Produk apa yang anda cari?

Sabtu, 13 Agustus 2016

kisah isra mi'raj nabi muhammad

Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW –
Seringkali di kalangan masyarakat kita,
dalam mendefinisikan isra dan mi’raj,
mereka menggabungkan Isra Mi’raj
menjadi satu peristiwa yang sama.
Padahal sebenarnya Isra dan Mi’raj
merupakan dua peristiwa yang
berbeda. Dan untuk meluruskan hal
tersebut, pada kesempatan ini saya
bermaksud mengupas tuntas
pengertian isra dan mi’raj, sejarah
isra mi’raj nabi muhammad SAW serta

hikmah dari perjalanan isra’ mi’raj
Nabi Besar Muhammad SAW.
Pengertian / Definisi Isra dan Mi’raj
Isra Mi’raj adalah dua bagian dari
perjalanan yang dilakukan oleh
Muhammad dalam waktu satu malam
saja. Kejadian ini merupakan salah
satu peristiwa penting bagi umat
Islam, karena pada peristiwa ini Nabi
Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam
mendapat perintah untuk menunaikan
salat lima waktu sehari semalam.
Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir
kenabian di Makkah sebelum Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke
Madinah. Menurut al-Maududi dan
mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi
pada tahun pertama sebelum hijrah,
yaitu antara tahun 620-621 M.
Menurut al-Allamah al-Manshurfuri,
Isra Mi’raj terjadi pada malam 27
Rajab tahun ke-10 kenabian, dan
inilah yang populer.
Namun demikian, Syaikh
Shafiyurrahman al-Mubarakfuri
menolak pendapat tersebut dengan
alasan karena Khadijah radhiyallahu
anha meninggal pada bulan Ramadan
tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan
setelah bulan Rajab. Dan saat itu
belum ada kewajiban salat lima waktu.
Al-Mubarakfuri menyebutkan 6
pendapat tentang waktu kejadian Isra
Mi’raj. Tetapi tidak ada satupun yang
pasti. Dengan demikian, tidak
diketahui secara persis kapan tanggal
terjadinya Isra Mi’raj.
Peristiwa Isra Mi’raj terbagi dalam 2
peristiwa yang berbeda. Dalam Isra,
Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa
Sallam “diberangkatkan” oleh Allah
SWT dari Masjidil Haram hingga
Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Nabi
Muhammad SAW dinaikkan ke langit
sampai ke Sidratul Muntaha yang
merupakan tempat tertinggi. Di sini
Beliau mendapat perintah langsung
dari Allah SWT untuk menunaikan salat
lima waktu.
Bagi umat Islam, peristiwa tersebut
merupakan peristiwa yang berharga,
karena ketika inilah salat lima waktu
diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain
yang mendapat perjalanan sampai ke
Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun
begitu, peristiwa ini juga dikatakan
memuat berbagai macam hal yang
membuat Rasullullah SAW sedih.
Sejarah / Kisah Perjalanan Isra’ Mi’raj
Nabi Muhammad SAW
Perjalanan dimulai Rasulullah
mengendarai buraq bersama Jibril.
Jibril berkata, “turunlah dan kerjakan
shalat”.
Rasulullahpun turun. Jibril berkata,
“dimanakah engkau sekarang ?”
“tidak tahu”, kata Rasul.
“Engkau berada di Madinah, disanalah
engkau akan berhijrah “, kata Jibril.
Perjalanan dilanjutkan ke Syajar Musa
(Masyan) tempat penghentian Nabi
Musa ketika lari dari Mesir, kemudian
kembali ke Tunisia tempat Nabi Musa
menerima wahyu, lalu ke Baitullhmi
(Betlehem) tempat kelahiran Nabi Isa
AS, dan diteruskan ke Masjidil Aqsha di
Yerussalem sebagai kiblat nabi-nabi
terdahulu.
Jibril menurunkan Rasulullah dan
menambatkan kendaraannya. Setelah
rasul memasuki masjid ternyata telah
menunggu Para nabi dan rasul. Rasul
bertanya : “Siapakah mereka ?”
“Saudaramu para Nabi dan Rasul”.
Kemudian Jibril membimbing Rasul
kesebuah batu besar, tiba-tiba Rasul
melihat tangga yang sangat indah,
pangkalnya di Maqdis dan ujungnya
menyentuh langit. Kemudian Rasulullah
bersama Jibril naik tangga itu menuju
kelangit tujuh dan ke Sidratul
Muntaha.
“Dan sesungguhnya nabi Muhammad
telah melihatJibril itu (dalam rupanya
yang asli) pada waktu yang lain, yaitu
di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada
surga tempat tinggal, (Muhammad
melihat Jibril) ketika Sidratull Muntaha
diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya (Muhammad) tidak
berpaling dariyang dilihatnya itu dan
tidakpula melampauinya.
Sesungguhnya dia telah melihat
sebahagian tanda-tanda (kekuasaan)
Tuhannya yang paling besar.” (QS.
An-Najm : 13 – 18).
Selanjutnya Rasulullah melanjutkan
perjalanan menghadap Allah tanpa
ditemani Jibril Rasulullah membaca
yang artinya : “Segala penghormatan
adalah milikAllah, segala Rahmat dan
kebaikan“.
Allah berfirman yang artinya:
“Keselamatan bagimu wahai seorang
nabi, Rahmat dan berkahnya“.
Rasul membaca lagi yang artinya:
“Keselamatan semoga bagi kami dan
hamba-hamba Allah yang sholeh.
Rasulullah dan ummatnya menerima
perintah ibadah shalat“.
Berfirman Allah SWT : “Hai Muhammad
Aku mengambilmu sebagai kekasih
sebagaimana Aku telah mengambil
Ibrahim sebagai kesayanagan dan
Akupun memberi firman kepadamu
seperti firman kepada Musa Akupun
menjadikan ummatmu sebagai umat
yang terbaik yang pernah dikeluarkan
pada manusia, dan Akupun menjadikan
mereka sebagai umat wasath (adil dan
pilihan), Maka ambillah apa yang aku
berikan kepadamu dan jadilah engkau
termasuk orang-orang yang
bersyukur“.
“Kembalilah kepada umatmu dan
sampaikanlah kepada mereka dari Ku”.
Kemudian Rasul turun ke Sidratul
Muntaha.
Jibril berkata : “Allah telah
memberikan kehormatan kepadamu
dengan penghormatan yang tidak
pernah diberikan kepada seorangpun
dari makhluk Nya baik malaikat yang
terdekat maupun nabi yang diutus.
Dan Dia telah membuatmu sampai
suatu kedudukan yang tak seorangpun
dari penghuni langit maupun penghuni
bumi dapat mencapainya.
Berbahagialah engkau dengan
penghormatan yang diberikan Allah
kepadamu berupa kedudukan tinggi
dan kemuliaan yang tiada bandingnya.
Ambillah kedudukan tersebut dengan
bersyukur kepadanya karena Allah
Tuhan pemberi nikmat yang menyukai
orang-orang yang bersyukur”.
Lalu Rasul memuji Allah atas semua itu.
Kemudian Jibril berkata :
“Berangkatlah ke surga agar aku
perlihatkan kepadamu apa yang
menjadi milikmu disana sehingga
engkau lebih zuhud disamping
zuhudmu yang telah ada, dan sampai
lah disurga dengan Allah SWT. Tidak
ada sebuah tempat pun aku biarkan
terlewatkan”. Rasul melihat gedung-
gedung dari intan mutiara dan
sejenisnya, Rasul juga melihat pohon-
pohon dari emas. Rasul melihat disurga
apa yang mata belum pernah melihat,
telingan belum pernah mendengar dan
tidak terlintas dihati manusia
semuanya masih kosong dan disediakan
hanya pemiliknya dari kekasih Allah ini
yang dapat melihatnya. Semua itu
membuat Rasul kagum untuk seperti
inilah mestinya manusia beramal.
Kemudian Rasul diperlihatkan neraka
sehingga rasul dapat melihat
belenggu-belenggu dan rantai-
rantainya selanjutnya Rasulullah turun
ke bumi dan kembali ke masjidil haram
menjelang subuh.
Mandapat Mandat Shalat 5 waktu
Agaknya yang lebih wajar untuk
dipertanyakan, bukannya bagaimana
Isra’ Mi’raj, tetapi mengapa Isra’
Mi’raj terjadi ? Jawaban pertanyaan
ini sebagaimana kita lihat pada ayat
78 surat al-lsra’, Mi’raj itu untuk
menerima mandat melaksanakan shalat
Lima waktu. Jadi, shalat inilah yang
menjadi inti peristiwa Isra’Mi’raj
tersebut.
Shalat merupakan media untuk
mencapai kesalehan spiritual individual
hubungannya dengan Allah. Shalat
juga menjadi sarana untuk menjadi
keseimbangan tatanan masyarakat
yang egaliter, beradab, dan penuh
kedamaian. Makanya tidak berlebihan
apabila Alexis Carrel menyatakan :
“Apabila pengabdian, sholat dan do’a
yang tulus kepada Sang Maha pencipta
disingkirkan dari tengah kehidupan
bermasyarakat, hal itu berarti kita
telah menandatangani kontrak bagi
kehancuran masyarakat tersebut“.
Perlu diketahui bahwa A. Carrel
bukanlah orang yang memiliki latar
belakang pendidikan agama, tetapi dia
adalah seorang dokter dan pakar
Humaniora yang telah dua kali
menerima nobel atas hasil
penelitiannya terhadap jantung
burung gereja dan pencangkokannya.
Tanpa pendapat Carrel pun, Al –
Qur’an 15 abad yang lalu telah
menyatakan bahwa shalat yang
dilakukan dengan khusu’ akan bisa
mencegah perbuatan keji dan mungkar,
sehingga tercipta tatanan masyarakat
yang harmonis, egaliter, dan beretika.
Hikmah Isra Mi’raj Nabi Besar
Muhammad SAW
Perintah sholat dalam perjalanan isra
dan mi’raj Nabi Muhammad SAW,
kemudian menjadi ibadah wajib bagi
setiap umat Islam dan memiliki
keistimewaan tersendiri dibandingkan
ibadah-ibadah wajib lainnya.
Sehingga, dalam konteks spiritual-
imaniah maupun perspektif rasional-
ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian
yang tak kunjung kering inspirasi dan
hikmahnya bagi kehidupan umat
beragama (Islam).
Bersandar pada alasan inilah, Imam
Al-Qusyairi yang lahir pada 376
Hijriyah, melalui buku yang berjudul
asli ‘Kitab al-Mikraj’ ini, berupaya
memberikan peta yang cukup
komprehensif seputar kisah dan
hikmah dari perjalanan agung Isra’
Mi’raj Nabi Muhammad SAW, beserta
telaahnya. Dengan menggunakan
sumber primer, berupa ayat-ayat Al-
Quran dan hadist-hadits shahih, Imam
al-Qusyairi dengan cukup gamblang
menuturkan peristiwa fenomenal yang
dialami Nabi itu dengan runtut.
Selain itu, buku ini juga mencoba
mengajak pembaca untuk menyimak
dengan begitu detail dan mendalam
kisah sakral Rasulullah SAW, serta
rahasia di balik peristiwa luar biasa
ini, termasuk mengenai mengapa
mikraj di malam hari? Mengapa harus
menembus langit? Apakah Allah berada
di atas? Mukjizatkah mikraj itu hingga
tak bisa dialami orang lain? Ataukah ia
semacam wisata ruhani Rasulullah yang
patut kita teladani?
Bagaimana dengan mikraj para Nabi
yang lain dan para wali? Bagaimana
dengan mikraj kita sebagai muslim?
Serta apa hikmahnya bagi kehidupan
kita? Semua dibahas secara gamblang
dalam buku ini.
Dalam pengertiannya, Isra’ Mi’raj
merupakan perjalanan suci, dan bukan
sekadar perjalanan “wisata” biasa
bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini
menjadi perjalanan bersejarah yang
akan menjadi titik balik dari
kebangkitan dakwah Rasulullah SAW.
John Renerd dalam buku ”In the
Footsteps of Muhammad: Understanding
the Islamic Experience,” seperti
pernah dikutip Azyumardi Azra,
mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah
satu dari tiga perjalanan terpenting
dalam sejarah hidup Rasulullah SAW,
selain perjalanan hijrah dan Haji
Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-
benar merupakan perjalanan heroik
dalam menempuh kesempurnaan dunia
spiritual.
Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke
Madinah pada 662 M menjadi
permulaan dari sejarah kaum Muslimin,
atau perjalanan Haji Wada yang
menandai penguasaan kaum Muslimin
atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj
menjadi puncak perjalanan seorang
hamba (al-abd) menuju sang pencipta
(al-Khalik). Isra Mi’raj adalah
perjalanan menuju kesempurnaan
ruhani (insan kamil). Sehingga,
perjalanan ini menurut para sufi,
adalah perjalanan meninggalkan bumi
yang rendah menuju langit yang
tinggi.
Inilah perjalanan yang amat
didambakan setiap pengamal tasawuf.
Sedangkan menurut Dr Jalaluddin
Rakhmat, salah satu momen penting
dari peristiwa Isra Mi’raj yakni ketika
Rasulullah SAW “berjumpa” dengan
Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh
hormat Rasul berkata, “Attahiyatul
mubaarakaatush shalawatuth
thayyibatulillah”; “Segala
penghormatan, kemuliaan, dan
keagungan hanyalah milik Allah saja”.
Allah SWT pun berfirman,
“Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu
warahmatullahi wabarakaatuh”.
Mendengar percakapan ini, para
malaikat serentak mengumandangkan
dua kalimah syahadat. Maka, dari
ungkapan bersejarah inilah kemudian
bacaan ini diabadikan sebagai bagian
dari bacaan shalat.
Selain itu, Seyyed Hossein Nasr dalam
buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993)
mengungkapkan bahwa pengalaman
ruhani yang dialami Rasulullah SAW
saat Mi’raj mencerminkan hakikat
spiritual dari shalat yang di jalankan
umat islam sehari-hari. Dalam artian
bahwa shalat adalah mi’raj-nya
orang-orang beriman. Sehingga jika
kita tarik benang merahnya, ada
beberapa urutan dalam perjalanan
Rasulullah SAW ini.
Pertama, adanya penderitaan dalam
perjuangan yang disikapi dengan
kesabaran yang dalam. Kedua,
kesabaran yang berbuah balasan dari
Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj
dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat
menjadi senjata bagi Rasulullah SAW
dan kaum Muslimin untuk bangkit dan
merebut kemenangan. Ketiga hal
diatas telah terangkum dengan sangat
indah dalam salah satu ayat Al-Quran,
yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan
shalat sebagai penolongmu. Dan
sesungguhnya yang demikian itu
sungguh berat, kecuali bagi orang-
orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-
orang yang meyakini, bahwa mereka
akan menemui Tuhannya, dan bahwa
mereka akan kembali kepada-Nya.”
Mengacu pada berbagai aspek diatas,
buku setebal 178 halaman ini
setidaknya sangat menarik, karena
selain memberikan bingkai yang cukup
lengkap tentang peristiwa Isra’ mikraj
Nabi saw, tetapi juga memuat
mi’rajnya beberapa Nabi yang lain
serta beberapa wali. Kemudian
kelebihan lain dalam buku ini adalah
dipaparkan juga mengenai kisah
Mikrajnya Abu Yazid al-Bisthami.
Mikraj bagi ulama kenamaan ini
merupakan rujukan bagi kondisi,
kedudukan, dan perjalanan ruhaninya
menuju Allah.
Ia menggambarkan rambu-rambu jalan
menuju Allah, kejujuran dan ketulusan
niat menempuh perjalanan spiritual,
serta keharusan melepaskan diri dari
segala sesuatu selain Allah. Maka,
sampai pada satu kesimpulan, bahwa
jika perjalanan hijrah menjadi
permulaan dari sejarah kaum Muslimin,
atau perjalanan Haji Wada yang
menandai penguasaan kaum Muslimin
atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj
menjadi “puncak” perjalanan seorang
hamba menuju kesempurnaan ruhani.
Melihat foto di atas, mungkin banyak
dari kita akan segera memilih foto
sebelah kanan sebagai Masjid Al-Aqsa.
Namun percayalah, foto sebelah kiri
yang berupa masjid dengan kubah
yang berwarna hijau itulah Masjid Al-
Aqsa yang sebenarnya.
Dewasa ini, telah terjadi banyak
kesalahpahaman diantara umat muslim
tentang masjid Al-Aqsa yang
sebenarnya. Banyak umat muslim
maupun non-muslim yang
mempublikasikan foto Masjid Al-Aqsa
yang salah, tapi yang mengkuatirkan
saat ini, kebanyakan umat muslim
memajang foto Qubbatus Shakrah
(Kubah Batu/ Dome of The Rock)
dirumah maupun dikantor mereka
dengan sebutan Masjid Al-Aqsa. Ini
telah menjadi kesalahan umum di
dunia muslim.
Namun tragedi sesungguhnya adalah
bahwa kebanyakan generasi muda/
anak-anak muslim (sebagaimana juga
muslim dewasa) diseluruh dunia, tidak
dapat membedakan antara Masjid Al
Aqsa dengan Qubbatus Shakrah (Kubah
Batu).
Mengenal Kompleks Masjid Al-Aqsa
Al-Masjid El-Aqsa merupakan nama
arab yang berarti Masjid terjauh. 10
tahun setelah Nabi Muhammad SAW
menerima wahyu pertama, beliau
melakukan perjalanan malam dari
Mekkah ke Baitul Maqdis (Jerusalem)
dan kemudian menuju langit ketujuh
untuk menerima perintah sholat 5
waktu dari Allah, peristiwa ini disebut
Isra’ Miraj.
Sebelum turun perintah menjadikan
Mekkah sebagai kiblat sholat umat
muslim, selama 16 setengah bulan
setelah Isra Miraj, Jerusalem dijadikan
arah kiblat.
Ketika masih hidup, Nabi Muhammad
SAW memerintahkan umat muslim untuk
tak hanya mengunjungi Mekkah tapi
juga Masjid Al-Aqsa yang berjarak
sekitar 2000 kilometer sebelah utara
Mekkah.
Masjid Al-Aqsa merupakan bangunan
tertua kedua setelah Ka’bah di
Mekkah, dan tempat suci dan tempat
terpenting ketiga setelah Mekkah dan
Madinah.
Luas kompleks Masjid Al-Aqsa sekitar
144.000 meter persegi, atau 1/6 dari
seluruh area yang dikelilingi tembok
kota tua Jerusalem yang berdiri saat
ini. Dikenal juga sebagai Al Haram El
Sharif atau oleh yahudi disebut Kuil
Sulaiman. Kompleks Masjid Al-Aqsa
dapat menampung sekitar 400.000
jemaah (Masjid Al-Aqsa menampung
sekitar 5.000 jamaah, selebihnya
sholat di kompleks yang ber-area
terbuka).
Pembangunan kembali kompleks Masjid
Al-Aqsa dimulai 6 tahun setelah Nabi
wafat oleh Umar Bin Khattab. Beliau
menginginkan untuk dibangun sebuah
masjid di selatan Foundation Stone
(membelakangi Foundation Stone,
menghadap selatan/Mekkah).
Pembangunan tersebut dilakukan oleh
Khalifah Ummayah Abd Al Malik Ibn
Marwan dan diselesaikan oleh anaknya
Al Walid 68 tahun setelah Nabi wafat
dengan diberi nama Masjid Al Aqsha.
Di pusat kompleks Kuil Sulaiman,
terdapat Foundation Stone yaitu batu
landasan yang dipercaya umat Yahudi
sebagai tempat Yahweh menciptakan
alam semesta dan tempat Abraham
mengorbankan Isaac. Bagi umat Islam
batu ini adalah tempat Nabi
Muhammad menjejakkan kakinya untuk
Mi’raj. Untuk melindungi batu ini,
Khalifah Abd Al Malik Ibn Marwan
membangun kubah dan masjid polygon,
yang kemudian terkenal dengan nama
Dome of The Rock (Kubah batu).
Kekeliruan antara Masjid Al-Aqsa
dengan Dome of The Rock dan Agenda
Israel menghapuskan Masjidil Aqsa
Masjidil Aqsa merupakan kiblat
pertama bagi Umat Islam sebelum
dipindahkan ke Ka’bah dengan
perintah Allah SWT. Kini berada di
dalam kawasan jajahan Yahudi. Dalam
keadaan yang demikian, disinyalir
pihak Yahudi telah mengambil
kesempatan untuk mengelirukan
pengetahuan Umat Islam dengan
mengedarkan gambar Dome of The
Rock sebagai Masjidil Aqsa.
Tujuan mereka hanyalah satu: untuk
meruntuhkan Masjidil Aqsa yang
sebenarnya dan mendirikan kembali
haikal Sulaiman. Saat ini, hanya
“Tembok sebelah Barat” yang tersisa
dari bangunan kuil atau istana
Sulaiman yang masih berdiri, dan pada
saat yang bersamaan tempat ini
dinamakan “Tembok Ratapan/Wailing
Wall” oleh orang Yahudi. Apabila Umat
Islam sendiri sudah keliru dan sulit
untuk membedakan Masjidil Aqsa yang
sebenarnya, maka semakin mudahlah
tugas mereka untuk melaksanakan
rencana tersebut, karena bila Masjid
Al-Aqsa diruntuhkan, kebanyakan umat
tidak akan menyadarinya.
Berikut disertakan terjemahan surat
yang ditulis dan dikirimkan oleh Dr.
Marwan kepada ketua pengarang
harian “Al-Dastour” tentang
kekeliruan umat dan hubungannya
dengan rencana zionis.
Terdapat beberapa kekeliruan antara
Masjidil Aqsa dan The Dome of The
Rock. Apabila disebut tentang Masjidil
Aqsa di dalam media lokal maupun
internasional, foto The Dome of The
Rock-lah yang ditampilkan. Alasannya
adalah untuk mengalihkan masyarakat
umum yang merupakan siasat Israel.
Tinjauan ini diperoleh saat saya
tinggal di USA, dimana saya telah
mengetahui bahwa Zionis di Amerika
telah mencetak dan mengedarkan foto
tersebut dan menjualnya kepada orang
arab dan Muslim. Kadangkala dijual
dengan harga yang murah bahkan
kadang diberikan secara gratis agar
Muslim dapat mengedarkannya dimana
saja. Baik dirumah maupun kantor.
Hal ini meyakinkan saya bahwa Israel
ingin menghapuskan gambaran Masjid
Al-Aqsa dari ingatan umat Islam
supaya mereka dapat memusnahkannya
dan membangun kuil mereka tanpa ada
publikasi. Bila ada yang membangkang
atau memprotes, maka Israel akan
menunjukkan foto The Dome of The
Rock yang masih utuh berdiri, dan
menyatakan bahwa mereka tidak
berbuat apa-apa. Siasat yang
sungguh pintar! Saya juga merasa
amat terperanjat ketika bertanya
kepada beberapa rakyat arab, Muslim,
bahkan rakyat Palestina karena
mendapati mereka sendiri tidak dapat
membedakan antara kedua bangunan
tersebut. Ini benar-benar membuatkan
saya merasa kesal dan sedih karena
hingga kini Israel telah berhasil dalam
siasat mereka.
Dr. Marwan Saeed Saleh Abu Al-Rub
Associate Professor,
Mathematics Zayed University Dubai
Demikianlah, dengan kondisi yang
mengkuatirkan ini, kita sebagai muslim
hendaklah turut membantu
menyebarkan informasi yang benar
kepada saudara kita dan dunia. Hal ini
penting dilakukan untuk menghindari
distorsi informasi lebih jauh yang
akhirnya akan merugikan umat bila
tidak disikapi dengan baik.
Wallahua’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar