Prof. Mahmud
Yunus
3. An-Nur, oleh
Prof. T.M.
Hasbi Ash-
Siddieqy
4. Al-Furqan,
oleh A.Hassan
guru PERSIS
Terjemahan dalam
bahasa Inggris
1. The Holy
Qur'an: Text,
Translation and
Commentary,
oleh Abdullah
Yusuf Ali
2. The Meaning
of the Holy
Qur'an, oleh
Marmaduke
Pickthall
Terjemahan dalam
bahasa daerah
Indonesia di
antaranya
dilaksanakan oleh:
1. Qur'an
Kejawen
(bahasa
Jawa), oleh
Kemajuan
Islam
Jogyakarta
2. Qur'an
Suadawiah
(bahasa
Sunda)
3. Qur'an
bahasa
Sunda oleh
K.H.
Qomaruddien
4. Al-Ibriz
(bahasa
Jawa), oleh
K. Bisyri
Mustafa
Rembang
5. Al-Qur'an
Suci Basa
Jawi (bahasa
Jawa), oleh
Prof. K.H.R.
Muhamad
Adnan
6. Al-Amin
(bahasa
Sunda)
Upaya penafsiran Al-Qur'an telah
berkembang sejak semasa hidupnya
Nabi Muhammad, saat itu para
sahabat tinggal menanyakan kepada
sang Nabi jika memerlukan
penjelasan atas ayat tertentu.
Kemudian setelah wafatnya Nabi
Muhammad hingga saat ini usaha
menggali lebih dalam ayat-ayat Al-
Qur'an terus berlanjut. Pendekatan
(metodologi) yang digunakan juga
beragam, mulai dari metode analitik,
tematik, hingga perbandingan antar
ayat. Corak yang dihasilkan juga
beragam, terdapat tafsir dengan
corak sastra-bahasa, sastra-budaya,
filsafat dan teologis bahkan corak
ilmiah.
Ada dua pendapat mengenai hukum
menyentuh Al-Qur'an terhadap
seseorang yang sedang junub,
perempuan haid dan nifas. Pendapat
pertama mengatakan bahwa jika
seseorang sedang mengalami kondisi
tersebut tidak boleh menyentuh Al-
Qur'an sebelum bersuci. Sedangkan
pendapat kedua mengatakan boleh
dan sah saja untuk menyentuh Al-
Qur'an, karena tidak ada dalil yang
menguatkannya.[3]
Sebelum menyentuh sebuah mushaf
Al-Qur'an, seorang Muslim dianjurkan
untuk menyucikan dirinya terlebih
dahulu dengan berwudhu. Hal ini
berdasarkan tradisi dan interpretasi
secara literal dari surat Al Waaqi'ah
ayat 77 hingga 79.
Terjemahannya antara
lain:56-77. Sesungguhnya
Al-Qur'an ini adalah
bacaan yang sangat mulia,
56-78. pada kitab yang
terpelihara (Lauhul
Mahfuzh), 56-79. tidak
menyentuhnya kecuali
orang-orang yang
disucikan. (56:77-56:79)
Penghormatan terhadap teks tertulis
Al-Qur'an adalah salah satu unsur
penting kepercayaan bagi sebagian
besar Muslim. Mereka memercayai
bahwa penghinaan secara sengaja
terhadap Al Qur'an adalah sebuah
bentuk penghinaan serius terhadap
sesuatu yang suci. Berdasarkan
hukum pada beberapa negara
berpenduduk mayoritas Muslim,
hukuman untuk hal ini dapat berupa
penjara kurungan dalam waktu yang
lama dan bahkan ada yang
menerapkan hukuman mati.
Pendapat kedua mengatakan bahwa
yang dimaksud oleh surat Al
Waaqi'ah di atas ialah: "Tidak ada
yang dapat menyentuh Al-Qur’an
yang ada di Lauhul Mahfudz
sebagaimana ditegaskan oleh ayat
yang sebelumnya (ayat 78) kecuali
para Malaikat yang telah disucikan
oleh Allah." Pendapat ini adalah
tafsir dari Ibnu Abbas dan lain-lain
sebagaimana telah diterangkan oleh
Al-Hafidzh Ibnu Katsir di tafsirnya.
Bukanlah yang dimaksud bahwa tidak
boleh menyentuh atau memegang
Al-Qur’an kecuali orang yang bersih
dari hadats besar dan hadats kecil.
Pendapat kedua ini menyatakan
bahwa jikalau memang benar
demikian maksudnya tentang firman
Allah di atas, maka artinya akan
menjadi: Tidak ada yang menyentuh
Al-Qur’an kecuali mereka yang suci/
bersih, yakni dengan bentuk faa’il
(subyek/pelaku) bukan maf’ul
(obyek). Kenyataannya Allah
berfirman : Tidak ada yang
menyentuhnya (Al-Qur’an) kecuali
mereka yang telah disucikan, yakni
dengan bentuk maf’ul (obyek) bukan
sebagai faa’il (subyek).
“Tidak ada yang menyentuh Al-
Qur’an kecuali orang yang suci”
[4] Yang dimaksud oleh hadits di atas
ialah : Tidak ada yang menyentuh
Al-Qur’an kecuali orang mu’min,
karena orang mu’min itu suci tidak
najis sebagaimana sabda Muhammad.
“Sesungguhnya orang mu’min itu
tidak najis” [5]
Berkaitan dengan adanya kitab-
kitab yang dipercayai diturunkan
kepada nabi-nabi sebelum
Muhammad SAW dalam agama Islam
(Taurat, Zabur, Injil, lembaran
Ibrahim), Al-Qur'an dalam beberapa
ayatnya menegaskan posisinya
terhadap kitab-kitab tersebut.
Berikut adalah pernyataan Al-Qur'an
yang tentunya menjadi doktrin bagi
ummat Islam mengenai hubungan Al-
Qur'an dengan kitab-kitab tersebut:
· Bahwa Al-Qur'an
menuntut kepercayaan
ummat Islam terhadap
eksistensi kitab-kitab
tersebut. QS(2:4)
· Bahwa Al-Qur'an
diposisikan sebagai
pembenar dan batu ujian
(verifikator) bagi kitab-
kitab sebelumnya. QS(5:48)
· Bahwa Al-Qur'an menjadi
referensi untuk
menghilangkan perselisihan
pendapat antara ummat-
ummat rasul yang berbeda.
QS(16:63-64)
· Bahwa Al-Qur'an
meluruskan sejarah. Dalam
Al-Qur'an terdapat cerita-
cerita mengenai kaum dari
rasul-rasul terdahulu, juga
mengenai beberapa bagian
mengenai kehidupan para
rasul tersebut. Cerita
tersebut pada beberapa
aspek penting berbeda
dengan versi yang terdapat
pada teks-teks lain yang
dimiliki baik oleh Yahudi
dan Kristen.
4. Iman kepada nabi
dan rasul Allah
Nabi (Arab: ﻧﺒﻲ) dalam agama Islam
adalah laki-laki yang diberi oleh
Allah wahyu dan tidak wajib di
sampaikan kepada umatnya.
Dikatakan bahwa, jumlah nabi ada
124 ribu orang, [1] sebagaimana
disebutkan di dalam hadits
Muhammad.
Kata "nabi" berasal dari kata naba
yang berarti "dari tempat yang
tinggi"; karena itu orang 'yang di
tempat tinggi' semestinya punya
penglihatan ke tempat yang jauh
(prediksi masa depan) yang disebut
nubuwwah.
Rasul adalah laki-laki yang
diperintahkan Allah untuk
menyampaikan wahyu kepada
kaumnya pada zamannya. Percaya
kepada para nabi dan para rasul
merupakan Rukun Iman yang
keempat dalam Islam.
Para Nabi boleh menyampaikan
wahyu yang diterimanya tetapi tidak
punya kewajiban atas umat tertentu
atau wilayah tertentu. Sementara,
kata "rasul" berasal dari kata risala
yang berarti penyampaian. Karena
itu, para rasul, setelah lebih dulu
diangkat sebagai nabi, bertugas
menyampaikan wahyu dengan
kewajiban atas suatu umat atau
wilayah tertentu. Dari semua rasul,
Muhammad sebagai 'Nabi Penutup'
yang mendapat gelar resmi di dalam
Al-Qur'an Rasulullah adalah satu-
satunya yang kewajibannya meliputi
umat dan wilayah seluruh alam
semesta 'Rahmatan lil Alamin'.
Al-Qur'an menyebut beberapa orang
sebagai nabi. Nabi pertama adalah
Adam. Nabi sekaligus rasul terakhir
ialah Muhammad yang ditugaskan
untuk menyampaikan Islam dan
peraturan yang khusus kepada
manusia di zamannya sehingga hari
kiamat. Isa yang lahir dari perawan
Maryam binti Imran juga merupakan
seorang nabi.
Selain ke-25 nabi sekaligus rasul,
ada juga nabi lainnya seperti dalam
kisah Khidir bersama Musa yang
tertulis dalam Surah Al-Kahf ayat
66-82. Terdapat juga kisah Uzayr
dan Syamuil. Juga nabi-nabi yang
tertulis di Hadits dan Al-Qur'an,
seperti Yusya' bin Nun, Zulqarnain,
Iys, dan Syits.
Sedangkan orang suci yang masih
menjadi perdebatan sebagai seorang
Nabi atau hanya wali adalah Luqman
al-Hakim dalam Surah Luqman.
Dikatakan bahwa nabi dan rasul
memiliki beberapa kriteria yang
harus dipenuhi, diantaranya adalah:
· Dipilih dan diangkat oleh
Allah.
· Mendapat mandat
(wahyu) dari Allah.
· Bersifat cerdas.
· Dari umat Bani Adam
(Manusia).
· Nabi dan Rasul adalah
seorang pria.[2][3]
1. ^ Dari Abi Zar ra bahwa
Rasulullah SAW bersabda
ketika ditanya tentang
jumlah para nabi, "(Jumlah
para nabi itu) adalah
seratus dua puluh empat
ribu (124.000) nabi." "Lalu
berapa jumlah Rasul
diantara mereka?" Beliau
menjawab, "Tiga ratus dua
belas(312)" Hadits riwayat
At-Turmuzy.
2. ^ "Kami tiada mengutus
rasul rasul sebelum kamu
(Muhammad), melainkan
beberapa orang-laki-laki
yang Kami beri wahyu
kepada mereka, maka
tanyakanlah olehmu kepada
orang-orang yang berilmu,
jika kamu tiada
mengetahui." (Al anbiyya’
21:7)
3. ^ "Kaum laki-laki itu
adalah pemimpin bagi kaum
wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan
sebahagian mereka (laki-
laki) atas sebahagian yang
lain (wanita), dan karena
mereka (laki-laki) telah
menafkahkan sebagian dari
harta mereka..." (An Nisaa'
4:34)
5. Iman kepada hari
kiamat
Âkhirat (Arab: ﺍﻵﺧﺮﺓ , Âkhiroh)
dipakai untuk mengistilahkan
kehidupan alam baka (kekal) setelah
kematian/ sesudah dunia berakhir.
Pernyataan peristiwa alam akhirat
sering kali diucapkan secara
berulang-ulang pada beberapa ayat
didalam Al Qur'an sebanyak 115 kali,
[1] yang mengisahkan tentang Yawm
al-Qiyâmah dan akhirat juga bagian
penting dari eskatologi Islam.
Akhirat dianggap sebagai salah satu
dari rukun iman yaitu: Percaya Allah,
percaya adanya malaikat, percaya
akan kitab-kitab suci, percaya
adanya nabi dan rasul dan percaya
takdir dan ketetapan. Menurut
kepercayaan Islam, Allah akan
memainkan peranan, beratnya
perbuatan masing-masing individu.
Allah akan memutuskan apakah orang
tersebut di akhirat akan diletakkan
di Jahannam (neraka) atau Jannah
(surga). Kepercayaan ini telah
disebut sebelumnya sebagai Hari
Penghakiman dalam ajaran Islam.
Akhirat adalah dimensi fisik dan
hukum-hukum dunia nyata yang
terjadi setelah dunia fana berakhir.
Bagi mereka yang beragama samawi
meyakini bahwa kehidupan akhirat
sebagai tempat dimana segala
perbuatan seseorang didalam
kehidupan dunia ini akan dibalas.
Namun tidak sedikit juga orang yang
meragukan akan adanya kehidupan
akhirat (kehidupan setelah
kematian). Mereka-mereka yang
meyakini adanya kehidupan akhirat
ada yang menyatakan: 'Mudahnya
meyakini adanya kehidupan setelah
kematian sama mudahnya dengan
meyakini adanya hari esok setelah
hari ini, adanya nanti setelah
sekarang, adanya memetik setelah
menanam'. Dengan meyakini adanya
kehidupan akhirat setelah kehidupan
didunia ini akan menjaga seseorang
dari bertindak sesuka hatinya,
karena ia yakin segala hal yang ia
perbuat dalam kehidupannya
sekarang akan dituainya kemudian
di alam setelah kematian.
Asal kata âkhirah (ﺁﺧِﺮَﺓ ) adalah al-
âkhir (ﺍﻵﺧِﺮ) yang berarti lawan dari
al-awwal (ﺍﻷﻭَّﻝ ) atau “yang
terdahulu”. Kata itu juga berarti
“ujung dari sesuatu”, [2] yang
biasanya menunjuk pada jangka
waktu[3]
Penggunaan kata âkhirah di dalam
Al-Quran menunjuk pada pengertian
alam yang akan terjadi setelah
berakhirnya alam dunia. Dengan
kata lain, kata âkhirah merupakan
antonim dari kata dunia (misalnya, di
dalam Al-Baqarah 2:201 dan Al
‘Imran 3:152). Sejalan dengan
pengertian asli kata âkhirah, yang
merupakan lawan dari yang awal, Al-
Quran juga menggunakan kata al-
ûla ( ﺍﻷُﻭْﻟَﻰ = yang pertama) untuk
menunjuk pengertian dunia. [4][5][6]
Sebelum terjadi hari kehancuran,
bagi mereka yang telah mati akan
mengalami fase kehidupan akhirat
yang disebut alam barzakh
“ Dan pada hari
terjadinya kiamat,
bersumpahlah
orang-orang yang
berdosa; "mereka
tidak berdiam
(dalam kubur)
melainkan sesaat
(saja)". Seperti
demikianlah
mereka selalu
dipalingkan (dari
kebenaran), Dan
berkata orang-
orang yang diberi
ilmu pengetahuan
dan keimanan
(kepada orang-
orang yang kafir):
"Sesungguhnya
kamu telah
berdiam (dalam
kubur) menurut
ketetapan Allah,
sampai hari
berbangkit; maka
inilah hari
berbangkit itu
akan tetapi kamu
selalu tidak
meyakini
(nya)." (Ar-Rum
55-56) ”
Barzah berarti sesuatu yang terletak
diantara dua barang atau
penghalang. Pada masa itu ruh
manusia sudah menyadari akan
kebenaran janji-janji Allah
“ (Demikianlah
keadaan orang-
orang kafir itu),
hingga apabila
datang kematian
kepada seseorang
dari mereka, dia
berkata:" Ya
Tuhanku,
kembalikanlah aku
(ke dunia). Agar
aku berbuat amal
yang saleh
terhadap yang
telah aku
tinggalkan.
Sekali-kali tidak.
Sesungguhnya itu
adalah perkataan
yang
diucapkannya
saja. Dan di
hadapan mereka
ada dinding
sampai hari
mereka
dibangkitkan.(al-
Mu'minun 99-100) ”
Menurut syariat Islam, kepada
mereka yang jahat sudah
diperlihatkan kehidupan mereka
kelak setelah masa penghakiman
selesai di neraka dan selama itu pula
mereka akan mendapatkan siksa
kubur, dalam beberapa hadits
Muhammad menyebutkannya sebagai
"azab kubur."
Hari ketika mulut dikunci, dan semua
anggota badan memberikan
kesaksiannya kepada Allah SWT Yang
Maha Adil. Hari penimbangan amal
kebajikan dan kejahatan semasa
hidup di dunia.
Hadits yang diriwayatkan oleh Ali
bin Abi Thalib berkata:
"Sesungguhnya pada hari kiamat ada
lima puluh tempat perhentian
(stasiun), dan setiap stasiun lamanya
seribu tahun. Stasiun pertama
adalah saat manusia keluar dari
kuburnya, di sini mereka ditahan
selama seribu tahun dalam keadaan
hina, lapar dan haus. Barangsiapa
yang keluar dari kuburnya dalam
keadaan beriman kepada Tuhannya,
mempercayai surga dan neraka-Nya,
mempercayai hari kebangkitan, hari
hisab dan hari kiamat, meyakini
Allah dan membenarkan Nabi-Nya
saw serta ajaran yang dibawanya
dari sisi Allah azza wa jalla, ia akan
selamat dari kelaparan dan
kehausan." [7]
Hari akhirat memiliki beberapa nama
lain (julukan) yang diberikan oleh
Allah sendiri melalui firman-Nya
didalam Al Qur'an, diantaranya
adalah:
· Al-
Ghâsyiyah
(Arab: ﺍﻟﻐﺎﺷﻴﺔ ) -
Peristiwa Yang
Dahsyat[8]
· Al-Qâri‘ah
(Arab: ﺍﻟﻘﺎﺭﻋﺔ) -
Yang
Menggemparkan
[9]
· Ar-Râjifah
(Arab: ﺍﻟﺮﺟﻔﺔ) -
Yang
Menggetarkan
· As-Sâ'ah
(Arab: ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔ) -
Kehancuran[10]
· Ash-Shakhah
- Bencana yang
memilukan
· At-Thaamah
(Arab: ﺍﻇﻤﺔ ) -
Bencana
· Al-Wâqi‘ah
(Arab: ﺍﻟْﻮَﺍﻗِﻌَﺔُ ) -
Peristiwa Yang
Pasti Terjadi
[11]
· Al-Zalzalah
(Arab: ﺍﻟﺰﻟﺰﻟﺔ) -
Kegoncangan
[12]
· Yawm ad-
Dîn (Arab: ﻳَﻮْﻡِ
ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ) - Hari
Penghakiman
[13]
· Yawm al-
Âkhir (Arab: ﻳَﻮْﻡِ
ﺍﻵﺧِﺮُ) - Hari
Akhir[14]
· Yawm al-
Alîm Arab: ﻳﻮ ﻡ
ﺃﻟﻴﻢ) - Hari
Yang
Menyedihkan
[15]
· Yawm
al-‘Azhim
(Arab: ﻳَﻮْﻡٌ ﻋَﻈِﻴْﻢٌ )
- Hari Yang
Besar [16]
· Yawm al-
Âzifah (Arab:
ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻵﺯِﻓَﺔِ ) - Hari
Yang Dekat[17]
· Yawm al-
Ba'ats (Arab: ﻳﻮﻡ
ﺍﻟﺒﺚ) - Hari
Kebangkitan
[18]
· Yawm al-
Fashl (Arab: ﻳَﻮْﻡُ
ﺍﻟْﻔَﺼْﻞِ) - Hari
Keputusan[19]
· Yawm al-
Fath (Arab: ﻳَﻮْﻡُ
ﺍﻟْﻔَﺘْﺢِ ) - Hari
Kemenangan
[20]
· Yawm al-
Haqq (Arab: ﻳَﻮْﻡُ
ﺍﻟْﺤَﻖِّ ) - Hari
Kebenaran[21]
· Yawm al-
Hasrah (Arab:
ﻳَﻮْﻡٌ ﺍﻟْﺤَﺴْﺮَﺓِ ) -
Hari
Penyesalan [22]
· Yawm al-
Hasyr (Arab:
ﻳﻮﻣﺎﺍﻟﺤﺸﺮ) - Hari
Perhimpunan
· Yawm al-
Hisãb (Arab:
ﻳﻮﻣﺎﻟْﺤِﺴَﺎﺏِ ) -
Hari
Perhitungan
[23]
· Yawm al-
Jam‘i' (Arab:
ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﺠَﻤْﻊِ ) -
Hari
Pengumpulan
[24]
· Yawm al-
Jaza' (Arab:
ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﺰﺍﺀ ) -
Hari
Pembalasan/
Hukuman [25]
· Yawm al-
Khulûd (Arab:
ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﺨُﻠُﻮْﺩِ ) -
Hari
Kekekalan [26]
· Yawm al-
Khurûj (Arab:
ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﺨُﺮُﻭْﺝِ ) -
Hari Keluar
dari Kubur[27]
· Yawm al-
Mahsyar
(Arab:
ﻳﻮﻣﺎﻟﻤﺤﺸﺮ ) -
Hari
Berkumpul di
Mahsyar [28]
· Yawm al-
Mau‘ûd (Arab:
ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻤَﻮْﻋُﻮْﺩُ ) -
Hari Yang
Dijanjikan [29]
· Yawm al-
Mizan (Arab:
ﻳَﻮْﻣَﺎﻟﻤﻴﺰﺍﻥ ) -
Hari
Penimbangan
[30]
· Yawm al-
Qiyāmah
(Arab: ﻳَﻮْﻡُ
ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ) - Hari
Kebangkitan
[31]
· Yawm al-
Wa’iid (Arab:
ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻮَﻋِﻴﺪِ ) -
Hari Ancaman
[32]
· Yawm an-
Nusyur (Arab:
ﻳﻮﻡ ﺍﻧﻮﺳﺮ ) -
Hari Kembali
· Yawm ‘Aqîm
(Arab: ﻳَﻮْﻡٌ ﻋَﻘِﻴْﻢٌ )
- Hari
Siksaan [33]
· Yawm at-
Taghâbun
(Arab: ﻳَﻮْﻡُ
ﺍﻟﺘَّﻐَﺎﺑُﻦِ ) - Hari
Pengungkapan
Kesalahan [34]
· Yawm at-
Tanad (Arab:
ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﺘَّﻨَﺎﺩِ ) -
Hari Panggil
Memanggil [35]
· Yawm ath-
Thalâq (Arab:
ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟﻄَّﻼَﻕِ ) -
Hari
Pertemuan
[36]
· Yawm azh-
Zhullah (Arab:
ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟﻈُّﻠَّﺔِ ) -
Hari Naungan
[37]
· Yawm
Kabîr' (Arab:
ﻳَﻮْﻡٌ ﻛَﺒِﻴْﺮٌ ) - Hari
Yang Besar
[38]
· Yawm
Ma‘lûm (Arab:
ﻳَﻮْﻡٌ ﻣَﻌْﻠُﻮْﻡٌ ) -
Hari Yang
Dikenal [39]
· Yawm
Muhîth (Arab:
ﻳَﻮْﻡٌ ﻣُﺤِﻴْﻂٌ ) -
Hari Yang
Membinasakan
[40]
Menurut hadits, ada 4 perkara
apabila diberikan kepada seseorang
sesungguhnya ia telah memperoleh
kebaikan dunia dan akhirat, yaitu :
· Hati yang senantiasa
bersyukur
· Lisan yang senantiasa
berdzikir
· Tubuh yang senantiasa
sabar dalam menanggung
musibah
· Istri yang tidak pernah
berkhianat baik terhadap
dirinya atau terhadap
harta benda suaminya. [41]
Menurut syariat Islam, jika keluarga
kita semuanya termasuk orang yang
sholeh maka semua anggota keluarga
akan dapat berkumpul bersama di
dalam syurga. Hal ini seperti tertulis
dalam Al-Qur'an Ar-Ra'd ayat 23:
“ ("yaitu) syurga
'Adn yang mereka
masuk ke
dalamnya
bersama-sama
dengan orang-
orang yang saleh
dari bapak-
bapaknya, isteri-
isterinya dan
anak cucunya,
sedang malaikat-
malaikat masuk ke
tempat-tempat
mereka dari
semua pintu. (Ar-
Ra'd ayat 23) ”
Kehidupan esok pada akhirnya di
sana ada yang masuk sebagai
penghuni neraka. Semua tergantung
pada amal perbuatannya selama
hidup di dunia.
6. Iman kepada qada
dan qadar
Umat Islam memahami takdir sebagai
bagian dari tanda kekuasaan Tuhan
yang harus diimani sebagaimana
dikenal dalam Rukun Iman.
Penjelasan tentang takdir hanya
dapat dipelajari dari informasi
Tuhan, yaitu informasi Allah melalui
Al Quran dan Al Hadits. Secara
keilmuan umat Islam dengan
sederhana telah mengartikan takdir
sebagai segala sesuatu yang sudah
terjadi.
Untuk memahami konsep takdir, jadi
umat Islam tidak dapat melepaskan
diri dari dua dimensi pemahaman
takdir. Kedua dimensi dimaksud ialah
dimensi ketuhanan dan dimensi
kemanusiaan.
Dimensi ini merupakan sekumpulan
ayat-ayat dalam Al Quran yang
menginformasikan bahwa Allah maha
kuasa menciptakan segala sesuatu
termasuk menciptakan Takdir.
· Dialah Yang Awal dan
Yang Akhir ,Yang Zhahir
dan Yang Bathin (Al Hadid /
QS. 57:3). Allah tidak
terikat ruang dan waktu,
bagi-Nya tidak memerlukan
apakah itu masa lalu, kini
atau akan datang).
· Dia (Allah) telah
menciptakan segala sesuatu
dan sungguh telah
menetapkannya (takdirnya)
(Al-Furqaan / QS. 25:2)
· Apakah kamu tidak tahu
bahwa Allah mengetahui
segala sesuatu yang ada di
langit dan bumi.
Sesungguhnya itu semua
telah ada dalam kitab,
sesungguhnya itu sangat
mudah bagi Allah (Al-Hajj /
QS. 22:70)
· Dia menciptakan apa
yang dikehendaki-Nya (Al
Maa'idah / QS. 5:17)
· Kalau Dia (Allah)
menghendaki maka Dia
memberi petunjuk
kepadamu semuanya (Al-
An'am / QS 6:149)
· Allah menciptakan kamu
dan apa yang kamu
perbuat (As-Safat / 37:96)
· Dan hanya kepada Allah-
lah kesudahan segala
urusan (Luqman / QS.
31:22). Allah yang
menentukan segala akibat.
Dimensi ini merupakan sekumpulan
ayat-ayat dalam Al Quran yang
meginformasikan bahwa Allah
memperintahkan manusia untuk
berusaha dengan sungguh-sungguh
untuk mencapai cita-cita dan tujuan
hidup yang dipilihnya.
· Sesungguhnya Allah tidak
merobah keadaan sesuatu
kaum sehingga mereka
merobah keadaan yang ada
pada diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah
menghendaki keburukan
terhadap sesuatu kaum,
maka tak ada yang dapat
menolaknya; dan sekali-kali
tak ada pelindung bagi
mereka selain Dia (Ar Ra'd /
QS. 13:11)
· (Allah) Yang menjadikan
mati dan hidup, supaya Dia
menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih
baik amalnya. Dan Dia
Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun (Al Mulk / QS.
67:2)
· Sesungguhnya orang-
orang yang beriman,
orang-orang Yahudi,
Nasrani, Shabiin (orang-
orang yang mengikuti
syariat Nabi zaman dahulu,
atau orang-orang yang
menyembah bintang atau
dewa-dewa), siapa saja di
antara mereka yang benar-
benar beriman kepada Allah
dan hari kemudian, dan
beramal saleh, maka mereka
akan menerima ganjaran
mereka di sisi Tuhan
mereka, tidak ada rasa
takut atas mereka, dan
tidak juga mereka akan
bersedih (Al-Baqarah / QS.
2:62). Iman kepada Allah
dan hari kemudian dalam
arti juga beriman kepada
Rasul, kitab suci, malaikat,
dan takdir.
· ... barangsiapa yang
ingin (beriman) hendaklah
ia beriman, dan
barangsiapa yang ingin
(kafir) biarlah ia kafir... (Al
Kahfi / QS. 18:29)
Kesadaran manusia untuk beragama
merupakan kesadaran akan
kelemahan dirinya. Terkait dengan
fenomena takdir, maka wujud
kelemahan manusia itu ialah
ketidaktahuannya akan takdirnya.
Manusia tidak tahu apa yang
sebenarnya akan terjadi.
Kemampuan berfikirnya memang
dapat membawa dirinya kepada
perhitungan, proyeksi dan
perencanaan yang canggih. Namun
setelah diusahakan realisasinya
tidak selalu sesuai dengan
keinginannya. Manuisa hanya tahu
takdirnya setelah terjadi.
Oleh sebab itu sekiranya manusia
menginginkan perubahan kondisi
dalam menjalani hidup di dunia ini,
diperintah oleh Allah untuk berusaha
dan berdoa untuk merubahnya.
Usaha perubahan yang dilakukan
oleh manusia itu, kalau berhasil
seperti yang diinginkannya maka
Allah melarangnya untuk menepuk
dada sebagai hasil karyanya sendiri.
Bahkan sekiranya usahanya itu
dinialianya gagal dan bahkan
manusia itu sedih bermuram durja
menganggap dirinya sumber
kegagalan, maka Allah juga
menganggap hal itu sebagai
kesombongan yang dilarang juga (Al
Hadiid QS. 57:23).
Kesimpulannya, karena manusia itu
lemah (antara lain tidak tahu akan
takdirnya) maka diwajibkan untuk
berusaha secara bersungguh-
sungguh untuk mencapai tujuan
hidupnya yaitu beribadah kepada
Allah. Dalam menjalani hidupnya,
manusia diberikan pegangan hidup
berupa wahyu Allah yaitu Al Quran
dan Al Hadits untuk ditaati.
logs-
islam.blogspot.com
Balas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar