Produk apa yang anda cari?

Minggu, 21 Agustus 2016

Bahaya Penyakit Panjang Angan – Angan


ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢِ
Bahaya Penyakit Panjang
Angan – Angan
Alhamdulillah wa shollatu wa
sallamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa
aalihi wa ashaabihi ajma’ain.
Sebagai mahluk yang dimuliakan
Allah Subhana wa Ta’ala dengan
hati dan akal, manusia dituntut
untuk bersyukur atasnya dengan
menggunakannya dalam rangka
meraih ketaqwaan di sisi Sang
Penciptanya Allah ‘Azza wa Jalla.
Namun, dalam perjalanannya
menuju derajat ketaqwaan,
manusia senantiasa diintai,
dipantau dan siap diperangi musuh
abadinya selama masih hidup di
dunia, musuh tersebut tidak lain
dan tidak bukan adalah syaithon
baik dari Iblis dan manusia.
Syaihtonlah musuh bagi manusia
yang nyata, Allah Subhana wa
Ta’ala berfirman,
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥَ ﻟِﻠْﺈِﻧْﺴَﺎﻥِ ﻋَﺪُﻭٌّ ﻣُﺒِﻴﻦٌ
“Sesungguhnya syaithon adalah
benar-benar musuh yang nyata
bagi bagi manusia”. (QS. Yusuf
[12] : 5)
Syaikh ‘Abdur Rohman bin Nashir
As Sa’diy Rohimahullah
mengatakan,
ﻟَﺎ ﻳَﻔْﺘُﺮُ ﻋَﻨْﻪُ ﻟَﻴْﻠًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻧَﻬَﺎﺭًﺍ، ﻭَﻟَﺎ ﺳِﺮًّﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺟَﻬَﺎﺭًﺍ ….
“Syaithon tidak akan malas
(mengganggu manusia –ed.)
walaupun siang, malam, ketika
manusia sendirian atau bersama
orang lain…….” [1] .
Usaha giat syaithon untuk mengoda
manusia ini tidaklah terbatas dalam
satu hal semata. Bahkan usahanya
untuk menjerumuskan manusia ke
neraka beragam macamnya
sebagaimana beragamnya karakter
dan kedudukan manusia.
Ibnul Jauziy Rohimahullah telah
menuliskan sebuah risalah yang
luar biasa dalam masalah ini.
Sehingga orang membacanya akan
dapat menangkal tipu daya
syaithon dengan beragam model
dan macamnya. Beliau menamakan
kitab tersebut dengan ‘Talbiis
Ibliis’.
Beliau Rohimahullah mengatakan
tentang makna talbiis,
ﺍﻟﺘَّﻠْﺒِﻴْﺲُ ﺇِﻇْﻬَﺎﺭُ ﺍﻟﺒَﺎﻃِﻞِ ﻓِﻲْ ﺻُﻮْﺭَﺓِ ﺍﻟﺤَﻖِّ
“Talbiis adalah menunjukkan/
menampakkan kabathilan dalam
bentuk kebenaran” [2] .
Inilah salah satu senjata dan
perangkap tercanggih syaihon.
Sehingga manusia yang terkena hal
ini akan binasa tanpa sadar.
Salah satu bentuk talbiis syaihton
kepada manusia adalah panjang
angan-angan.
Ibnul Jauziy Rohimahullah
mengatakan,
ﻛﻢ ﻗﺪ ﺧَﻄَﺮَ ﻋﻠﻰ ﻗﻠﺐِ ﻳَﻬُﻮْﺩِﻱٍّ ﻭَﻧَﺼَﺮَﺍﻧِﻲٍّ ﺣُﺐُّ ﺍﻹِﺳْﻠَﺎﻡِ
ﻓَﻠَﺎ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﺇِﺑْﻠِﻴْﺲُ ﻳُﺜَﺒِّﻄُﻪُ ﻭَﻳَﻘُﻮْﻝُ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺠَﻞْ ﻭﺗَﻤَﻬَّﻞ ﻓِﻲْ
ﺍﻟﻨَّﻈَﺮِ ﻓَﻴُﺴَﻮَّﻓُﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻤُﻮْﺕَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻔْﺮِﻩِ . ﻭَﻛَﺬَﻟِﻚَ
ﻳُﺴَﻮِّﻑُ ﺍﻟﻌَﺎﺻِﻲُ ﺑِﺎﻟﺘَّﻮْﺑَﺔِ ﻓَﻴَﺠْﻌَﻞُ ﻟَﻪُ ﻏَﺮْﺿَﻪُ ﻣِﻦْ
ﺍﻟﺸَّﻬْﻮَﺍﺕِ ﻭَﻳُﻤَﻨِّﻴﻪِ ﺍﻟْﺈِﻧَﺎﺑَﺔَ ,ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸَّﺎﻋِﺮُ :
ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺠَﻞُ ﺍﻟﺬَّﻧْﺐَ ﻟِﻤَﺎ ﺗَﺸْﺘَﻬِﻲ … ﻭَﺗَﺄَﻣَّﻞُ ﺍﻟﺘَّﻮْﺑَﺔَ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﺑِﻞِ
ﻭَﻛَﻢْ ﻣِﻦْ ﻋﺎﺯﻡٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺠَﺪِّ ﺳَﻮَّﻓَﻪُ ﻭَﻛَﻢْ ﻣِﻦْ ﺳَﺎﻉٍ ﺇِﻟَﻰ
ﻓَﻀِﻴْﻠَﺔٍ ﺛَﺒَّﻄَﻪُ
“Betapa sering terbersit di hati
seorang Yahudi atau Nashrani
kecintaan terhadap Islam. Namun
Iblis senantiasa mengahalang-
halanginya dan membisikkan ke
hati mereka, ‘Jangan terburu-buru
(masuk -ed.) Islam, pikirkan
dengan seksama dan matang’.
Sehingga mereka menunda-
nundanya hingga maut datang
menjemputnya dan mereka mati di
atas kekafirannya. Demikian juga
yang terjadi pada pelaku maksiat
agar menunda-nunda taubatnya,
iblis membuat mereka terhalang
dari taubat melalui jalan syahwat
sehingga mereka menunda-nunda
taubat dan kembali kepada Allah.
Hal ini sebagaimana yang dikatakan
seorang penyair :
Jangan segera berbuat dosa karena
hawa nafsu….
Sedangkan engkau berangan-angan
taubat esok hari……….
Betapa banyak orang yang
berazam/bertekad kuat untuk
melakukan kebaikan kemudian
menunda-nunda kebaikan
tersebut !!? Betapa banyak orang
yang berusaha melakukan
kemuliaan yang terhalangi (karena
menunda-nunda) !!?”
Beliau melanjutkan,
ﻓَﻠِﺮُﺑَّﻤَﺎ ﻋَﺰِﻡَ ﺍﻟﻔَﻘِﻴْﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﻋَﺎﺩَﺓِ ﺩَﺭْﺳِﻪِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺳْﺘَﺮِﺡْ
ﺳَﺎﻋَﺔً ﺃَﻭْ ﺍﻧْﺘَﺒَﻪَ ﺍﻟﻌَﺎﺑِﺪُ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﻠَّﻴْﻞِ ﻳُﺼَﻠَّﻲ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ :
ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻭَﻗْﺖٌ .
ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﻳُﺤِﺒَّﺐُ ﺍﻟﻜَﺴَﻞَ ﻭَﻳُﺴَﻮِّﻑُ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞُ ﻭَﻳُﺴْﻨِﺪُ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮُ
ﺇَﻟَﻰ ﻃُﻮْﻝِ ﺍﻟْﺄَﻣَﻞِ. ﻓَﻴَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻟِﻠْﺤَﺎﺯِﻡِ ﺃَﻥْ ﻳَﻌْﻤَﻞَ ﻋَﻠَﻰ
ﺍﻟْﺤَﺰْﻡِ ﻭَﺍﻟْﺤَﺰْﻡُ ﺗُﺪَﺍﺭِﻙُ ﺍﻟْﻮَﻗْﺖُ ﻭَﺗَﺮَﻙَ ﺍﻟﺘَّﺴَﻮُّﻑِ ﻭِﺍﻟِﺎﻋْﺮَﺍﺽِ
ﻋَﻦْ ﺍﻟْﺄَﻣَﻞِ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻤُﺨُﻮْﻑَ ﻟَﺎ ﻳُﺆْﻣَﻦُ ﻭَﺍﻟﻔَﻮَﺍﺕَ ﻻَ ﻳُﺒْﻌَﺚُ .
“Sehingga betapa banyak seorang
yang faqih telah berkeinginan kuat
untuk mengulangi dars/
pelajarannya namun iblis
menggodanya dengan mengatakan,
‘istirahatlah sejenak (waktu masih
panjang –ed.)’. Atau betapa banyak
seorang ahli ibadah yang bangun di
malam hari untuk melakukan sholat
malam lalu syaihton menggodanya
dengan mengatakan, ‘waktu malam
masih panjang (tidurlah lagi -ed.)’
Iblis akan senantiasa menanamkan
dan menumbuhkan sikap malas dan
menunda-nunda amal serta
menyandarkan diri/amal kepada
sikap menunda-nunda dan panjang
angan-angan. Maka sudah
sepantasnya orang yang bertekad
kuat beramal dengan tekad yang
‘membaja’ dengan memanfaatkan
waktu sebaik-baiknya dan
meninggalkan, membuang jauh-
jauh sikap menunda-nunda dan
menghindarkan diri dari panjang
angan-angan. Karena khawatir dan
tidak dapat dijamin waktu,
kekuatan tekad dan kesempatan
yang sudah berlalu dapat
kembalikan”.
Beliau Rohimahullah
menambahkan,
ﻭَﺳَﺒَﺐُ ﻛُﻞِّ ﺗَﻘْﺼِﻴْﺮٍ ﻓِﻲْ ﺧَﻴْﺮٍ ﺃَﻭْ ﻣَﻴْﻞٍ ﻋَﻦْ ﺷَﺮٍّ ﻃُﻮْﻝُ
ﺍﻟْﺄَﻣَﻞِ ﻓَﺎِﻥَّ ﺍﻹِﻧْﺴَﺎﻥَ ﻟَﺎ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﺑَﺎﻟﻨُّﺰُﻭْﻉِ ﻋَﻦْ
ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﻭَﺍﻻِﻗْﺒَﺎﻝُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺨَﻴْﺮِ, ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳُﻌِﺪُ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﺑِﺬَﻟِﻚَ .
ﻭَﻟَﺎ ﺭَﻳْﺐَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﺃَﻣَّﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﻤْﺸِﻲَ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﺳَﺎﺭَ ﺳَﻴْﺮًﺍ
ﻓَﺎﺗِﺮًﺍ ﻣَﻦْ ﺃَﻣَّﻞَ ﺃَﻥْ ﻳُﺼْﺒِﺢَ ﻋَﻤَﻞَ ﻓِﻲْ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻋَﻤَﻠًﺎ ﺿَﻌِﻴْﻔًﺎ
ﻭَﻣِﻦْ ﺻُﻮْﺭِ ﺍﻟﻤَﻮْﺕِ ﻋَﺎﺟِﻠًﺎ, ﺟَﺪَّ .
ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ :
” ﺻَﻞِّ ﺻَﻠَﺎﺓَ ﻣُﻮَﺩَّﻉٍ ﻛَﺄَﻧَّﻚَ ﺗَﺮَﺍﻩُ ﻓَﺈِﻥْ ﻛُﻨْﺖَ ﻟَﺎ ﺗَﺮَﺍﻩُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ
ﻳَﺮَﺍﻙَ ”.
“Sebab seluruh taqsir/
kelalaian/meremehkan
kebaikan dan kecenderungan
kepada keburukan adalah
panjang angan-angan . Karena
seluruh manusia (pada dasarnya –
ed.) senantiasa mengajak dirinya
untuk menghindar dari keburukan
dan melakukan kebaikan. Akan
tetapi ini masih sebatas janji di
dalam hati akan hal itu.
Tidaklah diragukan bahwa
barangsiapa yang berangan-angan
bisa berjalan di siang hari maka dia
akan berjalan dengan langkah yang
lemah dan penuh kemalasan.
Demikian juga barang siapa yang
berangan-angan mendapatkan
waktu subuh maka dia akan
beramal di malam hari dengan
amal yang ‘lemah/ala kadarnya’.
Sedangkan barang siapa yang
membayangkan/tergambar di
depan matanya kematian akan
segera datang maka dia akan
bergegas dan bersungguh-
sungguh. Nabi Shollallahu ‘alaihi
wa Sallam bersabda,
ﺻَﻞِّ ﺻَﻠَﺎﺓَ ﻣُﻮَﺩَّﻉٍ ﻛَﺄَﻧَّﻚَ ﺗَﺮَﺍﻩُ ﻓَﺈِﻥْ ﻛُﻨْﺖَ ﻟَﺎ ﺗَﺮَﺍﻩُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ
ﻳَﺮَﺍﻙَ
“Sholatlah engkau sebagaimana
sholat orang yang akan berpisah
(dari kehidupan dengan datangnya
malaikat maut –ed.) seakan-akan
engkau melihatnya (datang –ed.).
Apabila engkau tidak dapat
melihatnya maka sesungguhnya dia
melihatmu” [3] .
Ibnul Jauziy Rohimahullah
melanjutkan,
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒِ : ﺃُﻧْﺬِﺭُﻛُﻢْ ‘ﺳَﻮْﻑَ ‘ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﺃَﻛْﺒَﺮُ
ﺟُﻨُﻮْﺩِ ﺇِﺑْﻠِﻴْﺲَ .
ﻭَﻣَﺜَﻞُ ﺍﻟﻌَﺎﻣِﻞِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺤَﺰْﻡِ ﻭَﺍﻟﺴَﺎﻛِﻦِ ﻟِﻄُﻮْﻝِ ﺍﻷَﻣَﻞِ
ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﻗَﻮْﻡٍ ﻓِﻲْ ﺳَﻔَﺮٍ ﻓَﺪَﺧَﻠُﻮْﺍ ﻗَﺮْﻳَﺔً, ﻓَﻤَﻀَﻰ ﺍﻟﺤَﺎﺯِﻡُ
ﻓَﺎﺷْﺘَﺮَﻯ ﻣَﺎ ﻳَﺼْﻠُﺢُ ﻟِﺘَﻤَﺎﻡِ ﺳَﻔَﺮَﻩِ ﻭَﺟَﻠَﺲَ ﻣُﺘَﺄَﻫِّﺒًﺎ
ﻟِﻠﺮَّﺣِﻴْﻞِ . ﻭﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻤُﻔْﺮِﻁُ ﺳَﺄَﺗَﺄَﻫَّﺐُ ﻓَﺮُﺑَّﻤَﺎ ﺃَﻗَﻤْﻨَﺎ ﺷَﻬْﺮًﺍ,
ﻓَﻀُﺮِﺏَ ﺑَﻮْﻕَ ﺍﻟﺮَﺣِﻴْﻞِ ﻓَﻲ ﺍﻟﺤَﺎﻝِ . ﻓَﺎﻏْﺘَﺒَﻂَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺘَﺮِﺯُ
ﻭَﺍﻏْﺘَﺒَﻂَ ﺍﻵﺳِﻒُ ﺍﻟﻤُﻔَﺮِّﻁُ !
“Sebagian salaf mengatakan,
‘Maukah kalian aku
peringatkan dari bahaya
‘nanti/menunda-nunda’,
sesungguhnya ‘nanti/
menunda-nunda’ adalah bala
tentara iblis yang paling
besar’.
Permisalan orang yang beramal
dengan tekad yang membaja dan
orang yang diam saja karena
panjang angan-angan adalah
semisal suatu kelompok yang
tengan safar yang sedang
memasuki sebuah perkampungan.
Lalu orang yang dengan tekad
membaja istirahat dan
memperbaiki perbekalan agar
safarnya sempurna dan orang yang
duduk santai yang sedang duduk
istirahat dengan tiupan angin.
Orang yang lengah/santai
mengatakan, ‘istirahatlah dulu’
maka ketika telah satu bulan tiba-
tiba ditiuplah terompet waktu
keberangkatan sehingga orang
yang telah bersiap-siap segera
berangkat dan alangkah buruknya
orang yang terlalu bersantai !”
Beliau melanjutkan uraiannya,
ﻓَﻬَﺬَﺍ ﻣَﺜَﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻓِﻲْ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ, ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺍﻟﻤَﺴْﺘَﻌِّﺪُ
ﺍﻟﻤُﺴْﺘَﻴْﻘَﻆُ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀَ ﻣَﻠَﻚُ ﺍﻟﻤَﻮْﺕِ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﺪَﻡْ. ﻭَﻣِﻨْﻬُﻢْ
ﺍﻟﻤَﻐَﺮُﻭﺭُ ﺍﻟﻤُﺴَﻮِّﻑُ ﻳَﺘَﺠَﺮَّﻉُ ﻣَﺮِﻳْﺮَ ﺍﻟﻨَّﺪﻡِ ﻭَﻗْﺖَ ﺍﻟﺮَﺣِﻠَﺔِ.
ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻄَّﺒْﻊِ ﺻُﻌِﺒَﺖْ ﺍﻟﻤُﺠُﺎﻫُﺪُﺓُ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﺍﻧْﺘَﺒَﻪَ
ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪِ, ﻋَﻠِﻢَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻓِﻲْ ﺻَﻒِّ ﺣَﺮْﺏٍ ﻭَﺃَﻥَّ ﻋَﺪُﻭَّﻩُ ﻟَﺎ ﻳَﻔْﺘُﺮُ
ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺈِﻥْ ﻓَﺘَﺮَ ﻓِﻲْ ﺍﻟﻈَﺎﻫِﺮِ, ﺃَﺑْﻄَﻦَ ﻟَﻪُ ﻣَﻜِﻴْﺪَﺓً, ﻭﺃَﻗَﺎﻡَ ﻟَﻪُ
ﻛَﻤِﻴْﻨًﺎ
“Maka inilah permisalan manusia
ketika di dunia. Diantara mereka
ada yang bersiap-siap, waspada
sehingga ketika datang malaikat
maut mereka tidak akan bersedih
dan menyesal. Diantara mereka ada
yang tertipu dengan kata ‘natilah’
sehingga menunda-nunda amal.
Sehingga ketika malaikat maut
datang dia hanya dapat meneguk
pahitnya penyesalan.
Bila sikap ‘nanti/menunda-nunda’
sudah menjadi satu dengan tabiat
maka akan sulit untuk melawannya
kecuali orang yang sadar akan
dirinya sehingga melawannya
dengan sekuat tenaga. Sehingga
dia mengetahui bahwasanya dia
sedang berada di barisan perang
dan musuhnya adalah musuh yang
tidak pernah malas. Walaupun
kenyataannya dia tidak bergerak
namun sesungguhnya lawannya
sedang menyiapkan tipu daya dan
menyiapkan tentara cadangan”.
Beliau Rohimahullah menutup
pembahasan ini dengan
mengatakan,
ﻭﻧﺤﻦ ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺍﻟﺴﻼﻣﺔ ﻣﻦ ﻛﻴﺪ ﺍﻟﻌﺪﻭ
ﻭﻓﺘﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﻭﺷﺮ ﺍﻟﻨﻔﻮﺱ ﻭﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺍﻧﻪ ﻗﺮﻳﺐ ﻣﺠﻴﺐ
ﺟﻌﻠﻨﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ .
“Kami memohon keselamatan dari
tipu daya musuh dan godaan
syaithon serta keburukan jiwa dan
dunia kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Sesungguhnya Dia adalah Dzat
Yang Mengabulkan Do’a. mudah-
mudahan Allah menjadikan kita
termasuk orang-orang yang
beriman”.
Mudah-mudahan bermanfaat.
[Diterjemahkan dengan perubahan
redaksi seperlunya dari Kitab Al
Muntaqoo An Nafiis min Talbiis
Ibliis li Imam Ibnil Jauziy karya
Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy
hafidzahullah hal. 559-561 terbitan
Dar Ibnu Jauziy, Riyadh, KSA]
Sigambal, setelah mencuci pakaian
Hudzaifah
23 Shofar 1435 H / 26 Desember
2013 M / Aditya Budiman bin
Usman
[1] Lihat Taisir Karimir Rohman hal.
cet. Dar Ibnu Hazm, Beirut.
[2] Lihat Al Muntaqoo Nafiis min
Talbiis Ibliis oleh Syaikh ‘Ali Al
Halabiy hal. 61, cet. Dar Ibnul
Jauziy, Riyadh.
[3] HR. Bukhori dalam At Tarikh Al
Kabir (3/2/216), Abusy Syaikh
dalam Al Amtsaal no. 226, Ibnu
Maajah no. 4171, Ahmad (5/512)
dan Abu Nu’aim dari Abu Ayyub Al
Anshori. Syaikh ‘Ali bin Hasan
mengatakan, ‘ada jahaalah/rowi
yang majhul pada sanadnya,
sebagaimana yang dikatakan Al
Bushoiriy dalam Mishbah az
Zajaajah (333/II) sedangkan sisanya
adalah perowi yang tsiqoh. Akan
tetapi hadits ini memiliki dua
syahid/penguat yang dibawakan
guru kami Al Albani dalam Silsilah
Ash Shohihah no. 1421 dan 1914,
sehingga dengan demikian hadits
di atas menjadi shohih dengan
kedua syahidnya’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar