Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-
Atsari
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَﺍﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ۗ ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺗُﻮَﻓَّﻮْﻥَ ﺃُﺟُﻮﺭَﻛُﻢْ
ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ۖ ﻓَﻤَﻦْ ﺯُﺣْﺰِﺡَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﺃُﺩْﺧِﻞَ
ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ۗ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ
ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati. Dan
sesungguhnya pada hari kiamat
sajalah disempurnakan pahalamu.
Barangsiapa dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam
surga maka sungguh ia telah
beruntung. Kehidupan dunia itu
tidak lain hanyalah kesenangan
yang memperdayakan. [Ali
Imrân/3:185]
Allâh Azza wa Jalla memberikan
pemberitaan umum kepada
seluruh makhluk, bahwa setiap
jiwa akan merasakan kematian.
Hanya Allâh Yang Maha Hidup,
tidak akan mati. Adapun jin,
manusia, malaikat, semua akan
mati.
Kematian merupakan hakekat
yang menakutkan. Dia akan
mendatangi seluruh orang yang
hidup dan tidak ada yang kuasa
menolak maupun menahannya.
Maut merupakan ketetapan Allâh
Azza wa Jalla . Ini adalah
hakekat yang sudah diketahui.
Maka sepantasnya kita bersiap
diri menghadapinya dengan iman
sejati dan amal shalih yang
murni.
Di dalam tulisan ini insya Allah
akan kami sampaikan beberapa
peristiwa yang terjadi di alam
kubur sehingga menjadikan kita
lebih waspada dalam menjalani
kehidupan dunia ini agar
selamat di alam kubur.
ALAM KUBUR MENAKUTKAN
Hani’ Radhiyallahu anhu , bekas
budak Utsmân bin Affân
Radhiyallahu anhu , berkata,
“Kebiasaan Utsman Radhiyallahu
anhu jika berhenti di sebuah
kuburan, beliau menangis sampai
membasahi janggutnya. Lalu
beliau Radhiyallahu anhu
ditanya, ‘Disebutkan tentang
surga dan neraka tetapi engkau
tidak menangis. Namun engkau
menangis dengan sebab ini
(melihat kubur), (Mengapa
demikian?)’ Beliau,
‘Sesungguhnya Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, (yang artinya) ‘Kubur
adalah persinggahan pertama
dari (persinggahan-
persinggahan) akhirat. Bila
seseorang selamat dari
(keburukan)nya, maka setelahnya
lebih mudah darinya; bila
seseorang tidak selamat dari
(keburukan)nya, maka setelahnya
lebih berat darinya.’ Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
bersabda, ‘Aku tidak melihat
suatu pemandangan pun yang
lebih menakutkan daripada
kubur.’” [HR. At-Tirmidzi dan
Ibnu Mâjah; dihasankan oleh
syaikh al-Albâni]
Karena fase setelah kubur lebih
mudah bagi yang selamat, maka
ketika melihat surga yang
disiapkan Allâh Azza wa Jalla
dalam kuburnya, seorang Mukmin
mengatakan, “Ya Rabb,
segerakanlah kiamat agar aku
kembali ke keluarga dan
hartaku.” Sebaliknya, orang-
orang kafir, ketika melihat adzab
pedih yang disiapkan Allâh Azza
wa Jalla baginya, ia berseru, “Ya
Rabb, jangan kau datangkan
kiamat.” Karena yang akan
datang setelahnya lebih pedih
siksanya dan lebih menakutkan.
GELAPNYA ALAM KUBUR
Hal iniditunjukkan oleh hadits
shahih :
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓً ﺳَﻮْﺩَﺍﺀَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺗَﻘُﻢُّ
ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪَ – ﺃَﻭْ ﺷَﺎﺑًّﺎ – ﻓَﻔَﻘَﺪَﻫَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ
ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺴَﺄَﻝَ ﻋَﻨْﻬَﺎ – ﺃَﻭْ ﻋَﻨْﻪُ
– ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻣَﺎﺕَ . ﻗَﺎﻝَ « ﺃَﻓَﻼَ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺁﺫَﻧْﺘُﻤُﻮﻧِﻰ
» . ﻗَﺎﻝَ ﻓَﻜَﺄَﻧَّﻬُﻢْ ﺻَﻐَّﺮُﻭﺍ ﺃَﻣْﺮَﻫَﺎ – ﺃَﻭْ ﺃَﻣْﺮَﻩُ –
ﻓَﻘَﺎﻝَ « ﺩُﻟُّﻮﻧِﻰ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺒْﺮِﻩِ ». ﻓَﺪَﻟُّﻮﻩُ ﻓَﺼَﻠَّﻰ
ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ « ﺇِﻥَّ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﻘُﺒُﻮﺭَ ﻣَﻤْﻠُﻮﺀَﺓٌ
ﻇُﻠْﻤَﺔً ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻳُﻨَﻮِّﺭُﻫَﺎ
ﻟَﻬُﻢْ ﺑِﺼَﻼَﺗِﻰ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ».
Dari sahabat Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu bahwa
seorang wanita hitam -atau
seorang pemuda- biasa menyapu
masjid Nabawi pada masa
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak
mendapatinya sehingga beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menanyakannya. Para sahabat
menjawab, ‘Dia telah meninggal’.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata, ‘Kenapa kalian
tidak memberitahukan
kepadaku?’ Abu Hurairah
berkata, ‘Seolah-olah mereka
meremehkan urusannya’. Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, ‘Tunjukkan kuburnya
kepadaku’. Lalu mereka
menunjukkannya, beliau pun
kemudian menyalati wanita itu,
lalu bersabda, “Sesungguhnya
kuburan-kuburan ini dipenuhi
kegelapan bagi para
penghuninya, dan sesungguhnya
Allâh Subhanahu wa Ta’ala
menyinarinya bagi mereka
dengan shalatku terhadap
mereka.” [HR. Bukhari, Muslim,
dll]
HIMPITAN ALAM KUBUR
Setelah mayit diletakkan di
dalam kubur, maka kubur akan
menghimpit dan menjepit
dirinya. Tidak seorang pun yang
dapat selamat dari himpitannya.
Beberapa hadits menerangkan
bahwa kubur menghimpit Sa’ad
bin Muadz Radhiyallahu anhu ,
padahal kematiannya membuat
‘arsy bergerak, pintu-pintu
langit terbuka, serta malaikat
sebanyak tujuh puluh ribu
menyaksikannya. Dalam Sunan
an-Nasâ’i diriwayatkan dari Ibn
Umar Radhiyallahu anhuma
bahwa Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺗَﺤَﺮَّﻙَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵُ ﻭَﻓُﺘِﺤَﺖْ ﻟَﻪُ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ
ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺷَﻬِﺪَﻩُ ﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺃَﻟْﻔًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ ﻟَﻘَﺪْ
ﺿُﻢَّ ﺿَﻤَّﺔً ﺛُﻢَّ ﻓُﺮِّﺝَ ﻋَﻨْﻪُ
Inilah yang membuat ‘arsy
bergerak, pintu-pintu langit
dibuka, dan disaksikan oleh tujuh
puluh ribu malaikat. Sungguh ia
dihimpit dan dijepit (oleh kubur),
akan tetapi kemudian
dibebaskan.” [Dishahihkan oleh
syaikh al-Albâni rahimahullah ;
Lihat Misykâtul Mashâbîh 1/49;
Silsilah ash-Shahîhah, no. 1695]
Dalam Musnad Ahmad
diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
ﺇِﻥَّ ﻟِﻠْﻘَﺒْﺮِ ﺿَﻐْﻄَﺔً ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻧَﺎﺟِﻴﺎً ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻧَﺠَﺎ
ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺳَﻌْﺪُ ﺑْﻦُ ﻣُﻌَﺎﺫٍ
Sesungguhnya kubur memiliki
himpitan yang bila seseorang
selamat darinya, maka (tentu)
Saad bin Muâdz telah selamat.
[HR. Ahmad, no. 25015; 25400;
Dishahihkan oleh Syaikh al-
Albâni di dalam Shahîhul Jâmi’
2/236]
Himpitan kubur in akan menimpa
semua orang, termasuk anak
kecil. Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
ﻟَﻮْ ﺃَﻓْﻠَﺖَ ﺃَﺣَﺪٌ ﻣِﻦْ ﺿَﻤَّﺔِ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﻟَﻨَﺠَﺎ ﻫَﺬَﺍ
ﺍﻟﺼَّﺒِﻲُّ
Seandainya ada seseorang
selamat dari himpitan kubur,
maka bocah ini pasti selamat
[Mu’jam ath-Thabrani dari Abu
Ayyub Radhiyallahu anhu dengan
sanad shahih dan riwayat ini
dinilai shahih oleh Syaikh al-
Albani rahimahullah dalam
Shahihul Jâmi, 5/56]
FITNAH (UJIAN) KUBUR
Jika seorang hamba telah
diletakkan di dalam kubur, dua
malaikat akan mendatanginya
dan memberikan pertanyaan-
pertanyaan. Inilah yang
dimaksud dengan fitnah (ujian)
kubur. Dalam hadits shahih
riwayat Imam Ahmad
rahimahullah dari sahabat al-
Barro bin ‘Azib Radhiyallahu
anhu , Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
ﻓَﻴَﺄْﺗِﻴﻪِ ﻣَﻠَﻜَﺎﻥِ ﻓَﻴُﺠْﻠِﺴَﺎﻧِﻪِ: ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ : ﻣَﻦْ
ﺭَﺑُّﻚَ ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ: ﺭَﺑِّﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ : ﻣَﺎ
ﺩِﻳﻨُﻚَ ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺩِﻳﻨِﻲَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ: ﻣَﺎ
ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑُﻌِﺚَ ﻓِﻴﻜُﻢْ ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻫُﻮَ
ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ
: ﻭَﻣَﺎ ﻳُﺪْﺭِﻳْﻚَ ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ: ﻗَﺮَﺃْﺕُ ﻛِﺘَﺎﺏَ ﺍﻟﻠَّﻪِ
ﻓَﺂﻣَﻨْﺖُ ﺑِﻪِ ﻭَﺻَﺪَّﻗْﺖُ ﻓَﻴُﻨَﺎﺩِﻱ ﻣُﻨَﺎﺩٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ:
ﺃَﻥْ ﻗَﺪْ ﺻَﺪَﻕَ ﻋَﺒْﺪِﻳﻔَﺄَﻓْﺮِﺷُﻮﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ
(ﻭَﺃَﻟْﺒِﺴُﻮﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ) ﻭَﺍﻓْﺘَﺤُﻮﺍ ﻟَﻪُ ﺑَﺎﺑًﺎ ﺇِﻟَﻰ
ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ , ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻴَﺄْﺗِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺭَﻭْﺣِﻬَﺎ ﻭَﻃِﻴﺒِﻬَﺎ
ﻭَﻳُﻔْﺴَﺢُ ﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﻗَﺒْﺮِﻩِ ﻣَﺪَّ ﺑَﺼَﺮِﻩِ ﻗَﺎﻝَ ﻭَﻳَﺄْﺗِﻴﻪِ
ﺭَﺟُﻞٌ ﺣَﺴَﻦُ ﺍﻟْﻮَﺟْﻪِ ﺣَﺴَﻦُ ﺍﻟﺜِّﻴَﺎﺏِ ﻃَﻴِّﺐُ ﺍﻟﺮِّﻳﺢِ
ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺃَﺑْﺸِﺮْ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺴُﺮُّﻙَ ﻫَﺬَﺍ ﻳَﻮْﻣُﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻱ
ﻛُﻨْﺖَ ﺗُﻮﻋَﺪُ , ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻪُ : ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﺖَ , ﻓَﻮَﺟْﻬُﻚَ
ﺍﻟْﻮَﺟْﻪُ ﻳَﺠِﻲﺀُ ﺑِﺎﻟْﺨَﻴْﺮِ, ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ: ﺃَﻧَﺎ ﻋَﻤَﻠُﻚَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢُ,
ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ: ﺭَﺏِّ ﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔَ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺭْﺟِﻊَ ﺇِﻟَﻰ
ﺃَﻫْﻠِﻲ ﻭَﻣَﺎﻟِﻲ
Kemudian dua malaikat
mendatanginya dan
mendudukannya, lalu keduanya
bertanya, “Siapakah Rabbmu ?”
Dia (si mayyit) menjawab,
“Rabbku adalah Allâh”. Kedua
malaikat itu bertanya, “Apa
agamamu?”Dia menjawab:
“Agamaku adalah al-Islam”.
Kedua malaikat itu bertanya,
“Siapakah laki-laki yang telah
diutus kepada kamu ini?” Dia
menjawab, “Beliau utusan Allâh”.
Kedua malaikat itu bertanya,
“Apakah ilmumu?” Dia menjawab,
“Aku membaca kitab Allâh, aku
mengimaninya dan
membenarkannya”.
Lalu seorang penyeru dari langit
berseru, “HambaKu telah
(berkata) benar, berilah dia
hamparan dari surga, (dan
berilah dia pakaian dari surga),
bukakanlah sebuah pintu
untuknya ke surga.
Maka datanglah kepadanya bau
dan wangi surga. Dan diluaskan
baginya di dalam kuburnya
sejauh mata memandang. Dan
datanglah seorang laki-laki
berwajah tampan kepadanya,
berpakaian bagus, beraroma
wangi, lalu mengatakan,
“Bergembiralah dengan apa
yang menyenangkanmu, inilah
harimu yang engkau telah
dijanjikan (kebaikan)”. Maka ruh
orang Mukmin itu bertanya
kepadanya, “Siapakah engkau,
wajahmu adalah wajah yang
membawa kebaikan?” Dia
menjawab, “Aku adalah amalmu
yang shalih”. Maka ruh itu
berkata, “Rabbku, tegakkanlah
hari kiamat, sehingga aku akan
kembali kepada istriku dan
hartaku”.
Pertanyaan ini juga dilontarkan
kepada orang kafir, sebagaimana
yang dijelaskan oleh Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
ﻭَﻳَﺄْﺗِﻴﻪِ ﻣَﻠَﻜَﺎﻥِ ﻓَﻴُﺠْﻠِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ : ﻣَﻦْ
ﺭَﺑُّﻚَ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻫَﺎﻩْ ﻫَﺎﻩْ ﻟَﺎ ﺃَﺩْﺭِﻱ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ:
ﻣَﺎ ﺩِﻳﻨُﻚَ ؟ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻫَﺎﻩْ ﻫَﺎﻩْ ﻟَﺎ ﺃَﺩْﺭِﻱ
ﻓَﻴَﻘُﻮﻟَﺎﻥِ ﻟَﻪُ ﻣَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑُﻌِﺚَ ﻓِﻴﻜُﻢْ ؟
ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻫَﺎﻩْ ﻫَﺎﻩْ ﻟَﺎ ﺃَﺩْﺭِﻱ ﻓَﻴُﻨَﺎﺩِﻱ ﻣُﻨَﺎﺩٍ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﺃَﻥْ ﻛَﺬَﺏَ ﻓَﺎﻓْﺮِﺷُﻮﺍ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
ﻭَﺍﻓْﺘَﺤُﻮﺍ ﻟَﻪُ ﺑَﺎﺑًﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻓَﻴَﺄْﺗِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﺣَﺮِّﻫَﺎ
ﻭَﺳَﻤُﻮﻣِﻬَﺎ ﻭَﻳُﻀَﻴَّﻖُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻗَﺒْﺮُﻩُ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﺨْﺘَﻠِﻒَ
ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺿْﻠَﺎﻋُﻪُ ﻭَﻳَﺄْﺗِﻴﻪِ ﺭَﺟُﻞٌ ﻗَﺒِﻴﺢُ ﺍﻟْﻮَﺟْﻪِ ﻗَﺒِﻴﺢُ
ﺍﻟﺜِّﻴَﺎﺏِ ﻣُﻨْﺘِﻦُ ﺍﻟﺮِّﻳﺢِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﺃَﺑْﺸِﺮْ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻱ
ﻳَﺴُﻮﺀُﻙَ ﻫَﺬَﺍ ﻳَﻮْﻣُﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻛُﻨْﺖَ ﺗُﻮﻋَﺪُ, ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ:
ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﺖَ ﻓَﻮَﺟْﻬُﻚَ ﺍﻟْﻮَﺟْﻪُ ﻳَﺠِﻲﺀُ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ:
ﺃَﻧَﺎ ﻋَﻤَﻠُﻚَ ﺍﻟْﺨَﺒِﻴﺚُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺭَﺏِّ ﻟَﺎ ﺗُﻘِﻢِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔَ
Kemudian ruhnya dikembalikan di
dalam jasadnya. Dan dua
malaikat mendatanginya dan
mendudukannya. Kedua malaikat
itu bertanya, “Sipakah
Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah,
hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya,
“Apakah agamamu?” Dia
menjawab, “Hah, hah, aku tidak
tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya,
“Siapakah laki-laki yang telah
diutus kepada kamu ini?”Dia
menjawab: “Hah, hah, aku tidak
tahu”.
Lalu penyeru dari langit berseru,
“HambaKu telah (berkata) dusta,
berilah dia hamparan dari
neraka, dan bukakanlah sebuah
pintu untuknya ke neraka.”
Maka panas neraka dan asapnya
datang mendatanginya. Dan
kuburnya disempitkan, sehingga
tulang-tulang rusuknya
berhimpitan.
Dan datanglah seorang laki-laki
berwajah buruk kepadanya,
berpakaian buruk, beraroma
busuk, lalu mengatakan,
“Terimalah kabar yang
menyusahkanmu ! Inilah harimu
yang telah dijanjikan
(keburukan) kepadamu”. Maka
ruh orang kafir itu bertanya
kepadanya, “Siapakah engkau,
wajahmu adalah wajah yang
membawa keburukan?” Dia
menjawab, “Aku adalah amalmu
yang buruk”. Maka ruh itu
berkata, “Rabbku, janganlah
Engkau tegakkan hari kiamat”.
[Lihat Shahîhul Jâmi’ no: 1672]
Dari hadits yang telah
dikemukakan di atas
menunjukkan bahwa pertanyaan
dalam kubur berlaku untuk
umum, baik orang Mukmin
maupun kafir.
ADZAB DAN NIKMAT KUBUR
Banyak sekali hadits yang
menjelaskan keberadaan adzab
dan nikmat kubur. Hal ini telah
disepakati oleh Ahlus Sunnah wal
Jamâ’ah. Imam Ibnu Abil ‘Izzi
rahimahullah , penulis kitab al-
Aqîdah ath-Thahâwiyah,
berkata, “Telah mutawatir
hadits-hadits dari Rasûlullâh
tentang keberadaan adzab dan
nikmat kubur bagi orang yang
berhak mendapatkannya;
Demikian juga pertanyaan dua
malaikat. Oleh karena itu, wajib
meyakini dan mengimani
kepastian ini. Dan kita tidak
membicarakan bagaimana
caranya, karena akal tidak
memahami bagaimana caranya,
karena keadaan itu tidak dikenal
di dunia ini. Syari’at tidaklah
datang membawa perkara yang
mustahil bagi akal, tetapi
terkadang membawa perkara
yang membingungkan akal.
Karena kembalinya ruh ke jasad
(di alam kubur) tidaklah dengan
cara yang diketahui di dunia,
namun ruh dikembalikan ke jasad
dengan cara yang berlainan
dengan yang ada di
dunia.” [Kitab Syarah al-Aqîdah
ath-Thahâwiyah, hlm.450; al-
Minhah al-Ilâhiyah fii Tahdzîb
Syarh ath-Thahâwiyah, hlm.
238]
Kalangan atheis dan orang-
orang Islam yang mengikuti
pendapat para filosof
mengingkari adanya adzab
kubur. Mereka beralasan bahwa
setelah membongkar kubur,
mereka tidak melihat sama sekali
apa yang diberitakan oleh nash-
nash syariat. Mereka semua
tidak mempercayai apa yang di
luar jangkauan ilmu mereka.
Mereka mengira bahwa
penglihatan mereka dapat
melihat segala sesuatu dan
pendengaran mereka dapat
mendengar segala sesuatu,
padahal kita saat ini telah
mengetahui beberapa rahasia
alam yang oleh penglihatan dan
pendengaran kita tidak dapat
menangkapnya.
Adapun orang-orang yang
beriman kepada Allâh Subhanahu
wa Ta’ala akan membenarkan
berita-Nya.
Di dalam al-Qur’ân terdapat
isyarat-isyarat yang
menunjukkan adanya adzab
kubur. Antara lain adalah Firman
Allâh Azza wa Jalla tentang
Fir’aun dan kaumnya :
ﻭَﺣَﺎﻕَ ﺑِﺂﻝِ ﻓِﺮْﻋَﻮْﻥَ ﺳُﻮﺀُ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏِ ﴿٤٥﴾ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ
ﻳُﻌْﺮَﺿُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻏُﺪُﻭًّﺍ ﻭَﻋَﺸِﻴًّﺎ ۖ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺗَﻘُﻮﻡُ
ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﺃَﺩْﺧِﻠُﻮﺍ ﺁﻝَ ﻓِﺮْﻋَﻮْﻥَ ﺃَﺷَﺪَّ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏِ
Fir’aun beserta kaumnya
dikepung oleh adzab yang amat
buruk. Kepada mereka
dinampakkan neraka pada pagi
dan petang, dan pada hari
terjadinya kiamat. (dikatakan
kepada malaikat), “Masukkanlah
Fir’aun dan kaumnya ke dalam
adzab yang sangat keras”. [al-
Mukmin/40: 45-46]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah
berkata tentang ayat ini,
“Fir’aun beserta kaumnya
dikepung oleh adzab yang amat
buruk”, yaitu tenggelam di
lautan, kemudian pindah ke
neraka Jahim. “Kepada mereka
dinampakkan neraka pada pagi
dan petang”, sesungguhnya ruh-
ruh mereka dihadapkan ke
neraka pada waktu pagi dan
petang sampai hari kiamat. Jika
hari kiamat telah terjadi ruh dan
jasad mereka berkumpul di
neraka. Oleh karena inilah Allâh
Azza wa Jalla berfirman (yang
artinya), “dan pada hari
terjadinya kiamat. (dikatakan
kepada malaikat), “Masukkanlah
Fir’aun dan kaumnya ke dalam
adzab yang sangat keras”, yaitu
kepedihannya lebih dahsyat dan
siksanya lebih besar. Dan ayat
ini merupakan fondasi yang
besar dalam pengambilan dalil
Ahlus Sunnah terhadap adanya
siksaan barzakh di dalam kubur,
yaitu firmanNya ‘Kepada mereka
dinampakkan neraka pada pagi
dan petang’. [Tafsir surat al-
Mukmin/40: 45-46]
Imam al-Qurthubi t mengatakan,
“Mayoritas Ulama menyatakan
bahwa penampakan nereka itu
terjadi di barzakh, dan itu
merupakan dalil penetapan
adanya siksa kubur”. [Fathul
Bâri 11/233]
SEBAB-SEBAB SIKSA KUBUR[1]
Sebab-sebab yang menjadikan
seseorang mendapatkan siksa
kubur ada dua bagian, mujmal
(global) dan mufash-shal (rinci).
Sebabnya secara mujmal (global),
yaitu kebodohan terhadap Allâh
Azza wa Jalla , menyia-nyiakan
perintah-Nya, dan menerjang
larangan-Nya. Sedangkan
sebabnya secara mufash-shal
(rinci), adalah perkara-perkara
yang dijelaskan oleh nash-nash
sebagai sebab siksa kubur.
Di sini akan kami sebutkan di
antara sebab mufash-shal
sehingga kita bisa menjauhinya:
1. Namimah, yaitu
menyampaikan perkataan
seseorang kepada orang lain
untuk merusak hubungan mereka.
2. Tidak menutupi diri ketika
buang hajat.
3. Ghulul, yaitu mengambil harta
rampasan perang sebelum dibagi
oleh imam.
4. Dusta.
5. Memahami al-Qur’ân namun
tidak mengamalkannya.
6. Zina
7. Riba
8. Mayit yang ditangisi
keluarganya, jika mayit tersebut
tidak melarang sebelumnya.
HAL-HAL YANG MENYELAMATKAN
DARI SIKSA KUBUR
Perkara yang akan
menyelamatkan seseorang dari
adzab kubur adalah orang yang
mempersiapkan diri sebelum
menghadapi kematian yang
datang tiba-tiba. Di antara
persiapan menghadapi maut
adalah segera bertaubat,
menunaikan kewajiban syariat,
memperbanyak amal shalih,
memperbaiki akidah, berjihad,
berbuat baik pada orang tua,
menyambung silaturahim, dan
amal-amal shalih lainnya.
Dengan amalan tersebut Allâh
Azza wa Jalla memberinya jalan
keluar dari tiap kesulitan dan
kesusahan.
Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata dengan mengutip hadits
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
yang diriwayatkan oleh Abu
Hâtim dalam shahih-nya,
“Sesungguhnya orang mati dapat
mendengar suara langkah kaki
orang-orang yang pergi
meninggalkannya. Jika ia seorang
Mukmin, maka shalat berada di
dekat kepalanya, puasa berada
di sebelah kanannya, zakat
disebelah kirinya, perbuatan
baik seperti berkata benar,
silaturahim, dan perbuatan baik
kepada manusia berada di dekat
kaki. Ia lalu didatangi (oleh
malaikat) dari arah kepalanya,
maka shalat berkata, ‘Di arahku
tidak ada jalan masuk.’
Kemudian ia didatangi dari
sebelah kanan, maka puasa
berkata, ‘Di arahku tidak ada
jalan masuk.’ Kemudian ia
didatangi dari sebelah kiri, maka
zakat berkata, ‘Di arahku tidak
ada jalan masuk.’ Kemudian ia
didatangi dari arah kedua
kakinya, maka perbuatan baik,
seperti berkata benar,
silaturahim, dan berbuat baik
kepada manusia, berkata, ‘Di
arahku tidak ada jalan masuk.’
Lalu dikatakan kepadanya,
‘Duduklah.’ Ia pun duduk.
Kepadanya ditampakkan bentuk
serupa matahari yang hampir
terbenam. Ia ditanya, ‘Siapa
lelaki ini yang dulu bersama
kalian? Apa pendapatmu
tentangnya?’ Ia menjawab,
‘Tinggalkan aku, aku ingin
shalat.’ Mereka menyahut,
‘Sungguh kamu akan
melakukannya, tetapi jawablah
pertanyaan kami.’ Ia berkata,
‘Apa pertanyaan kalian?’ Mereka
menanyakan, ‘Apa pendapatmu
tentang lelaki ini yang dulu
bersama kalian? Apa
persaksianmu terhadapnya?’ Ia
menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa
ia adalah utusan Allâh, dan dia
membawa kebenaran dari Allâh.’
Lalu dikatakan kepadanya,
‘Dengan dasar keimanan itulah
kau telah hidup, dan dengan
dasar itu kau telah mati, dan
dengan dasar itu pula kau akan
dibangkitkan, insya Allâh.’
Kemudian dibukakan baginya
pintu surga, lalu dikatakan
kepadanya, ‘Ini tempat
tinggalmu di surga dan segala
yang telah Allâh siapkan
untukmu.’ Ia bertambah senang
dan gembira. Kemudian
dibukakan pintu neraka, dan
dikatakan, ‘Itu adalah tempat
tinggalmu dan segala yang telah
Allâh siapkan untukmu (jika kau
mendurhakai-Nya).’ Ia
bertambah senang dan gembira.
Kemudian kuburnya diluaskan
seluas tujuh puluh hasta dan
diterangi cahaya, jasadnya
dikembalikan seperti semula, dan
ruhnya dijadikan di dalam
penciptaan yang baik, yaitu
burung yang bertengger di
pohon surga.”
MEMOHON PERLINDUNGAN
KEPADA ALLAH DARI FITNAH DAN
ADZAB KUBUR
Fitnah (ujian) dan adzab kubur
adalah masalah besar, sehingga
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam memohon perlindungan
dari hal itu, baik dalam shalat
maupun di luar shalat. Beliau pun
sangat menekankan kepada
umatnya untuk memohon
perlindungan kepada Allâh dari
segala fitnah dan azab kubur.
ORANG-ORANG YANG
TERPELIHARA DARI UJIAN DAN
SIKSA KUBUR
Sebagian kaum Mukmin yang
melakukan amal-amal besar atau
tertimpa musibah besar akan
terjaga dari fitnah atau ujian
dan azab kubur, Diantara
mereka :
Pertama : Orang yang mati
syahid.
an-Nasâ’i rahimahullah
meriwayatkan dalam Sunan-nya
bahwa seorang lelaki bertanya
kepada Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam , “Ya
Rasûlullâh, mengapa kaum
Mukmin diuji dalam kubur kecuali
yang mati syahid?” Beliau
menjawab, “Cukuplah baginya
ujian kilatan pedang di atas
kepalanya.” [Dishahihkan oleh
syaikh al-Albâni rahimahullah.
Lihat Shahîhul Jâmi’ 4/164]
Kedua : Seseorang yang gugur
ketika bertugas jaga di jalan
Allah
Fadhdhalah ibn Ubaid
meriwayatkan dari Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
bahwa beliau bersabda, “Setiap
orang yang meninggal amalnya
ditutup, kecuali yang meninggal
ketika bertugas jaga di jalan
Allâh. Amalnya terus tumbuh
sampai hari kiamat dan ia akan
aman dari fitnah kubur.” [HR.
Tirmidzi dan Abu Dawud;
dishahihkan oleh syaikh al-
Albâni rahimahullah. Lihat
Misykâtul Mashâbîh 2/355]
Ketiga : Seseorang yang
meninggal hari Jum’at
Dalam hadits Abdullah ibn Amru,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Setiap Muslim yang
meninggal pada hari Jum’at akan
dijaga oleh Allah dari fitnah
kubur.” [HR. Ahmad dan
Tirmidzi; Dinyatakan kuat oleh
syaikh al-Albâni rahimahullah
dalam Ahkâmul Janâiz, hlm. 35]
Keempat : Seseorang yang
meninggal karena sakit perut
Abdullah bin Yasar Radhiyallahu
anhu berkata, “Aku pernah
duduk bersama Sulaiman bin
Shard dan Khalid ibn ‘Urafthah.
Mereka menceritakan bahwa ada
seorang lelaki yang meninggal
karena sakit perut. Keduanya
ingin menyaksikan jenazahnya.
Salah satunya mengatakan
kepada yang lain, ‘Bukankah
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, ‘Orang yang
meninggal karena sakit perut
tidak akan diadzab di dalam
kubur.’ Yang satunya menjawab,
‘Engkau benar.’ [HR. an-Nasa’i
dan Tirmidzi; dishahihkan oleh
syaikh al-Albâni rahimahullah]
(Sumber: al-Qiyâmah Shugra,
hlm. 41-72, karya Dr. Umar
Sulaiman al-Asyqar, dengan
beberapa tambahan dari rujukan
yang lain)
[Disalin dari majalah As-Sunnah
Edisi 08/Tahun
XV/1433H/2012M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah
Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo
57183 Telp. 0271-858197 Fax
0271-858196]
_______
Footnote
Lihat al-Qiyâmah Shughra, hlm.
Selasa, 16 Agustus 2016
PERISTIWA-PERISTIWA DI ALAM KUBUR
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar