Produk apa yang anda cari?

Sabtu, 13 Agustus 2016

Kisah Zahid, Seorang Sahabat Nabi Yang Menikah Dengan Bidadari

Kisah Teladan : "Kisah
Zahid, Seorang Sahabat
Nabi Yang Menikah
Dengan Bidadari..."
Subhanallah...
Di kota Suffah tinggalah seorang
pemuda bernama Zahid. Ia hidup
pada zaman Rasulullah. Setiap hari ia
tinggal di Masjid Madinah. Zahid
memang bukan pemuda tampan. Di
usianya yang ke 35, ia belum juga
menikah.
Suatu hari, ketika Zahid tengah
mengasah pedangnya, tiba-tiba
Rasulullah datang dan mengucapkan
salam kepadanya. Zahid kaget dan
menjawabnya dengan gugup. “Wahai
saudaraku Zahid. Selama ini engkau
tampak sendiri saja.” Sapa
Rasulullah.
“Allah bersamaku, wahai
Rasulullah,”jawab Zahid.
“Maksudku, mengapa selama ini
engkau masih melajang ? Apakah tak
ada dalam benakmu keinginan untuk
menikah ?” tanya beliau lagi.
Zahid menjawab, “Wahai Rasulullah,
aku ini lelaki yang tidak mempunyai
pekerjaan tetap. Apalagi wajahku
sangat tak memenuhi syarat. Siapa
wanita yang mau denganku ?”
“Mudah saja kalau kau mau!” kata
Rasulullah menimpali.
Zahid hanya termangu. Tak lama
kemudian Rasulullah memerintahkan
sekretarisnya untuk membuat surat
lamaran untuk melamar wanita
bernama Zulfah binti Said. Ia anak
seorang bangsawan Madinah yang
terkenal kaya raya dan cantik jelita.
Surat itupun segera diberikan
kepada Zahid untuk kemudian
diserahkan kepada Said. Setiba
disana ternyata Said tengah
menerima tamu. Maka usai
mengucapkan salam, Zahid
menyerahkan surat tersebut tanpa
masuk ke dalam rumah.
“Said saudaraku, aku membawa surat
untukmu dari Rasul yang mulia,” kata
Zahid.
Said menjawab, “ini adalah
kehormatan buatku.”
Surat itu dibuka dan dibacanya.
Alangkah terperanjatnya Said usai
membaca surat tersebut. Tak heran,
karena dalam tradisi Arab selama ini,
perkawinan yang biasanya terjadi
adalah seorang bangsawan harus
kawin dengan keturunan bangsawan
pula. Orang yang kaya harus kawin
dengan yang kaya juga. Itulah yang
dinamakan “sekufu”(sederajat).
Akhirnya Said bertanya kepada
Zahid, “Saudaraku, betulkah surat
ini dari Rasulullah ?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau
pernah melihat aku berbohong ?”
Dalam suasana demikian, Zulfah
datang dan bertanya, “Ayah,
mengapa engkau tampak tegang
menghadapi tamu ini?
Apa tak lebih baik bila ia disuruh
masuk?”
“Anakku, ia adalah pemuda yang
sedang melamarmu. Dia akan
menjadikan engkau istrinya,” kata
ayahnya.
Disaat
itulah Zulfah melihat Zahid. Ia pun
menangis sejadi-jadinya.
“Ayah, banyak pemuda yang lebih
tampan dan kaya raya. Semuanya
menginginkan aku. Aku tak mau,
Ayah !” jawab Zulfah merasa terhina.
Said pun berkata kepada Zahid,
“Saudaraku, engkau tahu sendiri
anakku merasa keberatan. Bukannya
aku hendak menghalanginya. Maka
sampaikanlah kepada Rasulullah bila
lamaranmu ditolak.”
Mendengar nama Rasulullah disebut
sang ayah, Zulfah berhenti menangis
dan bertanya , “Mengapa ayah
membawa-bawa nama Rasulullah?”
Said pun menjawab, “Lelaki yang
datang melamarmu ini adalah karena
perintah Rasulullah. “
Serta merta Zulfah mengucap
Istighfar berulang kali dan menyesali
kelancangan perbuatannya itu. Lirih,
wanita muda itu berkata kepada
sang ayah, “Mengapa ayah tak
mengatakannya sejak tadi bila yang
melamarkan lelaki itu Rasulullah.
Kalau begitu keadaannya, nikahkan
saja aku dengannya. Karena aku
teringat firman Allah, :
“Sesungguhnya jawaban orang-
orang mukmin, bila mereka dipanggil
Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul
menghukum (mengadili) diantara
mereka ialah ucapan, ‘Kami
mendengar dan kami patuh.’ Dan
mereka itulah orang-orang yang
beruntung’.” (An-Nuur: 51).”
Hati Zahid bagai melambung entah
ke mana. Ada semburat suka cita
yang tergambar dalam rona
wajahnya.
Bahagia, itu
yang pasti ia rasakan saat itu.
Setiba di masjid ia bersujud syukur.
Rasul yang mulia tersenyum melihat
gerak-gerik Zahid yang berbeda
dari biasanya.
“Bagaimana Zahid?” Tanya
Rasulullah.
“Alhamdulillah diterima, wahai
Rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?” tanya
Rasulullah lagi.
Zahid menundukkan kepala sambil
berkata,”Rasulullah, aku tidak
memiliki apa-apa.”
Rasulullah pun menyuruhnya ke
rumah Abu Bakar, Utsman, dan
Abdurrahman bin Auf. Setelah
mendapatkan sejumlah uang yang
cukup, Zahid pergi ke pasar untuk
membeli persiapan pernikahan.
Bersamaan dengan itu Rasulullah
menyeru umat Islam untuk berperang
menghadapi kaum kafir yang akan
menghancurkan Islam.
Ketika Zahid sampai di mesjid, ia
melihat kaum muslimin telah bersiap
dengan persenjataannya. Zahid
bertanya,”Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Zahid, hari ini
orang kafir akan menghancurkan
kita. Apakah engkau tidak
mengetahuinya ? “
Zahid pun beristighfar beberapa kali
sambil berkata, “Wah kalau begitu
aku lebih baik menjual perlengkapan
perkawinan ini dan aku akan
membeli kuda yang terbaik. “
“Tetapi Zahid, malam nanti adalah
bulan madumu. Apakah engkau akan
hendak pergi juga ? “ kata para
sahabat menasehati.
“Tidak mungkin aku berdiam diri !”
jawab Zahid tegas.
Lalu Zahid menyitir ayat “Jika
bapak-bapak, anak-anak, saudara-
saudara, istri-istri kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu
khawatiri kerugiannya dan rumah-
rumah tempat tinggal yang kamu
sukai adalah lebih kamu cintai
daripada Allah dan Rasul-Nya (dari)
berjihad di jalan-Nya. Maka
tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya. Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang fasik.” (At-Taubah:24).
Akhirnya Zahid melangkah ke medan
tempur sampai ia gugur.
Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid
sedang berbulan madu dengan
bidadari yang lebih cantik daripada
Zulfah.”
Lalu Rasulullah membacakan surat Ali
Imran ayat 169-170 dan Al-Baqarah
ayat 154
“Janganlah kamu mengira bahwa
orang-oorang yang gugur di jalan
Allah itu mati, sebenarnya mereka itu
hidup di sisi Rabbnya dengan
mendapat rezaki. Mereka bergembira
dengan karunia yang diberikan Allah
kepada mereka, dan bergirang hati
terhadap orang-orang yang masih
tinggal di belakang yang belum
menyusul mereka dan mereka tidak
bersedih hati. “
“Dan janganlah kamu mengatakan
orang-orang yang gugur di jalan
Allah, (bahwa mereka itu) telah mati.
Sebenarnya mereka itu hidup, tetapi
kamu tidak menyadarinya.”
Para sahabat pun meneteskan air
mata. Bagaimana dengan Zulfah ?
Mendengar kabar kematian Zahid, ia
tulus berucap, “Ya Allah, alangkah
bahagianya calon suamiku itu. Andai
aku tak dapat mendampinginya di
dunia, izinkanlah aku
mendampinginya di akhirat kelak.”
Demikian pintanya. Sebuah ekspresi
cinta sejati dari dunia hingga
akhirat. Cinta yang bersemi oleh
ketaatan kepada titah Rasulullah,
meski semula hati berontak.(dm).
Subhanallah...
Cinta karena Allah dan Rasulnya...
Sumber :
http://al-mustaqbal.net/bidadari-
calon-suami-ku/
Ibnu Qalami Al-Muhajiri, Mujahidah
The Golden Ways, Jalan Peran &
Pengabdian Muslimah Dalam Kancah
Fisabilillah, Al-Fajr Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar