Produk apa yang anda cari?

Minggu, 21 Agustus 2016

APAKAH KAU TAK INGIN MENIKAH?

Rasulullah  memiliki beberapa sahabat
yang menjadi pembantu beliau.
Mengerjakan beberapa pekerjaan yang
meringankan kesibukan beliau sebagai
seorang pimpinan agama dan negara. Di
antara pembantu beliau adalah Rabi’ah bin
Ka’ab al-Aslami radhiallahu ‘anhu.
Rasulullah ﷺ adalah sosok penyayang
dan perhatian. Beliau memperhatikan
keadaan sahabat-sahabatnya. Membantu
mereka yang kekurangan. Menjenguk
yang sakit. Dan memberi masukan untuk
kebaikan dunia dan akhirat mereka.
Perhatian serupa beliau berikan juga pada
Rabi’ah bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya,
Rabi’ah bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu
bercerita:
Aku adalah seorang yang membantu Nabi
ﷺ . Beliau berkata padaku, “Wahai
Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?”
“Demi Allah, wahai Rasulullah, aku belum
ingin menikah. Aku tak punya sesuatu
yang bisa menanggung seorang wanita.
Selain itu, aku tak ingin ada hal yang
membuatku sibuk dari melayanimu.”,
jawabku.
Kemudian Nabi ﷺ pun berlalu. Aku
kembali melayani beliau seperti biasa.
Pada kesempatan berikutnya, beliau
bertanya untuk kali kedua, “Wahai
Rabi’ah, apakah kau tidak ingin menikah?”
“Aku belum ingin menikah. Aku tak punya
sesuatu yang bisa menanggung seorang
wanita. Selain itu, aku tak ingin ada
sesuatu yang membuatku sibuk dari
melayanimu.”, jawabku. Rabi’ah belum
mengubah pendiriannya.
Nabi ﷺ pun berlalu. Kali ini aku
merenungi diriku. “Demi Allah, sungguh
Rasulullah ﷺ tahu sesuatu yang terbaik
untuk kehidupan duniaku dan akhiratku.
Dia lebih tahu dari diriku. Demi Allah.
seandainya ia kembali bertanya tentang
menikah, akan kukatakan kepadanya, ‘Iya
Rasulullah, perintahkanlah aku dengan
sesuatu yang engkau kehendaki’.” Gumam
Rabi’ah.
Kemudian Rasulullah kembali bertanya,
“Wahai Rabi’ah, apakah kau tidak ingin
menikah?”
“Tentu mau, perintahkan aku dengan apa
yang Anda kehendaki.”, jawabku.
Beliau memerintahkan, “Pergilah ke
keluarga Fulan. Suatu kampung dari
kalangan Anshar.” Mereka lambat
menunaikan perintah Nabi ﷺ. “Katakan
pada mereka, Rasulullah ﷺ mengutusku
kepada kalian. Dia memerintahkan agar
kalian menikahkanku dengan Fulanah -
salah seorang wanita dari kalangan
mereka-.”
Aku pun pergi. Dan kusampaikan kepada
mereka bahwa Rasulullah ﷺ mengutusku
kepada kalian. Beliau memerintahkan agar
kalian menikahkanku dengan Fulanah.
Mereka menjawab, “Selamat datang
kepada Rasulullah dan utusannya
Rasulullah ﷺ. Demi Allah, utusannya
Rasulullah ﷺ tidak akan pulang kecuali
keperluannya telah terpenuhi.”
Mereka menikahkanku dan bersikap
lemah lembut terhadapku. Mereka sama
sekali tidak minta penjelasan padaku.
Kemudian aku kembali menemui
Rasulullah ﷺ dalam keadaan haru. Beliau
bertanya, “Apa yang terjadi padamu wahai
Rabi’ah?”
“Wahai Rasulullah, aku menemui suatu
kaum yang mulia. Mereka menikahkanku,
memuliakanku, dan bersikap baik
kepadaku. Mereka sama sekali tidak
meminta bukti. Hanya sayangnya, aku
tidak memiliki mas kawin.”, jawabku.
Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai Buraidah
al-Aslami, kumpulkan untuknya sebiji
emas.”
Mendengar hal itu, para sahabat
mengumpulkan biji emas untukku. Kuambil
apa yang telah mereka kumpulkan.
Kemudian aku kembali menghadap Nabi
ﷺ . Beliau berkata, ‘Pergilah kepada
mereka dengan membawa ini. Katakan! ini
adalah mas kawinnya’. Aku berangkat
menemui mereka dan kukatakan, “Ini mas
kawinnya”. Mereka pun ridha dan
menerimanya. “Mas kawin seperti ini
sudah sangat banyak dan baik sekali”,
kata mereka.
Rabi’ah al-Aslami radhiallahu ‘anhu
melanjutkan:
Lalu aku pulang menemui Nabi ﷺ dalam
keadaan sedih. Beliau bertanya, “Wahai
Rabi’ah kenapa kamu bersedih?”
Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tak
pernah melihat kaum yang lebih mulia dari
mereka. Mereka rela dengan apa yang
kuberikan dan berlaku sangat baik. Kata
mereka, ini sangat banyak dan bagus.
Hanya sayang, aku tak punya sesuatu
yang bisa kugunakan untuk mengadakan
walimah. Beliau bersabda, “Wahai
Buraidah, tolong kumpulkan kambing
untuknya”.
Lalu mereka mengumpulkan kambing yang
banyak dan gemuk. Setelah itu, Rasulullah
ﷺ berkata padaku “Pergilah dan temuilah
Aisyah dan katakan padanya agar dia
mengirim beberapa keranjang berisi
makanan”. Aku pun menemuinya dan
kukatakan padanya segala yang
Rasulullah ﷺ perintahkan padaku.
Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha
mengatakan, “Ini keranjang berisi
sembilan sha’ gandum. Demi Allah, jika
besok ada makanan lain, ambillah.”
Kuambil makanan itu dan kubawa menuju
Nabi ﷺ. Ku-kabarkan pada beliau apa
yang dikatakan Aisyah. Lalu beliau
bersabda, “Bawalah barang-barang ini ke
sana, dan katakan pada mereka agar
mereka gunakan untuk membuat roti”.
Aku berangkat ke sana. Membawa
kambing dan berangkat bersama beberapa
orang dari Aslam.
Seorang dari Aslam berkata, “Tolong
besok barang-barang ini telah diolah
menjadi roti”. Bersama beberapa orang
Aslam, kutemui mereka dan kubawakan
kambing. Salah seorang dari Aslam
mengatakan “Tolong besok gandum ini
diolah menjadi roti, dan kambing ini telah
dimasak”.
Mereka menjawab, “Untuk membuat roti,
cukuplah kami saja. Tapi untuk
menyembelih kambing, kalianlah yang
mengerjakannya”. Segera kami ambil
kambing yang ada. Kami semebelih, lalu
kami bersihkan. Kemudian memasaknya.
Akhirnya tersedialah daging dan roti. Aku
mengadakan walimah dengan
mengundang Rasulullah ﷺ. Beliau pu
memenuhi undanganku.
Pelajaran:
Pertama: Perhatian dan kasih sayang
Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya.
Terlebih mereka yang miskin. Inilah sifat
beliau ﷺ yang Allah ﷻ puji dalam
Alquran.
ﻟَﻘَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ
ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣَﺎ ﻋَﻨِﺘُّﻢْ ﺣَﺮِﻳﺺٌ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ
ﺑِﺎﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺭَﺀُﻭﻑٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang
Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa
olehnya penderitaanmu, sangat
menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagimu, amat belas kasihan
lagi penyayang terhadap orang-orang
mukmin.” (QS:At-Taubah | Ayat: 128).
Kedua: Nabi ﷺ memiliki tanggung jawab
terhadap orang-orang yang berada di
bawah tanggungannya.
Ketiga: Nabi ﷺ pandai membaca kondisi.
Beliau ﷺ tahu apa yang terbaik dan yang
dibutuhkan oleh orang lain.
Keempat: Nabi ﷺ tahu hal apa yang
terbaik bagi dunia dan akhirat
sahabatnya. Demikian juga untuk
umatnya. Sehingga ketika kita tahu Nabi
ﷺ memerintahkan kita pada suatu
perkara, yakinlah! hal itu yang terbaik
untuk kita. Walaupun kadang
bertentangan dengan keinginan dan nafsu
kita.
Kelima: Perhatikanlah bagaimana respon
orang-orang yang beriman terhadap
perintah Rasulullah ﷺ. Keluarga
perempuan yang ditemui Rabi’ah begitu
cepat menerima perintah Nabi ﷺ, tanpa
menanyakan apapun. Syaikh Muhammad
bin Nashir as-Suhaibani hafizhahullah
mengatakan, “Mereka disebut lambat
menunaikan perintah Nabi karena rumah
mereka yang jauh dari Nabi. Atau mereka
jarang bertemu Nabi.”
Keenam: Rasa persaudaraan di antara
para sahabat begitu luar biasa.
Persaudaraan yang bukan hanya sekadar
pengakuan. Tapi mereka membuktikannya
dengan saling tolong-menolong. Mereka
mengumpulkan mahar dan
mempersiapkan logistik untuk resepsi
pernikahan Rabi’ah. Inilah gambaran
masyarakat Madinah kala itu.
Ketujuh: Rasulullah ﷺ mengenal dengan
baik pribadi Rabi’ah. Dan beliau juga
mengetahui pribadi perempuan itu.
Sehingga keduanya beliau anggap cocok.
Sehingga pernikahan itu maslahat untuk
keduanya.
Kedelapan: Rabi’ah menunda nikah
karena ‘asyik’ dengan kegiatannya saat
itu. Ia tidak mau ada hal yang
menyibukkannya sehingga mengganggu
ibadahnya. Yakni melayani Rasulullah ﷺ.
Kesembilan: Jika Anda benar-benar
memahami hakikat menikah. Tanggung
jawab dan konsekuensinya, maka menikah
adalah solusi. Allahu A’lam..
Sumber:
Musnad Imam Ahmad: http://
library.islamweb.net/newlibrary/
display_book.php?
bk_no=6&ID=359&idfrom=15979&idto=15
984&bookid=6&startno=3
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published.
Required fields are marked *
SUBMIT COMMENT
PREVIOUS POST NEXT POST

Tidak ada komentar:

Posting Komentar