Pengertian Ma'rifat
Istilah Ma'rifat berasal dari kata "Al-
Ma'rifah" yang berarti
mengetahui atau mengenal sesuatu.
Dan apabila dihubungkan dengan
pengamalan Tasawuf, maka istilah
ma'rifat di sini berarti mengenal
Allah ketika Shufi mencapai maqam
dalam Tasawuf.
Kemudian istilah ini dirumuskan
definisinya oleh beberapa Ulama
Tasawuf; antara lain:
a. Dr. Mustafa Zahri mengemukakan
salah satu pendapat Ulama Tasawuf
yang mengatakan:
"Marifat adalah ketetapan hati
(dalam mempercayai hadirnya) wujud
yang wajib adanya (Allah) yang
menggambarkan segala
kesempurnaannya."
b. Asy-Syekh Ihsan Muhammad
Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan
pendapat
Abuth Thayyib As-Saamiriy yang
mengatakan:
"Ma'rifat adalah hadirnya kebenaran
Allah (pada Shufi)...dalam
keadaan hatinya selalu berhubungan
dengan Nur Ilahi..."
c. Imam Al-Qusyairy mengemukakan
pendapat Abdur Rahman bin
Muhammad
bin Abdillah yang mengatakan:
"Ma'rifat membuat ketenangan dalam
hati, sebagaimana ilmu
pengetahuan membuat ketenangan
(dalam akal pikiran). Barangsiapa
yang
meningkat ma'rifatnya, maka
meningkat pula ketenangan
(hatinya)."
marifat arti secara umum adalah
yang dilakukan orang alim yang
sesuai dengan maksud dan tujuan
ilmu sendiri.
Ma‘rifat menurut ahli fiqhi adalah
ilmu . setiap ilmu itu ma’rifat,
ma‘rifat itu ilmu, setiap orang alim
arif dan setiap ‘arif itu alim.
Ma‘rifat menurut ahli shufi ialah
rasa kesadaran kepada Alloh akan
sifat dan AsmaNYA
Marifat menurut bahasa adalah
menggetahui Allah SWT
Marifat menurut istilah adalah sadar
kepada Allah SWT, yakni : hati
menyadari bahwa segala sesuatu,
termasuk gerak-gerik dirinya lahir
batin seperti : melihat, mendengar,
merasa, menemukan, bergerak,
berdiam, berangan-angan ,berfikir
dan sebagainya semua adalah Alloh
SWT , yang menciptakan dan yang
mengerakan. Jadi semuanya dan
segala sesuatu adalah Billah
Makrifat, sebagai pengetahuan yang
hakiki dan meyakinkan, menurut al-
Gazali, tidak didapat lewat
pengalaman inderawi, juga tidak
dicapai lewat penalaran rasional,
tetapi lewat kemurnian qalbu yang
mendapat ilham atau limpahan nur
dari Tuhan sebagai pengalaman
sufistik. Di sini, tersingkap segala
realitas yang tidak dapat ditangkap
oleh indera dan tidak terjangkau
oleh akal (rasio).
Teori pengetahuan kasyfiy atau
‘irfaniy yang tidak menekankan
peran indera dan rasio dipandang
telah ikut melemahkan semangat
seseorang untuk bergelimang dalam
ilmu pengetahuan dan filsafat. Orang
lari dari dunia nyata yang obyektif
ke dunia gaib yang tidak dapat
ditangkap oleh indera dan nalar.
Orang lebih mementingkan
kebahagiaan diri sendiri daripada
kebahagiaan dan keselamatan umat
manusia. Karenanya, orang lebih
tertarik pada sikap hidup isolatif
daripada sikap hidup partisipatif.
Sikap hidup seperti ini berakibat
pada banyaknya persoalan
kemanusiaan tidak terurus yang
sebenarnya menjadi tugas manusia.
Makrifat, menurut al-Gazali, ialah
pengetahuan yang meyakinkan, yang
hakiki, yang dibangun di atas dasar
keyakinan yang sempurna (haqq al-
yaqin). Ia tidak didapat lewat
pengalaman inderawi, juga tidak
lewat penalaran rasional, tetapi
semata lewat kemurnian qalbu yang
mendapat ilham atau limpahan nur
dari Tuhan sebagai pengalaman
kasyfiy atau ‘irfaniy. Teori
pengetahuan ala sufi ini dipandang
telah ikut melemahkan semangat
seseorang untuk aktif dalam
kehidupan nyata secara seimbang
antara tuntutan pribadi dan sosial,
antara jasmani dan ruhani.
Makrifat merupakan ilmu yang tidak
menerima keraguan ( ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺬﻯ ﻻ ﻳﻘﺒﻞ
ﺍﻟﺸﻚ) yaitu ”pengetahuan” yang
mantap dan mapan, yang tak
tergoyahkan oleh siapapun dan
apapun, karena ia adalah
pengetahuan yang telah mencapai
tingkat haqq al-yaqin. Inilah ilmu
yang meyakinkan, yang diungkapkan
oleh al-Gazali dengan rumusan
sebagai berikut:
ﺍﻥ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻯ ﻳﻨﻜﺸﻒ ﻓﻴﻪ
ﺍﻟﻤﻌﻠﻮﻡ ﺍﻧﻜﺸﺎﻓﺎ ﻻ ﻳﺒﻘﻰ ﻣﻌﻪ ﺭﻳﺐ ﻭﻻ ﻳﻘﺎﻻﻧﻪ
ﺍﻣﻜﺎﻥ ﺍﻟﻐﻠﻂ ﻭﺍﻟﻮﻫﻢ ﻭﻻ ﻳﺘﺴﻊ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻟﺘﻘﺪﻳﺮ ﺫﻟﻚ
“Sesungguhnya ilmu yang
meyakinkan itu ialah ilmu di mana
yang menjadi obyek pengetahuan itu
terbuka dengan jelas sehingga tidak
ada sedikit pun keraguan
terhadapnya; dan juga tidak mungkin
salah satu keliru, serta tidak ada
ruang di qalbu untuk itu”.
Secara definitif, makrifat menurut
al-Gazali ialah:
ﺍﻹﻃﻼﻉ ﻋﻠﻰ ﺃﺳﺮﺍﺭ ﺍﻟﺮﺑﻮﺑﻴﺔ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺘﺮﺗﺐ ﺍﻷﻣﻮﺭ
ﺍﻹﻟﻬﻴﺔ ﺍﻟﻤﺤﻴﻄﺔ ﺑﻜﻞ ﺍﻟﻤﻮﺟﻮﺩﺍﺕ .
“Terbukanya rahasia-rahasia
Ketuhanan dan tersingkapnya
hukum-hukum Tuhan yang meliputi
segala yang ada”.
Dari definisi di atas, dapat dikatakan
bahwa obyek makrifat dalam ajaran
tasawuf al-Gazali tidak hanya
terbatas pada pengenalan tentang
Tuhan, tetapi juga mencakup
pengenalan tentang segala hukum-
hukum-Nya yang terdapat pada
semua makhluk. Lebih jauh, dapat
pula diartikan bahwa orang yang
telah mencapai tingkat makrifat
(al-‘arif) mampu mengenal hukum-
hukum Allah atau sunnah-Nya yang
hanya tampak pada orang-orang
tertentu--para ’arifin--. Karena
itu, adanya peristiwa-peristiwa “luar
biasa”, seperti karamah, kasyf dan
lain-lain yang dialami oleh orang-
orang sufi, sebenarnya, tidaklah
keluar dari sunnah Allah dalam arti
yang luas, karena mereka mampu
menjangkau sunnah-Nya yang tak
dapat dilihat atau dijangkau oleh
orang-orang biasa. Karena itu,
dapat dikatakan, bahwa obyek
makrifat dalam pandangan al-Gazali
mencakup pengenalan terhadap
hakikat dari segala realitas yang
ada. Meskipun demikian, pada
kenyataannya, al-Gazali lebih
banyak membahas atau mengajarkan
tentang cara seseorang memperoleh
pengetahuan tentang Tuhan, yang
memang tujuan utama dari setiap
ajaran sufi. Dengan demikian, al-
Gazali mendefinisikan makrifat
dengan. ( ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺍﻟﻰ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ )
(memandang kepada wajah Allah
ta’ala).
Perlu disadari, betapapun tingginya
pengenalan (al-makrifat) seseorang
terhadap Allah, ia tidak akan
mungkin dapat mengenal-Nya
dengan sempurna, sebab manusia itu
bersifat terbatas (finite), sedangkan
Allah bersifat tak terbatas (infinite).
Makrifat dalam arti yang
sesungguhnya, menurut al-Gazali,
tidak dapat dicapai lewat indera
atau akal, melainkan lewat nur yang
diilhamkan Allah ke dalam qalbu.
Melalui pengalaman sufistik seperti
inilah, didapat pengetahuan dalam
bentuk kasyf. Dengan kata lain,
makrifat bukanlah pengetahuan yang
dihasilkan lewat membaca, meneliti,
atau merenung, tetapi ia adalah apa
yang disampaikan Tuhan kepada
seseorang (sufi) dalam pengalaman
sufistik langsung.
Makrifat sebagai ilmu mukasyafah,
kata al-Gazali, tidak bisa
dikomunikasikan kepada orang yang
belum pernah mengalaminya, atau
belum mencapai tingkat kualifikasi
yang mampu mengerti pengalaman
sufistik semacam itu. Setiap
pengalaman pribadi antara seorang
sufi dengan Tuhannya, jika
diungkapkan dengan kata-kata,
sudah dapat dipastikan salah paham
dari pendengar yang tak mampu
melepaskan ikatan duniawi. Paling-
paling seorang sufi hanya mencoba
mengungkapkannya secara simbolik
dan metaforik, karena tidak ada
bahasa yang dapat menuturkan
secara tepat, tidak ada ungkapan
yang tidak mengandung penafsiran
ganda.
Selain itu Al-Gazali juga sangat
menentang orang yang tidak peduli
terhadap hukum-hukum syariah
karena menganggap telah mencapai
tingkat tertinggi (wali) dan telah
memperoleh pengetahuan langsung
dari sumbernya, yaitu Allah SWT.
berupa pengetahuan kasyfi, yang
membawanya tidak terikat lagi pada
hukum-hukum taklifiy. Kenyataan
ini, menurut ‘Abd. al-¦alim Mahmd,
adalah tindakan bid’ah yang sangat
menyesatkan, yang lahir dari orang-
orang yang sama sekali tidak
mengerti agama (Islam), terutama
tentang hakikat tasawuf. Jika ada
orang berkata, demikian Ibnu
Taimiyah, bahwa ia telah menerima
pengetahuan berdasarkan kasyf,
tetapi bertentangan dengan sunnah
Rasul, maka kita wajib menolaknya.
Menurut Ab al-A’la al-Mauddiy,
antara syariah dan tasawuf terdapat
hubungan yang tidak bisa
dipisahkan. Jika syariah (fiqh)
mengatur aspek lahir, maka tasawuf
berhubungan dengan aspek batin
untuk kesempurnaan ibadah kepada
Allah SWT.
Salah satu perbedaan lain antara
ma’rifat dan jenis pengetahuan lain
adalah cara memperolehnya. Jenis
pengetahuan biasa diperoleh melalui
usaha keras; belajar keras; merenung
keras; berpikir keras. Akan tetapi
ma’rifat tidak bisa sepenuhnya
diusahakan manusia. Pada tahap
akhir semuanya bergantung pada
kemurahan Allah Swt. Manusia hanya
bisa melakukan persiapan (isti’dad)
dengan cara membersihkan diri dari
segala dosa dan penyakit-penyakit
hati atau akhlak tercela lainnya.
Adapun Tanda-Tanda bagi adanya
ma'rifat adalah hidupnya hati
beserta Allah Ta'ala. Ditulis oleh al-
Ghazali, bahwasanya pernah terjadi
dialog antara Allah dan Nabi Daud
A.S. dimana Daud ditanya oleh Allah,
"Adakah Engkau tahu apakah
ma'rifat kepadaku ?", Daud
menjawab, "Tidak". Dijelakan oleh
Allah, "Ia itu adalah hidupnya hati
dalam musyahadah (menyaksikan)
kepadaku.
Ma'rifat hakiki terdapat dalam
maqam ru'yat wa al--musyahadah bi
sirr al-qalb. Orang yang ma'rifat
melihat sekedar hanya untuk
mengetahui. Karena ma'rifat yang
hakiki ada di dalam (bathin) iradah
Allah. Allah, ketika ini, hanya
membuka sebagian hijab sehingga
memungkinkan hambanya untuk
mengenali--Nya. Akan tetapi, Ia
tidak membuka seluruh hijab, agar
yang melihat-Nya tidak terbakar.
Tanda adanya ma'rifat hakiki pada
diri seseorang adalah jika di hatinya
telah tidak dijumpai tempat untuk
lain selain Allah. Ini erat kaitannya
dengan apa yang dikatakan sebagian
para Ulama tentang hakikat ma'rifat
bahwa hakikatnya adalah
menyaksikan (musyahadat) al-haqq
dengan tanpa perantaraan, tidak
bisa digambarkan, dan tanpa ada
kesamaran. (37) Potret dan contoh
figur yang telah sampai pada
tingkatan ini, sebagaimana
dicontohkan oleh al-Ghazali, misalnya
Ali bin Abi Thalib, Ja'far Shadiq.
Ketika Ali ditanya oleh seseorang,
"Wahai Amir al-Mu'minin, apakah
engkau menyembah seseuatu yang
engkau lihat atau sesuatu yang tidak
engkau lihat ?", Ali menjawab, "Tidak,
bahkan aku menyembah dzat yang
aku lihat tidak dengan mata
kepalaku, tetapi dengan mata
hatiku". Demikian juga ketika Ja'far
al-Shadiq R.A. ditanya "Apakah
engkau melihat Allah ?", ia menjawab,
"Apakah aku menyembah tuhan yang
tidak bisa aku lihat". Lalu ia ditanya
lagi, "Bagaimana engkau dapat
melihatnya pada-hal Ia (Tuhan)
adalah sesuatu yang tidak
terjangkau oleh peng-lihatan". Ja'far
Shadiq menegaskan, "Mata tidak bisa
melihat Tuhan dengan
penglihatannya, tetapi hati bisa
melihat-Nya dengan hakikat iman.
Ia tidak mungkin dapat diindera oleh
pan-caindera dan dipersamakan
dengan manusia. (38)
Dalam pandangan al-Ghazali, rahasia
serta "ruh" yang terkandung dalam
ma'rifat adalah tauhid, yaitu
penyucian sifat hayat 'ilmu, qudrat,
iradat, sam', bashar, dan kalam Allah
dari penyerupaan.
Adapun sumber ma'rifat menurut al-
Ghazali ada empat yaitu :
a. Pancaindera; Menurut al-Ghazali,
pancaindera adalah termasuk juga
sumber ma'rifat. Akan tetapi
bekerjanya hanya dalam beberapa
sumber, akan tetapi tidak dalam
yang lain.
b. Akal; Sebagaimana pancaindera,
akal juga adalah merupakan salah
satu sumber ma'rifat dalam beberapa
sumber. Tetapi sekali lagi,
ditegaskan bahwa ia bukanlah
segala-galanya. Menganggap dan
memberikan cakupan yang luas bagi
akal sebagai sumber ma'rifat dapat
menyebabkan penyepelean terhadap
al-Qur'an sebagai utama.
c. Wahyu; Menurut al-Ghazali, wahyu
adalah sumber terbesar bagi
Ma'rifat. Wilayah cakupannya sangat
luas, sesuai dengan posisinya sebagai
sumber pertama dan utama bagi
ajaran Islam.
d. Kasyf; yang dimaksud dengan
kasyf oleh al-Ghazali adalah cahaya
yang dihunjamkan ke dalam hati
hamba, sehingga hati dapat melihat
dan merasakan sesuatu dengan 'ain
al-yaqin. Kasyf adalah sumber kedua
bagi ma'rifat yang terbesar setelah
wahyu.
Tingkatan ma'rifat, menurut al-
Ghazali berjenjang sesuai dengan
tingkatan iman seseorang. Karena
itu, tingkatan ma'rifat dibagi
menjadi tiga sesuai dengan tingkatan
iman seseorang. Tiga tingkatan
tersebut yaitu :
a. Tingkatan pertama; imannya orang
awam. Iman dalam tingkatan ini
adalah iman taqlid yang murni.
b. Tingkatan kedua; Imannya para
ahli kalam. Mereka adalah orang-
orang yang mengaku ahli akal dan
berpikir atau mengaku sebagai tokoh
penelitian dan istidlal.
c. Tingkatan ketiga; Imannya para
'arifin yaitu orang-orang yang
menyaksikan dengan 'ainul yaqin.
(41)
Berkaitan dengan jalan perolehan
ma’rifat ini Imam Ibnu ‘Atha’illah
As-Sakandari dalam al-Hikam
menulis:
“Apabila Tuhan membukakan jalan
bagimu untuk Ma’rifat, maka jangan
hiraukan amalmu yang masih sedikit
itu, karena Allah tidak membuka
jalan tadi melainkan Dia (sendiri
yang) berkehendak memperkenalkan
diri-Nya kepada kamu. Tidakkah
anda ketahui bahwa perkenalan itu
adalah pemberian Allah pada anda.
Sedangkan amal-amal (yang anda
kerjakan) anda berikan amal-amal
itu untuk Allah, dan dimanakah
fungsi pemberian anda kepada Allah
apabila dibandingkan pada apa yang
didatangkan Allah atas anda ?”
Salah satu pendidikan yang dapat
ditemukan dari laku lampah Dunia
Ruhani bahwa setiap penempuh jalan
ruhani dituntut agar melihat kecil
apa yang datang dari hamba dan
betapa besar apa yang dikurniakan
oleh Allah. Ruhani yang terdidik
seperti ini akan membentuk sikap
beramal tanpa melihat kepada amal
itu sendiri, sebaliknya melihat amal
itu sebagai kurnia Allah yang wajib
disyukuri. Orang yang terdidik
seperti ini tidak lagi membuat
tuntutan kepada Allah tetapi
membuka hati nuraninya untuk
menerima hidayah dan taufik dari
Allah.
Orang yang hatinya suci bersih akan
menerima pancaran Sirr dan mata
hatinya akan melihat kepada hakikat
bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha
Mulia, Maha Suci dan Maha Tinggi.
Ia tidak mungkin ditemui dan
dikenali kecuali jika Dia (sendiri
yang) mau untuk ditemui dan
dikenali.
Tidak ada ilmu dan amal yang
mampu menyampaikan seseorang
kepada Allah. Tidak ada jalan untuk
mengenal Allah. Allah hanya (dapat)
dikenali apabila Dia memperkenalkan
‘diri-Nya’.
Penemuan kepada hakikat (bahwa
tidak ada jalan yang terluhur kepada
gerbang makrifat) merupakan puncak
yang dapat dicapai oleh ilmu. Ilmu
tidak mampu berjalan lebih jauh dari
itu. Apabila seseorang mengetahui
dan mengakui bahwa tidak ada jalan
atau tangga yang dapat mencapai
Allah, maka seseorang itu tidak lagi
bersandar kepada ilmu dan amalnya,
apa lagi kepada ilmu dan amal orang
lain. Sampai disini seseorang tidak
ada pilihan lagi melainkan
menyerahkan sepenuhnya kepada
Allah SWT.
Ada orang yang mengetuk pintu
gerbang ma’rifat dengan doanya.
Jika pintu itu tidak terbuka maka
semangatnya akan menurun hingga
membuatnya putus asa.
Ada pula orang yang berpegang
dengan janji Allah bahwa Dia akan
membuka jalan-Nya kepada hamba-
Nya yang berjuang pada jalan-Nya.
Kuatlah dia beramal dengan harapan
dirinya layak untuk menerima kurnia
Allah sebagaimana janji-Nya. Dia
menggunakan kekuatan amalnya
untuk mengetuk pintu gerbang
makrifat. Bila pintu tersebut tidak
terbuka juga maka dia menjadi ragu-
ragu.
Dalam perjalanan menggapai ma’rifat
seseorang tidak terlepas dari
perasaan ragu, lemah semangat dan
berputus asa. Jika dia masih
bersandar kepada sesuatu selain
Allah Swt, si hamba tidak ada pilihan
lain kecuali berserah kepada Allah
Swt.
Ma’rifat menurut Drs Imron Rosadi
MA, adalah pengetahuan, dan dalam
arti umum ialah ilmu atau
pengetahuan yang diperoleh melalui
akal. Dalam kajian ilmu tasawuf
“Ma’rifat adalah mengetahui Tuhan
dari dekat, sehingga hati sanubari
dapat melihat Tuhan”. Inilah yang
dikemukakan Harun Nasution dalam
Falsafat & Mistisisme dalam Islam.
Lewat hati sanubari seorang sufi
dapat melihat Tuhan. Dan kondisi
seperti itu (Ma’rifat) diungkapkan
para sufi dengan menyatakan “Kalau
mata yang terdapat dalam hati
sanubari manusia terbuka, maka
kepalanya akan tertutup dan ketika
itu yang dilihatnya hanya Allah
SWT”.
Kondisi Ma’rifat dijelaskan dalam
Ensiklopedi Islam (jilid tiga) bahwa
Ma’rifat merupakan cermin. Jika
seorang sufi melihat ke cermin, maka
yang akan dilihatnya hanya Allah
SWT. Artinya bahwa yang dilihat
orang Arif sewaktu tidur maupun
bangun hanya Allah SWT. Dengan
ungkapan ini terlihat begitu
dekatnya seorang sufi dengan
Tuhannya, dan kondisi Ma’rifat ini
mengisyaratkan bahwa Ma’rifat
adalah anugerah dari Tuhan.
Tuhanlah yang berkenan memberikan
pengetahuan langsung dengan
mengenugerahkan kemampuan
kepada orang yang dikehendaki
untuk menerima Ma’rifat. Ma’rifat
merupakan cahaya yang memancar ke
dalam hati, menguasai yang ada
dalam diri manusia dengan sinarnya
yang menyilaukan. Sekiranya
Ma’rifat mengambil bentuk materi,
semua orang yang melihat akan mati
karena tak tahan melihat kecantikan
serta keindahannya, dan semua
cahaya akan menjadi gelap di
samping cahaya keindahannya yang
gilang gemilang.
Sufi pertama yang menonjolkan
konsep Ma’rifat dalam tasawufnya
adalah ZUNNUN al-MISRI (Mesir, 180
H / 796 M – 246 H / 860 M). Ia
disebut “Zunnun” yang artinya
“Yang empunya ikan Nun”, karena
pada suatu hari dalam
pengembaraannya dari satu tempat
ke tempat lain ia menumpang sebuah
kapal saudagar kaya. Tiba-tiba
saudagar itu kehilangan sebuah
permata yang sangat berharga dan
Zunnun dituduh sebagai pencurinya.
Ia kemudian disiksa dan dianiaya
serta dipaksa untuk mengembalikan
permata yang dicurinya. Saat
tersiksa dan teraniaya itu Zunnun
menengadahkan kepalanya ke langit
sambil berseru: ”Ya Allah, Engkaulah
Yang Maha Tahu”. Pada waktu itu
secara tiba-tiba muncullah ribuan
ekor ikan Nun besar ke permukaan
air mendekati kapal sambil membawa
permata di mulut masing-masing.
Zunnun mengambil sebuah permata
dan menyerahkannya kepada
saudagar tersebut.
Dalam pandangan umum Zunnun
sering memperlihatkan sikap dan
perilaku yang aneh-aneh dan sulit
dipahami masyarakat umum. Karena
itulah ia pernah dituduh melakukan
Bid’ah sehingga ditangkap dan
dibawa ke Baghdad untuk diadili di
hadapan Khalifah al-Mutawakkil
(Khalifah Abbasiyah, memerintah
tahun 232 H / 847 M – 247 H / 861
M). Zunnun dipenjara selama 40 hari.
Selama di dalam penjara, saudara
perempuan Zunnun setiap hari
mengirimkan sepotong roti, namun
setelah dibebaskan, di kamarnya
masih didapati 40 potong roti yang
masih utuh.
Dzunun Al-Mishriy yang mengatakan;
alat untuk mencapat ma'rifat ada 3
macam; yakni: Qalby (hati), Sirr
(perasaan) dan Ruh. Sedangkan
tanda-tanda yang dimiliki oleh Shufi
bila sudah sampai kepada tingkatan
ma'rifat, antara lain:
a. Selalu memancar cahaya ma'rifat
padanya dalam segala sikap dan
perilakunya. Karena itu, sikap wara'
selalu ada pada dirinya.
b. Tidak menjadikan keputusan pada
sesuatu yang berdasarkan fakta
yang bersifat nyata, karena hal-hal
yang nyata menurut ajaran
Tasawuf, belum tentu benar.
c. Tidak menginginkan nikmat Allah
yang banyak buat dirinya, karena
hal itu bisa membawanya kepada
perbuatan yang haram.
Dari sinilah kita dapat melihat bahwa
seorang Shufi tidak
membutuhkan kehidupan yang
mewah, kecuali tingkatan kehidupan
yang
hanya sekedar dapat menunjang
kegiatan ibadahnya kepada Allah
SWT.,
sehingga Asy-Syekh Muhammad bin
Al-Fadhal mengatakan bahwa
ma'rifat
yang dimiliki Shufi, cukup dapat
memberikan kebahagiaan batin
padanya, karena merasa selalu
bersama-sama dengan Tuhan-nya.
Begitu rapatnya posisi hamba
dengan Tuhan-nya ketika mencapai
tingkat ma'rifat, maka ada beberapa
Ulama yang melukiskannya sebagai
berikut:
a. Imam Rawiim mengatakan, Shufi
yang sudah mencapai tingkatan
ma'rifat, bagaikan ia berada di muka
cermin; bila ia memandangnya,
pasti ia melihat Allah di dalamnya. Ia
tidak akan melihat lagi
dirinya dalam cermin, karena ia
sudah larut (hulul) dalam Tuhan-nya.
Maka tiada lain yang dilihatnya
dalam cermin, kecuali hanya Allah
SWT
saja.
b. Al-Junaid Al-Bahdaadiy
mengatakan, Shufi yang sudah
mencapai
tingkatan ma'rifat, bagaikan sifat air
dalam gelas, yang selalu
menyerupai warna gelasnya.
Maksudnya, Shufi yang sudah larut
(hulul)
dalam Tuhan-nya selalu menyerupai
sifat-sifat dan kehendak-Nya. Lalu
dikatakannya lagi bahwa seorang
Shufi, selalu merasa menyesal dan
tertimpa musibah bila suatu ketika
ingatannya kepada Allah terputus
meskipun hanya sekejap mata saja.
c. Sahal bin Abdillah mengatakan,
sebenarnya puncak ma'rifat itu
adalah keadaan yang diliputi rasa
kekagumam dan keheranan ketika
Shufi bertatapan dengan Tuhan-
nya, sehingga keadaan itu membawa
kepada kelupaan dirinya.
Keempat tahapan yang harus dilalui
oleh Shufi ketika menekuni
ajaran Tasawuf, harus dilaluinya
secara berurutan; mulai dari
Syariat, Tarekat, Hakikat dan
Ma'rifat. Tidak mungkin dapat
ditempuh
secara terbalik dan tidak pula secara
terputus-putus.Dengan cara
menempuh tahapan Tasawuf yang
berurutan ini,seorang hamba tidak
akan mengalami kegagalan dan tiak
pula mengalami kesesatan.
Menurut Abu Bakar al-Kalabazi (W.
380 H / 990 M) dalam al-Ta’aruf li
Mazahib Ahl at Tasawwuf
(Pengenalan terhadap mazhab-
mazhab Ahli Tasawuf), Zunnun telah
sampai pada tingkat Ma’rifat yaitu
maqam tertinggi dalam Tasawwuf
setelah menempuh jalan panjang
melewati maqam-maqam: Taubat,
Zuhud, Faqir, Sabar, Tawakal, Ridha
dan cinta atau Mahabbah. Kalau
Ma’rifat adalah mengetahui Tuhan
dengan hati sanubari, maka Zunnun
telah mencapainya. Maka, ketika
ditanya tentang bagaimana Ma’rifat
itu diperoleh ia menjawab : “Araftu
rabbi bi rabbi walau la rabbi lama
araftu rabbi”. (Aku mengetahui
Tuhanku karena Tuhanku, dan
sekiranya tidak karena Tuhanku,
niscaya aku tidak akan mengetahui
Tuhanku). Kata-kata Zunnun ini
sangat populer dalam kajian ilmu
Tasawwuf.
Zunnun mengetahui bahwa Ma’rifat
yang dicapainya bukan semata-mata
hasil usahanya sebagai sufi,
melainkan lebih merupakan anugerah
yang dilimpahkan Tuhan bagi
dirinya. Ma’rifah tidak dapat
diperoleh melalui pemikiran dan
penalaran akal, tetapi bergantung
pada kehendak dan rahmat Tuhan.
Ma’rifat adalah pemberian Tuhan
kepada Sufi yang sanggup
menerimanya.
Selanjutnya ketika mengungkapkan
tokoh Zunnun Ensiklopedi Islam
menjelaskan bahwa Zunnun membagi
Ma’rifat ke dalam tiga tingkatan
yaitu:
Tingkat awam. Orang awam mengenal
dan mengetahui Tuhan melalui
ucapan Syahadat.
Tingkat Ulama. Para Ulama, cerdik –
pandai mengenal dan mengetahui
Tuhan berdasarkan logika dan
penalaran akal.
Tingkat Sufi. Para Sufi mengetahui
Tuhan melalui hati sanubari.
Ma’rifat yang sesungguhnya adalah
Ma’rifat dalam tingkatan Sufi,
sedangkan Ma’rifat pada tingkat
awam dan tingkat ulama lebih tepat
disebut ilmu. Zunnun membedakan
antara ilmu dan Ma’rifat.
Ciri-ciri orang ‘Arif atau orang yang
telah sampai kepada Ma’rifat adalah
Cahaya Ma’rifatnya yang berupa
ketaqwaan tidak pernah padam
dalam dirinya.
Tidak meyakini hakikat kebenaran
suatu ilmu yang menghapuskan atau
membatalkan Zahirnya.
Banyaknya nikmat yang
dianugerahkan Tuhan kepadanya
tidak membuatnya lupa dan
melanggar aturan Tuhan.
Dijelaskan bahwa akhlaq Sufi tidak
ubahnya dengan akhlaq Tuhan. Ia
baik dan lemah lembut serta
senantiasa berusaha agar seluruh
sikap dan perilakunya mencerminkan
sifat-sifat Tuhan.
Namun demikian untuk mencapai
tingkat ini tidaklah mudah meskipun
selintas dapat dipahami bahwa
Ma’rifat didapat dengan ikhlas
beribadah dan sungguh-sungguh
mencintai dan mengenal Tuhan,
sehingga Allah SWT berkenan
menyingkap tabir dari pandangan
Sufi untuk menerima cahaya yang
dipancarkan, yang pada akhirnya
Sufi dapat melihat keindahan dan
keesaan-Nya. Jalan yang dilalui
seorang Sufi tidaklah mulus dan
mudah. Sulit sekali untuk pindah dari
satu maqam ke maqam yang lain.
Untuk itu seorang Sufi memang harus
melakukan usaha yang berat dan
waktu yang panjang, bahkan
kadang-kadang ia masih harus
tinggal bertahun-tahun di satu
maqam.
Dalam pada itu Ma’rifatpun harus
dicapai melalui proses yang terus-
menerus. Semakin banyak seorang
Sufi mencapai Ma’rifat, semakin
banyak yang diketahui tentang
rahasia-rahasia Tuhan, meskipun
demikian tidak mungkin Ma’rifatullah
menjadi sempurna, karena manusia
sungguh amat terbatas, sementara
Tuhan tidak terbatas. Karena itu al-
Junaid al-Baghdadi, seorang tokoh
Sufi modern berkomentar tentang
keterbatasan manusia dengan
mengatakan “Cangkir teh takkan
mungkin menampung semua air laut”.
Paham Ma’rifat Zunnun dapat
diterima al-Ghazali sehingga paham
ini mendapat pengakuan Ahlussunah
wal Jama’ah. Al-Ghazali sebagai
figur yang berpengaruh di kalangan
Ahlussunah wal Jama’ah diakui dapat
menjadikan Tasawwuf diterima kaum
syari’at. Sebelumnya para ulama
memandang Tasawuf seperti yang
diajarkan al-Bustami (W. 261 H /
874 M) dan al-Hallaj (244 - 309 H /
858 – 922 M) khususnya menyimpang
dengan paham Hulul / Ittihad /
penyatuan yang dalam pemahaman
“Kejawen” dikenal dengan
“Manunggaling Kawulo Gusti”
Ma’rifat menurut al-Ghazali adalah
maqam kedekatan (qurb) itu sendiri
yakni maqam yang memiliki daya
tarik dan yang memberi pengaruh
pada kalbu, yang lantas berpengaruh
pada seluruh aktivitas jasmani
(jawarih). `Ilm (ilmu) tentang sesuatu
adalah seperti “melihat api” sebagai
contoh, sedangkan ma`rifat adalah
“menghangatkan diri dengan api”.
Menurut bahasa, ma`rifat adalah
pengetahuan yang tidak ada lagi
keraguan di dalamnya. Adapun
menurut istilah yang sering dipakai
menunjukkan ilmu pengetahuan
tentang apa saja (nakirah). Menurut
istilah Sufi, ma`rifat adalah
pengetahuan yang tidak ada lagi
keraguan, apabila yang berkaitan
dengan objek pengetahuan itu
adalah Dzat Allah swt. dan Sifat-
sifat-Nya. Jika ditanya, `Apa yang
disebut ma`rifat Dzat dan apa pula
ma’rifat Sifat?” Maka dijawab bahwa
ma’rifat Dzat adalah mengetahui
bahwa sesungguhnya Allah swt.
adalah Wujud Yang Esa, Tunggal,
Dzat dan “sesuatu” Yang
Mahaagung, Mandiri dengan Sendiri-
Nya dan tidak satu pun yang
menyerupai-Nya.
Sedangkan ma’rifat Sifat adalah
mengetahui sesungguhnya Allah swt.
Mahahidup, Maha Mengetahui,
Mahakuasa, Maha Mendengar dan
Maha Melihat, dan seluruh Sifat-
sifat Keparipurnaan lainnya.
Kalau ditanya, `Apa rahasia ma`ri
fat?” Rahasia dan ruhnya adalah
tauhid. Yaitu, jika anda telah
menyucikan sifat-sifat Mahahidup,
Ilm (Ilmu), Qudrah, Iradah, Sama ;
Bashar dan Kalam Allah dari segala
keserupaan dengan sifat-sifat
makhluk [dengan penegasan bahwa
tiada satu pun yang menyamai-Nya].
Lalu, apa tanda-tanda ma`rifat?
Tanda-tandanya adalah hidupnya
kalbu bersama Allah swt. Allah swt.
mewahyukan kepada Nabi Dawud
a.s., “Mengertikah engkau, apakah
ma’rifat-Ku itu?” Dawud menjawab,
“Tldak.”Allah berfirman, “Hidupnya
kalbu dalam musyahadah kepada-Ku.
“
Kalau ditanya, “Tahap atau maqam
manakah yang dapat disahkan
sebagai ma `rifat yang
hakiki?” [Jawabnya] adalah tahap
musyahadah (penyaksian) dan ru’yat
(melihat) dengan sirr qalbu. Hamba
melihat untuk mencapai ma’rifat.
Karena ma’rifat yang hakiki ada
dalam dimensi batin pada iradah,
kemudian Allah swt. menghilangkan
sebagian tirai (hijab), lantas kepada
mereka diperlihatkan nur Dzat-Nya
dan Sifat-sifat-Nya dari balik hijab
itu agar mereka sampai pada
ma’rifat kepada Allah swt. Hijab itu
tidak dibukakan seluruhnya, agar
yang melihat-Nya tidak terbakar.
Sang Sufi bersyair dengan ungkapan
pencapaian pada tahap spiritual
tertentu :
Seandainya Aku tampak tanpa hijab
Pastilah seluruh makhluk sempurna
Namun hijab itu amat halus
Agar merevitalisasi kalbu para hamba
yang `asyiq.
Ketahuilah, bahwa manifestasi
(tajalli) keagungan melahirkan rasa
takut (khauf) dan keterpesonaan
(haibah). Sedangkan manifestasi
keelokan (al-Hasan) dan Keindahan
(al-Jamal) melahirkan keasyikan.
Sementara manifestasi Sifat-sifat
Allah melahirkan mahabbah. Dan
manifestasi Dzat meniscayakan
lahirnya penegasan keesaan (tauhid).
Sebagian ahli ma’rifat berkata,
“Demi Allah, tidak seorang pun yang
mencari dunia, selain orang itu
dibutakan kalbunya oleh Allah, dan
dibatalkan amalnya. Sesungguhnya
Allah menciptakan dunia sebagai
kegelapan, dan menjadikan matahari
sebagai cahaya. Allah menjadikan
kalbu juga gelap, lalu dijadikan
ma’rifat sebagai cahayanya. Apabila
awan telah tiba, cahaya matahari
akan terhalang. Begitupun ketika
kecintaan dunia tiba, cahaya
ma’rifat akan terhalang dari kalbu.”
Ada pula yang mengatakan, “Hakikat
ma’rifat adalah cahaya yang
dikaruniakan di dalam kalbu Mukmin,
dan tiada yang lebih mulia dalam
khazanah kecuali ma’rifat.”
Sebagian Sufi berkata, “Matahari
kalbu Sang `Arif lebih terang dan
bercahaya dibandingkan matahari di
siang hari. Karena matahari pada
siang hari kemungkinan menjadi
gelap karena gerhana, sedangkan
matahari kalbu tiada pernah
mengalami peristiwa gerhana (kusuf).
Matahari siang tenggelam ketika
malam, namun tidak demikian pada
matahari kalbu.” Mereka
mendendangkan syair:
Matahari siang tenggelam di waktu
senja
matahari kalbu tiada pernah
tenggelam
Siapa yang mencintai Sang Kekasih
`Kan terbang sayap rindunya
menemui Kekasihnya.
Dzun Nun berkata bahwa hakikat
ma’rifat adalah penglihatan al-Haq
atas rahasia-rahasia relung kalbu
melalui perantaraan (muwashalah)
Kilatan-kilatan lembut (latha’if)
cahaya-cahaya:
Bagi orang `arifin, terdapat kalbu-
kalbu yang diperlihatkan
Cahaya I1ahi dengan rahasia di atas
rahasia
Yang terdapat dalam berbagai hijab
Tu1i dari makhluk, buta dari
pandangan mereka
Bisu dari berucap dalam klaim-klaim
dusta.
Sebagian di antara mereka ditanyai,
“Kapankah seorang hamba
mengetahui bahwa dia telah
mencapai ma’rifat yang hakiki?”
Dijawab, “Tatkala dia mencapai
tahapan tidak menemukan dalam
kalbunya sedikit pun ruang bagi
selain Tuhannya.”
Sebagian Sufi ada pula yang
berkata, “Hakikat ma’rifat adalah
musyahadah kepada Yang Haq tanpa
perantara, tanpa bisa diungkapkan,
tanpa ada keraguan (syubhah).”
Seperti ketika Amirul-Mukminin Ali
bin Abi Thalib r.a. ditanya, “Wahai
Amirul-Mukminin, apakah yang anda
sembah itu yang dapat anda lihat
atau tidak dapat anda lihat?”
“Bukan begitu, bahkan aku
menyembah Yang aku lihat, bukan
dengan penglihatan mata, tetapi
penglihatan kalbu,” jawab Ali.
Ja’far ash-Shadiq ditanya, “Apakah
anda pernah melihat Allah swt.?”
“Aku tidak menyembah Tuhan yang
tidak bisa kulihati” Ditanyakan lagi,
“Bagaimana anda melihat-Nya,
padahal Dia tidak dapat dilihat
mata?”
Ja’far menjawab, “Mata penglihatan
fisik tidak bisa melihat-Nya, tetapi
mata batin (al-qulub) dapat
melihat-Nya melalui hakikat iman.
Tidak diketahui melalui
penginderaan dan tidak pula
dianalogikan dengan manusia.”
Sebagian `arifin ditanya seputar
hakikat ma’rifat. Mereka berkata,
“Menyucikan sirr (rahasia) kalbu dari
segala kehendak ‘ dan meninggalkan
kebiasaan sehari-hari, tentramnya
kalbu kepada Allah swt. tanpa ada
ganjalan (`alaqah), berhenti dari
sikap berpaling dari Allah swt. dan
menuju selain Allah swt. Mustahil,
ma’rifat kepada substansi Dzat-Nya
dan Sifat-sifat-Nya, dan tidak akan
diketahui siapa Dia, kecuali melalui
Dia sendiri, Yang Mahaluhur,
Mahatinggi, serta Kemuliaan hanya
kepada Diri-Nya saja.”
Bashirah, Mukasyafah, Musyahadah
dan Mu’ayanah
Bashirah, Mukasyafah, Musyahadah
dan Mu`ayanah merupakan term-
term yang sinonim. Perbedaannya
pada tataran makna penjelasannya
yang utuh, bukan pada tataran
makna asalnya. Kedudukan bashirah
(mata batin) pada akal sama dengan
kedudukan cahaya mata (batin) pada
mata penglihatan (fisik). Kedudukan
ma’rifat pada bashirah adalah
seperti kedudukan bola matahari
yang berpijar pada cahaya mata,
sehingga dengan sinar itu, objek-
objek yang jelas dan yang tidak
tampak dapat dikenali.
Di dalam kehidupan (hayah) itu
sendiri, Tauhid dapat diketahui.Allah
swt. berfirman: “Bukankah orang
yang sudah mati, kemudian dia Kami
hidupkan?” (Q. s. al-An’am:122).
Sedangkan al-yaqin -ketahuilah –
keyakinan (al-i`tiqad) dan ilmu,
apabila telah bersemayam dalam
kalbu dan tidak ada yang menjadi
penghalang (ma’aridh) bagi masing-
masing, akan membuahkan ma`rifat
dalam kalbu. Dan ma’rifat tersebut
dinamakan al-yaqin. Karena hakikat
yakin adalah kejernihan ilmu yang
didapatkan (acquired) melalui
perolehan karunia (muktasab),
sehingga menjadi seperti ilmu
aksiomatik, dan kalbu menyaksikan
keseluruhan, sebagaimana dikabarkan
oleh syariat, baik dalarn persoalan
dunia maupun akhirat. Dikatakan,
`Air menjadi jelas ketika bersih dari
kekeruhannya.”
Ilham adalah pencapaian (hushul)
ma’rifat tersebut tanpa disertai
sebab dan upaya, tetapi dengan
ilham langsung dari Allah swt. setelah
kalbu menjadi jernih dari segala
sikap memandang baik (istihsan) dua
jagad – jagad dunia maupun akhirat.
Sementara firasat adalah
pengetahuan akan perlambang dari
Allah swt., antara Dia dan hamba-
Nya, yang memberi petunjuk pada
segi esoterik (sisi paling dalam)
hukum-hukumNya. Firasat tidak akan
hadir, kecuali pada derajat taqarrub.
Tetapi dia berada di bawah ilham.
Karena ilham tidak membutuhkan
alamat-alamat. Namun firasat
membutuhkan alamat atau tanda
perlambang, baik bersifat umum
maupun khusus
Abu Said al Kharraz rahimahullah
pernah ditanya tentang ma’rifat.
Lalu ia menjawab, “Ma’rifat itu
datang lewat dua sisi: Pertama, dari
anugerah Kedermawanan Allah
langsung, dan kedua, dari
mengerahkan segala kemampuan atau
yang lebih dikenal sebagai usaha
(kasab) seorang hamba.”
Sementara itu Abu Turab an-
Nakhsyabi – rahimahullah – ditanya
tentang sifat orang yang arif, lalu ia
menjawab, “Orang arif adalah orang
yang tidak terkotori oleh apa saja,
sementara segala sesuatu akan
menjadi jernih karenanya.”
Ahmad bin ‘Atha’ – rahimahullah –
berkata, “Ma’rifat itu ada dua:
Ma’rifat al-Haq dan ma’rifat
hakikat. Adapun ma’rifat al-Haq
adalah ma’rifat (mengetahui)
Wahdaniyyah-Nya melalui Nama-
nama dan Sifat-sifat yang
ditampakkan pada makhluk-Nya.
Sedangkan ma’rifat hakikat, tak ada
jalan untuk menuju ke sana. Sebab
tidak memungkinkannya Sifat
Shamadiyyah (Keabadian dan
Tempat ketergantungan makhluk)-
Nya, dan mengaktualisasikan
Rububiyyah (Ketuhanan)-Nya.
Karena Allah telah berfirman:
“Sedangkan ilmu mereka tidak dapat
meliputi (memahami secara detail)
Ilmu-Nya”.” (Q.s. Thaha: 110).
Syekh Abu Nashr as-Sarraj –
rahimahullah – menjelaskan:
Makna ucapan Ahmad bin’Atha’, “Tak
ada jalan menuju ke sana,” yakni
ma’rifat (mengetahui) secara hakiki.
Sebab Allah telah menampakkan
Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya
kepada makhluk-Nya, dimana Dia
tahu bahwa itulah kadar kemampuan
mereka. Sebab untuk tahu dan
ma’rifat secara hakiki tidak akan
mampu dilakukan oleh makhluk.
Bahkan hanya sebesar atom pun dari
ma’rifat-Nya tidak akan sanggup
dicapai oleh makhluk. Sebab alam
dengan apa yang ada di dalamnya
akan lenyap ketika bagian terkecil
dari awal apa yang muncul dari
Kekuasaan Keagungan-Nya. Lalu
siapa yang sanggup ma’rifat
(mengetahui) Dzat Yang salah satu
dari Sifat-sifat-Nya sebagaimana
itu?
Oleh karenanya ada orang berkata,
“Tak ada selain Dia yang sanggup
mengetahui-Nya, dan tak ada yang
sanggup mencintai-Nya selain Dia
sendiri. Sebab Kemahaagungan dan
Keabadian (ash-Shamadiyyah) tak
mungkin dapat dipahami secara
detail. Allah swt. berfirman:
“Dan mereka tidak mengetahui apa
apa dari ilmu Allah melainkan apa
yang dikehendaki-Nya”.” (Q.s. al-
Baqarah: 255).
Sejalan dengan makna ini, ada
riwayat dari Abu Bakar ash-Shiddiq
r.a. yang pernah berkata, “Mahasuci
Dzat Yang tidak membuka jalan
untuk ma’rifat-Nya kecuali dengan
menjadikan seseorang tidak sanggup
mengetahui-Nya.”
Asy-Syibli – rahimahullah – pernah
ditanya, “Kapan seorang arif berada
dalam tempat kesaksian al-Haq?”
Ia menjawab, “Tatkala Dzat Yang
menyaksikan tampak, dan bukti-
bukti fenomena alam yang menjadi
saksi telah fana’ (sirna) indera dan
perasaan pun menjadi hilang.”
“Apa awal dari masalah ini dan apa
pula akhirnya?”
Ia menjawab, “Awalnya adalah
ma’rifat dan ujungnya adalah
mentauhidkan-Nya.”
Ia melanjutkan, “Salah satu dari
tanda ma’rifat adalah melihat
dirinya berada dalam ‘Genggaman’
Dzat Yang Mahaagung, dan segala
perlakuan Kekuasaan Allah
berlangsung menguasai dirinya. Dan
ciri lain dari ma’rifat adalah rasa
cinta (al-Mahabbah). Sebab orang
yang ma’rifat dengan-Nya tentu
akan mencintai-Nya.”
Abu Nazid Thaifur bin Isa al-
Bisthami – rahimahullah – pernah
ditanya tentang sifat orang arif, lalu
ia menjawab, “Warna air itu sangat
dipengaruhi oleh warna tempat
(wadah) yang ditempatinya. Jika air
itu anda tuangkan ke dalam tempat
yang berwarna putih maka anda
akan menduganya berwarna putih.
Jika Anda tuangkan ke dalam tempat
yang berwarna hitam, maka Anda
akan menduganya berwarna hitam.
Dan demikian pula jika Anda
tuangkan ke dalam tempat yang
berwarna kuning dan merah, ia akan
selalu diubah oleh berbagai kondisi.
Sementara itu yang mengendalikan
berbagai kondisi spiritual adalah
Dzat Yang memiliki dan
menguasainya.”
Syekh Abu Nashr as-Sarraj –
rahimahullah – menjelaskannya:
Artinya, – hanya Allah Yang
Mahatahu – bahwa kadar kejernihan
air itu akan sangat bergantung pada
sifat dan warna tempat (wadah) yang
ditempatinya. Akan tetapi warna
benda yang ditempatinya tidak akan
pernah berhasil mengubah kejernihan
dan kondisi asli air itu. Orang yang
melihatnya mungkin mengira, bahwa
air itu berwarna putih atau hitam,
padahal air yang ada di dalam
tempat tersebut tetap satu makna
yang sesuai dengan aslinya.
Demikian pula orang yang arif dan
sifatnya ketika “bersama” Allah Azza
wa jalla dalam segala hal yang
diubah oleh berbagai kondisi
spiritual, maka rahasia hati
nuraninya “bersama” Allah adalah
dalam satu makna.
Al-junaid – rahimahullah – pernah
ditanya tentang rasionalitas orang-
orang arif (al-’arifin). Kemudian ia
menjawab, “Mereka lenyap dari
kungkungan sifat-sifat yang
diberikan oleh orang-orang yang
memberi sifat.”
Sebagian dari para tokoh Sufi
ditanya tentang ma’rifat. Lalu ia
menjawab, “Adalah kemampuan hati
nurani untuk melihat kelembutan-
kelembutan apa yang diberitahukan-
Nya, karena ia telah menauhidkan-
Nya.”
Al-Junaid – rahimahullah – ditanya,
“Wahai Abu al-Qasim, (nama lain
dari panggilan al-junaid, pent.). apa
kebutuhan orang-orang arif kepada
Allah?”
Ia menjawab, “Kebutuhan mereka
kepada-Nya adalah perlindungan
dan pemeliharaan-Nya pada
mereka.”
Muhammad bin al-Mufadhdhal as-
Samarqandi – rahimahullah – berkata,
“Akan tetapi mereka tidak
membutuhkan apa-apa dan tidak
ingin memilih apa pun. Sebab tanpa
membutuhkan dan memilih, mereka
telah memperoleh apa yang
semestinya mereka peroleh. Karena
apa yang bisa dilakukan orang-
orang arif adalah berkat Dzat Yang
mewujudkan mereka, kekal dan
fananya juga berkat Dzat Yang
mewujudkannya.”
Muhammad bin al-Mufadhdhal juga
pernah ditanya, ” Apa yang
dibutuhkan orang-orang arif?”
Ia menjawabnya, “Mereka
membutuhkan moral (akhlak) yang
dengannya semua kebaikan bisa
sempurna, dan ketika moral tersebut
hilang, maka segala kejelekan akan
menjadi jelek seluruhnya. Akhlak itu
adalah istiqamah.”
Yahya bin Mu’adz – rahimahullah –
ditanya tentang sifat orang arif,
maka ia menjawab, “Ia bisa masuk di
kalangan orang banyak, namun ia
terpisah dengan mereka.”
Dalam kesempatan lain ia ditanya
lagi tentang orang yang arif, maka
ia menjawab, “Ialah seorang hamba
yang ada (di tengah-tengah orang
banyak) lalu ia terpisah dengan
mereka.”
Abu al-Husain an-Nuri –
rahimahullah – ditanya, “Bagaimana
Dia tidak bisa dipahami dengan akal,
sementara Dia tidak dapat diketahui
kecuali dengan akal”
Ia menjawab, “Bagaimana sesuatu
yang memiliki batas bisa memahami
Dzat Yang tanpa batas, atau
bagaimana sesuatu yang memiliki
kekurangan bisa memahami Dzat
Yang tidak memiliki kekurangan dan
cacat sama sekali, atau bagaimana
seorang bisa membayangkan kondisi
bagaimana terhadap Dzat Yang
membuat kemampuan imajinasi itu
sendiri, atau bagaimana orang bisa
menentukan ‘di mana’ terhadap Dzat
Yang menentukan ruang dan tempat
itu sendiri. Demikian pula Yang
menjadikan yang awal dan
mengakhirkan yang terakhir,
sehingga Dia disebut Yang Pertama
dan Terakhir. Andaikan Dia tidak
mengawalkan yang awal dan
mengakhirkan yang terakhir tentu
tidak bisa diketahui mana yang
pertama dan mana yang terakhir.”
Kemudian ia melanjutkannya, “Al-
Azzaliyyah pada hakikatnya
hanyalah al-Abadiyyah (Keabadian),
di mana antara keduanya tidak ada
pembatas apa pun. Sebagaimana
Awwaliyyah (awal) adalah juga
Akhiriyyah (akhir) dan akhir adalah
juga awal. Demikian pula lahir dan
batin, hanya saja suatu saat Dia
menghilangkan Anda dan suatu saat
menghadirkan Anda dengan tujuan
untuk memperbarui kelezatan dan
melihat penghambaan (‘ubudiyyah).
Sebab orang yang mengetahui-Nya
melalui penciptaan makhluk-Nya, ia
tidak akan mengetahui-Nya secara
langsung. Sebab penciptaan
makhluk-Nya berada dalam makna
firman-Nya, ‘Kun’ (wujudlah).
Sementara mengetahui secara
langsung adalah menampakkan
kehormatan, dan sama sekali tidak
ada kerendahan.”
Saya (Syekh Abu Nashr as Sarrai)
katakan: Makna dan ucapan an-Nuri,
“mengetahui-Nya secara langsung,”
ialah langsung dengan yakin dan
kesaksian hati nurani akan hakikat-
hakikat keimanan tentang hal-hal
yang gaib.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj –
rahimahullah – melanjutkan
penjelasannya: Makna dari apa yang
diisyaratkan tersebut – hanya Allah
Yang Mahatahu – bahwa menentukan
dengan waktu dan perubahan itu
tidak layak bagi Allah swt. Maka Dia
terhadap apa yang telah terjadi
sama seperti pada apa yang bakal
terjadi. Pada apa yang telah Dia
firmankan sama seperti pada apa
yang bakal Dia firmankan. Sesuatu
yang dekat menurut Dia sama
seperti yang jauh, begitu sebaliknya,
sesuatu yang jauh sama seperti yang
dekat. Sedangkan perbedaan hanya
akan terjadi bagi makhluk dari sudut
penciptaan dan corak dalam masalah
dekat dan jauh, benci dan senang
(ridha), yang semua itu adalah sifat
makhluk, dan bukan salah satu dari
Sifat-sifat al-Haq swt. – dan hanya
Allah Yang Mahatahu-.
Ahmad bin Atha’ – rahimahullah –
pernah mengemukakan sebuah
ungkapan tentang ma’rifat. Dimana
hal ini konon juga diceritakan dari
Abu Bakar al-Wasithi. Akan tetapi
yang benar adalah ungkapan Ahmad
bin ‘Atha’, “Segala sesuatu yang
dianggap jelek itu akan menjadi
jelek hanya karena tertutupi hijab-
Nya (tidak ada nilai-nilai
Ketuhanan). Sedangkan segala
Sesuatu yang dianggap baik itu
menjadi baik hanya karena
tersingkap (Tajalli)-Nya (terdapat
nilai-nilai Ketuhanan). Sebab
keduanya merupakan sifat yang
selalu berlaku sepanjang masa,
sebagaimana keduanya berlangsung
sejak azali. Dimana tampak dua ciri
yang berbeda pada mereka yang
diterima dan mereka yang ditolak.
Mereka yang diterima, benar-benar
tampak bukti-bukti Tajalli-Nya pada
mereka dengan sinar terangnya,
sebagaimana tampak jelas bukti
bukti tertutup hijab-Nya pada
mereka yang tertolak dengan
kegelapannya. Maka setelah itu,
tidak ada manfaatnya lagi warna-
warna kuning, baju lengan pendek,
pakaian serba lengkap maupun
pakaian-pakaian bertambal (yang
hanya merupakan simbolis semata,
pent.).”
Saya katakan, bahwa apa yang
dikemukakan oleh Ahmad bin Atha’
maknanya mendekati dengan apa
yang dikatakan oleh Abu Sulaiman
Abdurrahman bin Ahmad ad-Darani –
rahimahullah – dimana ia berkata,
“Bukanlah perbuatan-perbuatan
(amal) seorang hamba itu yang
menjadikan-Nya senang (ridha) atau
benci. Akan tetapi karena Dia ridha
kepada sekelompok kaum, kemudian
Dia jadikan mereka orang-orang
yang berbuat dengan perbuatan
(amal) orang-orang yang diridhai-
Nya. Demikian pula, karena Dia benci
pada sekelompok kaum, kemudian Dia
jadikan mereka orang-orang yang
berbuat dengan perbuatan orang-
orang yang dibenci-Nya.”
Sedangkan makna ucapan Ahmad bin
Atha’, “Segala sesuatu yang
dianggap jelek itu akan menjadi
jelek hanya karena tertutupi hijab-
Nya.” Maksudnya adalah karena Dia
berpaling dari kejelekan tersebut.
Sementara ucapannya yang
menyatakan, “Segala sesuatu yang
dianggap baik itu menjadi baik
hanya karena tersingkap (Tajalli)-
Nya.” Maksudnya adalah karena Dia
menyambut dan menerimanya. Makna
semua itu adalah sebagaimana yang
diterangkan dalam sebuah Hadis:
Dimana Rasulullah saw. pernah
keluar, sementara di tangan beliau
ada dua buah Kitab: Satu kitab di
tangan sebelah kanan, dan satu
Kitab yang lain di tangan sebelah
kiri. Kemudian beliau berkata, “Ini
adalah Kitab catatan para penghuni
surga lengkap dengan nama-nama
mereka dan nama bapak-bapak
mereka. Sementara yang ini adalah
Kitab catatan para penghuni neraka
lengkap dengan nama-nama mereka
beserta nama bapak-bapak
mereka.” (H.r. Tirmidzi dari Abdullah
bin Amr bin Ash. Hadist ini Hasan
Shahih Gharib. Juga diriwayatkan
oleh ath-Thabrani, dari Ibnu Umar).
Ketika Abu Bakar al-Wasithi –
rahimahullah – mengenalkan dirinya
kepada kaum elite Sufi, maka ia
berkata, “Diri (nafsu) mereka (kaum
arif telah sirna, sehingga tidak
menyaksikan kegelisahan dengan
menyaksikan fenomena-fenomena
alam yang menjadi saksi Wujud-Nya
al-Haq, sekalipun yang tampak pada
mereka hanya bukti-bukti
kepentingan nafsu.”
Demikian juga orang yang
memberikan sebuah komentar
tentang makna ini. Artinya – dan
hanya Allah Yang Mahatahu -,
“Sesungguhnya orang yang
menyaksikan bukti-bukti awal pada
apa yang telah ia ketahui, melalui
apa yang dikenalkan Tuhan Yang
disembahnya, ia tidak menyaksikan
kegelisahan dengan hanya
menyaksikan apa yang selain Allah
(yakni fenomena alam), dan juga
tidak merasa senang dengan mereka
(makhluk).”
Sabtu, 13 Agustus 2016
belajar tasawuf (pengertian ma'rifat)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar