Produk apa yang anda cari?

Sabtu, 13 Agustus 2016

8 indikator keislaman seseoang

Delapan Indikator
Keislaman Seseorang
oleh: Shalih Hasyim
MANUSIA yang bertakwa adalah
manusia yang paling mulia di sisi
Allah. Dan orang yang bertakwa
segara orientasi hidupnya kepada
Allah Subhanahu wa-ta’ala ( ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ
ﺗﻌﺎﻟﻰ). “Anta maqshuduna, ridhaka
mathlubuna, dunyana wa
ukhrana” (Engkaulah tujuan puncak
kami, keridhaan-Mu yang aku cari,
demi menggapai kebahagiaan dunia
dan keselamatan akhirat kami).
Bukan yang lain. Bukan karena ilmu
kita, jabatan kita, kepandaian kita,
harta kita atau orientasi dunia
lainnya.
Dengan takwa, manusia selalu
mentauhidkan Allah Subhanahu wa-
ta’ala ( ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ ) dan tidak
menyekutukan-Nya. Selalu
mengingat-Nya dan tidak
melupakan-Nya. Selalu mensyukuri
karunia-Nya dan tidak mengingkari-
Nya. Selalu mendekatkan diri
kepada-Nya dan tidak menjauhi-
Nya, meminjam istilah Ibnu Masud
dalam Tafsir Ath Thabari.
Indikator Keislaman
Lantas apa indikasinya bahwa
keislaman kita sesuai “Manhaj
Nubuwwah”? setidaknya ada delapan
indikato yang bisa memudahkan kita
sebagai alat ukur mutu keislaman
seseorang;
Pertama: Terkikisnya Virus Thagha’
Istilah tagha’ (baca thogho) ini
diambil dari surat Al-‘Alaq pada ayat
6. Secara bahasa artinya melampaui
batas. Seperti air yang tumpah dari
gelas, karena diisi melebihi dari
ukurannya. Manusia bersikap thagha
karena merasa dirinya serba cukup
(ayat 7). Merasa dirinya sudah
berharta, berilmu dan berkuasa.
Tidak lagi memerlukan bimbingan
dari Allah Subhanahu wa-ta’ala
( ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ ).
Jadi, pertama kali yang harus
dilakukan oleh orang yang ingin
berhasil mengenal Islam adalah
tazkiyatun nafsi (membersihkan hati),
berfikir obyektif dan terbuka.
Melihat ke langit (Allah Subhanahu
wa-ta’ala ( ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ )), ke tengah
(ayat diri sendiri) dan ke bawah
(alam dan seisinya dan tempat
kembali manusia). Jika hati kita
belum bisa disterilkan dari
kepentingan hawa nafsu, dunia dan
kekuasaan, maka mustahil Islam bisa
kita serap dan kita nikmati secara
baik. Islam yang bisa dijadikan
pencegah dari perbuatan fahsya dan
mungkar. Bukan sekedar Islam
sebagai pencuci dosa. Bangsa kita
yang mayoritas Muslim, tapi buktinya
masih banyak melakukan korupsi.
Karena ajaran Islam hanya dijadikan
penebus dosa sebagaimana agama
lain. Dari sini sesungguhnya sudah
cukup memadai mutu keislaman kita.
Bahaya laten thagha’ akan berakibat
fatal dan krusial. Yaitu membatalkan
keislaman kita.
Penyakit tagha’ melahirkan tiga
kejahatan yang menjadi pemicu
penyimpangan manusia sepanjang
sejarah. Yaitu, sombong yang
diwariskan oleh iblis, serakah
(thama’) yang ditularkan oleh Adam
as dan hasud yang diwariskan oleh
Qabil.
Tagha’ dan iman akan terus
berhadap-hadapan sampai hari
kiamat. Kebenaran dan kebatilan,
keimanan dan kemusyrikan, al Haqq
wal Batil, tidak akan bisa
dipertemukan sepanjang sejarah
peradaban manusia. Buah dari
terkikisnya thagha’ akan mendidik
manusia untuk memiliki sikap
tawadhu. Rendah hati, selalu
memerlukan bimbingan wahyu.
Kedua: Keimanan kepada Allah
Subhanahu wa-ta’ala ( ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ )
Sasaran al-Quran adalah orang-
orang yang beriman. Sekalipun tinggi
kualitas keilmuan, peradaban
manusia, ketika berinteraksi dengan
al-Quran dengan memaksakan
pemahamannya atau menyimpan niat
yang buruk, al-Quran yang demikian
terang, menjadi kabur. Jadi, iman
adalah modal utama dan pertama
untuk At-Ta’amul ma’a Al-Quran.
Iman, bagaikan air sumur zamzam.
Sumber yang dipancarkannya tidak
akan pernah kering dan habis
sepanjang sejarah peradaban
manusia. Iman itulah yang
memotivasi pemiliknya untuk
istiqomah (konsisten), mudawamah
(berkesinambungan), istimroriyah
(terus-menerus), tanpa mengenal
lelah, dengan sabar, tegar, teguh,
tekun, tawakkal, mengajak kepada
kebaikan dan mencegah segala
bentuk kemungkaran tanpa tendensi
apapun, pura-pura dan pamrih.
Tidak mengharapakan pujian, ucapan
terima kasih dan balasan serta tidak
takut celaan orang yang mencela.
Imanlah yang menjadikan seseorang
terus bergerak menyemai kebaikan-
kebaikan di taman kehidupan ini
tanpa kenal letih. Karena, ia yakin
dalam setiap gerakan yang dimotivasi
oleh nilai-nilai keimanan itu
tersimpan potensi kebaikan-kebaikan
melulu (barakah). “Taharrak fa-inna
fil harakati barakah” (bergeraklah,
karena setiap gerakan ada tambahan
kebaikan). Dan kebaikan yang
ditanam itu akan ia panen, kembali
kepada dirinya. Baik secara kontan
(langsung) ataupun secara kredit
(tidak langsung). Bukan dipanen
orang lain. Justru, jika berhenti
bergerak, potensi yang dimilikinya
tinggal sebuah potensi. Tidak
tumbuh dan berkembang. Air yang
tidak mengalir, akan menjadi sarang
berbagai kuman yang mematikan.
Imanlah yang menjadikan seseorang
terus aktif membendung/menghalangi
berbagai pengaruh negatif
kejelekan, kefasikan, kezhaliman,
kemungkaran. Karena, semua
perbuatan dosa dan maksiat akan
menghancurkan dirinya sendiri.
Manusia yang bergelimang dalam
perbuatan dosa, di dunianya tersiksa,
sedangkan di akhirat siksanya lebih
menyakitkan. Imanlah yang
mencegah pemiliknya untuk menelola
hawa nafsu (syahwat), nafsu perut
dan nafsu kelamin. Karena kedua
nafsu duniawi itu semakin dicicipi
dengan cara yang salah bagaikan
meminum air laut. Semakin di minum,
bertambah haus.
Ali bin Abi Thalib mengatakan: Tiga
hukuman bagi orang yang berbuat
maksiat, yaitu penghidupan yang
serba sulit, sulit menemukan jalan
keluar dari himpitan persoalan, dan
tidak dapat memenuhi kebutuhan
pangannya kecuali dengan melakukan
maksiat kepada Allah Subhanahu wa-
ta’ala ( ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ ).
Ketiga: Menjadikan Diri Sebagai Alat
Peraga al-Quran
Kita sepakat bahwa al-Quran adalah
kitab suci yang orisinil. Ini sudah
diberitakan oleh kitab-kitab yang
diturunkan sebelumnya. Namun
secara jujur kita mengakui, betapa
jauhnya jarak antara kaum muslimin
dengan kitab sucinya. Bagaikan
pemain layang-layang. Umat Islam
belum mampu menjadikan dirinya
sebagai gambaran kongkrit “al-
Quran yang berjalan di pasar, di
gedung parlemen, di jalan raya, di
rumah tangga, di lembaga
pendidikan, di dunia militer” dll.
Faktanya, al Quran sekedar dijadikan
mantra, sehingga tidak berefek apa
pun pada perubahan pola pikir, sudut
pandang, arah kehidupan, orientasi
dan perilaku kehidupan dalam skala
individu, keluarga, bangsa dan
negara.
Agar kita menjadi orang-orang yang
berorientasi al-Quran, hendaklah al-
Quran menjadi penuntun dan
pemandu seluruh kehidupan kita.
Sehingga al-Quran merubah
kehidupan kita secara total dan
merujuk referensi isi al-Quran.
Sikap seorang Muslim terhadap al-
Quran seharusnya ada empat hal.
Tasmi’, (mendengarkan dengan
merenungi isinya), tafhim
(memahami), ta’lim (mengajarkan
kepada orang lain), tathbiq
(mengamalkan), kemudian mengajak
orang lain ke jalan Al Quran
tersebut. Mustahil mendakwakan al-
Quran jika kita sendiri tidak
mengamalkannya. Jadiakan al-Quran
sebagai pembelamu (hujjatun laka)
atau penggugatmu (hujjatun ‘alaika),
demikian Sabda Rasulullah
Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ). Artinya, al-Quran bisa
memperkuat sikap kita sebaliknya
bisa menghancurkan kita atas sikap-
sikap kita yang tak sesuai dengan
nilai yang terkandung salam al-
Quran.
Dan apabila kamu tidak membawa
suatu ayat Al Quran kepada mereka,
mereka berkata: “Mengapa tidak
kamu buat sendiri ayat itu?”
Katakanlah: “Sesungguhnya aku
hanya mengikut apa yang
diwahyukan dari Tuhanku kepadaku.
Al Quran Ini adalah bukti-bukti yang
nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan
rahmat bagi orang-orang yang
beriman.” Dan apabila dibacakan Al
Quran, Maka dengarkanlah baik-baik,
dan perhatikanlah dengan tenang
agar kamu mendapat rahmat
[mendengar dan memperhatikan
sambil berdiam diri].” (QS. Al Araf
(7): 203-204).
Keempat: Menjadikan Rasulullah
Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam sebagai
Idola
Tujuan puncak orang beriman adalah
mencari ridha Allah (Ya Allah Ya
Rabbana Anta Maqshuduna, Ridhaka
Mathlubuna Dunyana Wa Ukhrona).
Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi
Wasallam ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ) adalah
manusia yang dipilih oleh-Nya untuk
menyampaikan wahyu kepada umat
manusia.
Tujuan berislam adalah mencari ridha
Allah Subhanahu wa-ta’ala ( ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ
ﺗﻌﺎﻟﻰ) atau “Allahu Ghoyatuna”. Dan
salah satu strategi menjalankannya
dalam kehidupan adalah mengikuti
Rasulullah Muhammad.
Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia
banyak menyebut Allah (QS. Al Ahzab
(33) : 21)
Tapi mari kita saksikan pada diri kita
semua, saudara kita, atau anak-anak
kita. Siapa sosok yang menjadi idola
kita atau mereka? Nabikah? Yang
cukup menggenaskan, di Bandung,
wanita-wanita yang mengidolakan
Ariel Paterpan, artis pelaku
pornografi justu gadis-gadis
berjilbab. Jangan-jangan di antara
mereka adalah anak kita. Na’udzu
Billah min dzalik.
Kelima: Ibadah, Refleksi dari
Keimanan
Agar hati bisa dirawat dari berbagai
penyakit yang mengotori dan
merusaknya, memerlukan ketekunan
dalam ibadah kepada-Nya. Untuk
menguji kualitas komitmen keimanan
seseorang adalah giat beribadah
kepada Allah. Baik yang wajib
ataupun yang sunnah. Ketaatan
beribadah merupakan turunan dari
keimanan. Pengertian iman adalah,
“Al imanu tashdiqu bil qalb, iqraru
bil lisan wal ‘amalu bil arkan.” (Iman
itu diyakini di dalam hati, diikrarkan
dengan lisan dan diamalkan dengan
anggota badan). Bukan disebut
beriman hanya karena dia memakai
songkok putih, bergelar haji, tetapi
tindak-tanduknya belum
mencerminkan seorang Muslim. Atau
tidak bisa seseorang dikatakan sholeh
hanya karena dia baik, suka
menyumbang fakir-miskin, tetapi dia
kafir atau tidak pernah sholat.
Seorang yang beriman namanya
mukmin. Dan orang Mukmin, dia pasti
rajin beribadah dan kuat memegang
syariat Allah.
Keenam: Bangkit untuk Inqadzul
Ummah
Tidak cukup seorang muslim puas jika
melihat dirinya shalih, sedangkan
membiarkan orang lain jahat. Islam
yang benar, di samping dirinya
shalih, pula mengajak saudaranya
menjadi shalih pula. Seorang muslim
yang tidak memiliki kepekaan sosial,
maka suatu saat keimanan yang
dimilikinya akan mengalami
degradasi. Karena secara individual
orang yang shalih disebut khairul
bariyyah, dan membentuk umat
sehingga menjadi khairu ummah.
Mustahil menjadi khairu ummah tanpa
bahan dasar khairul bariyyah. Insan
shalih tidak bisa dipisahkan dari al
mujtama’ ash-shalih (masyarakat
yang shalih).
Jadi, kita dituntut untuk shalih
linafsihi dan shalih lighairihi.
ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺧَﻴْﺮَ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃُﺧْﺮِﺟَﺖْ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ
ﻭَﺗَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨﻜَﺮِ ﻭَﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠّﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﺁﻣَﻦَ ﺃَﻫْﻞُ
ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮﺍً ﻟَّﻬُﻢ ﻣِّﻨْﻬُﻢُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻭَﺃَﻛْﺜَﺮُﻫُﻢُ
ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘُﻮﻥَ
“Kamu adalah umat yang terbaik
yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma’ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah.” (QS. Ali
Imran (3) : 110).
Ketujuh: Menegakkan Kepemimpinan
Imamah dan Jamaah
Konsekwensi keimanan seseorang
adalah berjamaah (berkumpul karena
ikatan la ilaha illallah muhammadur
rasulullah). Bukan sekedar ikatan
kerja. Manusia adalah makhluk sosial.
Sekalipun memikul pekerjaan
sederhana, misalnya tertawa,
mencukur rambut, memerlukan
keterlibatan orang lain. Lebih-lebih
melaksanakan ajaran Islam yang
demikian lengkap dan mengandung
persoalan yang kompleks. Islam bukan
sekedar makanan akal, pula konsumsi
hati dan perasaan. Islam tidak
sebatas dipahami, tetapi perlu
diperagakan dalam kehidupan nyata.
Din (konsep) tidak bisa dipisahkan
dari daulah (penerapannya). Orang
Islam dituntut menunjukkan bahwa
dirinya adalah alat peraga al-Quran
dan as-Sunnah. Yang berjalan di
alam nyata.
Dan Islam tidak akan berdiri tegak
dan teraplikasikan secara kaffah
tanpa adanya sebuah jamaah yang
kuat dan berwibawa. Kita sangat
diuntungkan dengan berjamaah,
untuk menjaga keshalihan kita. Di
samping itu, tidak ada satupun ayat
yang menjelaskan orang beriman
dengan menggunakan kata tunggal
(mufrad), – aman – tetapi memakai
isim jama’ – amanuu -.
Kepemimpinan yang dibangun tidak
berdiri di atas prinsip laa ilaaha illah
muhammadurrasulullah, maka mustahil
bisa menguatkan ikatan hati.
Sebagaimana kondisi masyarakat
Yahudi yang digambarkan dalam al-
Quran. Karena masing-masing
individu berjiwa kerdil. Imamah
jamaah adalah media yang paling
efektif untuk menyederhanakan
perbedaan kita dan menonjolkan
persamaan. Mengecilkan persoalan
furuiyah (cabang agama) dan
membesarkan persoalan ushul
(pokok). Karena, perkumpulan kita
diikat oleh ikatan yang prinsip
(ideologis), La ilaha illah wa
Muhammadur Rasulullah Shallahu
‘alaihi Wassalam. Bukan kepentingan
pragmatis dan sesaat serta jangka
pendek.
Kedelapan: Mewujudkan Ukhuwah
Islamiyah
Inilah nikmat tertinggi yang kita
rasakan setelah nikmat iman kepada
Allah Subhanahu Wata’ala. Ukhuwwah
Islamiyah inilah yang berhasil
memutus mata rantai ‘ashabiyah
(fanatisme kesukuan), ananiyah
(egoisme), keangkuan, kesombongan,
atribut dan asesoris lahiriyah, yang
menjadi pilar berdirinya masyarakat
jahiliyah. Persaudaraan yang diikat
oleh ikatan tauhid ini yang bisa
mengungguli ikatan kekeluargaan
seketurunan.
Inilah sebuah ikatan yang kokoh,
karena dibingkai oleh prinsip. Saling
cinta mencintai karena Allah
Subhanahu wa-ta’ala ( ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ ).
Maka, lahirlah sebuah ungkapan;
“Seandainya cinta dan kasih sayang
itu telah merasuk dalam kehidupan
maka manusia tidak memerlukan
keadilan dan undang-undang.”
Kasmansingodimejo salah satu pendiri
Muhammadiyah pernah mengatakan;
“Sesungguhnya kaum muslimin
sekalipun hanya mengumpulkan
kerikil, dalam waktu dekat akan
menjadi gunung.” Seandainya jumlah
kaum muslimin yang demikian besar
dan berhasil menyingkirkan
perbedaan-perbedaan kecil di antara
mereka (furuiyah), maka hanya
sekedar kencing secara berjamaah di
pemukiman Yahudi di Palestina,
mereka akan “tenggelam”.
Imam Syafii mengatakan’ “Allah
tidak akan menolong umat yang
bercerai-berai, baik dahulu, kini dan
umat yang akan datang.” Bersatu
kita teguh, bercerai kita runtuh, kata
pepatah Indonesia. Karena, tangan
Allah di atas orang yang berjamaah
(berkumpul karena ikatan iman),
bukan sekedar berhimpun dan
bergerombol karena hobi.
Semoga, tulisan ini semakin
memperkokoh dan memperkuat
identitas keislaman kita semua.
Amin.*
Penulis adalah kolumnis
hidayatullah.com, tinggal di Kudus,
Jawa Tengah
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Update aplikasi Hidcom untuk
Android Sekarang juga !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar