Rasulullah saw. pernah bersabda,
“Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa
tafakkaruu fiiLlahi, berpikirlah kamu
tentang ciptaan Allah, dan janganlah
kamu berpikir tentang Dzat Allah.”
Hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Nu’aim dari Ibnu Abbas ini menurut
Syaikh Nashiruddin Al-Bani dalam
kitab Shahihul Jami’ish Shaghir dan
Silsilahtu Ahadits Ash-Shahihah
berderajat hasan.
Hadits itu berbicara tentang salah
satu ciri khas manusia yang
membedakanya dari makhluk yang
lain, bahwa manusia adalah makhluk
yang berpikir. Dengan kemampuan
itulah manusia bisa meraih berbagai
kemajuan, kemanfaatan, dan
kebaikan. Namun, sejarah juga
mencatat bahwa tidak sedikit
manusia mengalami kesesatan dan
kebinasaan akibat berpikir.
Karena itu, Rasulullah saw.
menghendaki kita, kaum muslimin,
untuk punya budaya tafakur yang
akan bisa mengantarkan kita kepada
kemajuan, kemanfaatan, kebaikan,
ketaatan, keimanan, dan ketundukan
kepada Allah Ta’ala. Agar tujuan itu
tercapai, Rasulullah saw. memberi
rambu-rambu agar kita tidak salah
dalam bertafakur. Rasulullah saw.
memerintahkan kita untuk bertafakur
mengenai makhluk ciptaan Allah swt.
Beliau melarang kita berpikir tentang
Dzat Allah karena kita tidak akan
mampu menjangkaunya, dan berpikir
tentang Dzat Alllah bisa
mengantarkan kita kepada kesesatan
dan kebinasaan.
FADHAAILUT TAFAKKURI (KEUTAMAAN
TAFAKUR)
Setidaknya ada empat keutamaan
tafakur, yaitu:
1. Allah memuji orang-orang yang
senantiasa bertafakur dan berdzikir
dalam setiap situasi dan kondisi
dengan menceritakannya secara
khusus dalam Al-Qur’an di surat Ali
Imran ayat 190-191. Sa’id Hawa
dalam Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil
Anfus halaman 93 berkata, “Dari
ayat ini kita memahami bahwa
kemampuan akal tidak akan terwujud
kecuali dengan perpaduan antara
dzikir dan pikir pada diri manusia.
Apabila kita mengetahui bahwa
kesempurnaan akal berarti
kesempurnaan seorang manusia, maka
kita bisa memahami peran penting
dzikir dan pikir dalam menyucikan
jiwa manusia. Oleh karena itu, para
ahli suluk yang berupaya
mendekatkan diri kepada Allah
senantiasa memadukan antara dzikir
dan pikir di awal perjalanannya
menuju Allah. Sebagai contoh, di saat
bertafakur tentang berbagai hal,
mereka mengiringinya dengan tasbih,
tahmid, takbir, dan tahlil.”
2. Tafakur termasuk amal yang
terbaik dan bisa mengungguli
ibadah. Ada atsar yang diriwayatkan
oleh Ibnu Hibban berbunyi, “Berpikir
sesaat lebih utama daripada ibadah
setahun.” Kenapa begitu? Karena,
berpikir bisa memberi manfaat-
manfaat yang tidak bisa dihasilkan
oleh suatu ibadah yang dilakukan
selama setahun. Abu Darda’ seorang
sahabat yang terkenal sangat abid
pernah ditanya tentang amalan yang
paling utama, ia menjawab,
“Tafakur.” Dengan tafakur
seseorang bisa memahami sesuatu
hingga hakikat, dan mengerti
manfaat dari yang membahayakan.
Dengan tafakur, kita bisa melihat
potensi bahaya hawa nafsu yang
tersembunyi di dalam diri kita,
mengetahui tipu daya setan, dan
menyadari bujuk rayu duniawi.
3. Tafakur bisa mengantarkan kita
kepada kemuliaan dunia dan akhirat.
Ka’ab bin Malik berkata,
“Barangsiapa menghendaki
kemuliaan akhirat, maka
hendaknyalah ia memperbanyak
tafakur.” Hatim menambahkan,
“Dengan merenungi perumpamaan,
bertambahlah ilmu pengetahuan;
dengan mengingat-ingat nikmat
Allah, bertambahlah kecintaan
kepadaNya; dan dengan bertafakur,
bertambahlah ketakwaan
kepadaNya.” Imam Syafi’i
menegaskan, “Milikilah kepandaian
berbicara dengan banyak berdiam,
dan milikilah kepandaian dalam
mengambil keputusan dengan
berpikir.” (lihat Mau’idhatul
Mu’minin)
4. Tafakur adalah pangkal segala
kebaikan. Ibnul Qayyim berkata,
“Berpikir akan membuahkan
pengetahuan, pengetahuan akan
melahirkan perubahan keadaan yang
terjadi pada hati, perubahan
keadaan hati akan melahirkan
kehendak, kehendak akan melahirkan
amal perbuatan. Jadi, berpikir adalah
asas dan kunci semua kebaikan. Hal
ini bisa menunjukkan kepadamu
keutamaan dan kemuliaan tafakur,
dan bahwasanya tafakur termasuk
amalan hati yang paling utama dan
bermanfaat sampai-sampai
dikatakan, ‘Tafakur sesaat lebih baik
daripada ibadah setahun’. Tafakur
bisa mengubah dari kelalaian menuju
kesadaran, dan dari hal-hal yang
dibenci Allah menuju hal-hal yang
dicintaiNya, dari ambisi dan
keserakahan menuju zuhud dan
qana’ah, dari penjara dunia menuju
keluasan akhirat, dari kesempitan
kejahilan menuju bentangan ilmu
pengetahuan, dari penyakit syahwat
dan cinta kepada dunia menuju
kesembuhan ruhani dan pendekatan
diri kepada Allah, dari bencana buta,
tuli, dan bisu menuju nikmat
penglihatan, pendengaran, dan
pemahaman tentang Allah, dan dari
berbagai penyakit syubhat menuju
keyakinan yang menyejukkan hati
dan keimanan yang
menentramkan.” (Miftah Daris
Sa’adah: 226).
NATAAIJUT TAFAKKURI (BUAH
TAFAKUR)
1. Kita akan mengetahui hikmah dan
tujuan penciptaan semua makhluk di
langit dan bumi sehingga menambah
keimanan dan rasa syukur.
Dan mengapa mereka tidak
memikirkan tentang (kejadian) diri
mereka? Allah tidak menjadikan
langit dan bumi dan apa yang ada
diantara keduanya melainkan dengan
(tujuan) yang benar dan waktu yang
ditentukan. dan Sesungguhnya
kebanyakan di antara manusia
benar-benar ingkar akan Pertemuan
dengan Tuhannya. [Ar-Ruum, 8]
2. Kita bisa membedakan mana yang
bermanfaat sehingga bersemangat
untuk meraihnya, mana yang
berbahaya hingga berusaha
mengindarinya.
Mereka bertanya kepadamu tentang
khamar dan judi. Katakanlah: “Pada
keduanya terdapat dosa yang besar
dan beberapa manfaat bagi manusia,
tetapi dosa keduanya lebih besar
dari manfaatnya”. dan mereka
bertanya kepadamu apa yang
mereka nafkahkan. Katakanlah: ”
yang lebih dari keperluan.”
Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepadamu supaya
kamu berpikir. (Al-Baqarah: 219)
3. Kita bisa memiliki keyakinan yang
kuat mengenai sesuatu, dan
menghindari diri dari sikap ikut-
ikutan terhadap opini yang
berkembang.
Katakanlah: “Sesungguhnya aku
hendak memperingatkan kepadamu
suatu hal saja, yaitu supaya kamu
menghadap Allah (dengan ikhlas)
berdua-dua atau sendiri-sendiri;
kemudian kamu pikirkan (tentang
Muhammad) tidak ada penyakit gila
sedikitpun pada kawanmu itu. Dia
tidak lain hanyalah pemberi
peringatan bagi kamu sebelum
(menghadapi) azab yang keras.
(Saba: 46)
4. Kita bisa memperhatikan hak-hak
diri kita untuk mendapatkan
kebaikan, sehingga tidak hanya
berusaha memperbaiki orang lain
dan lupa pada diri sendiri.
Mengapa kamu suruh orang lain
(mengerjakan) kebaktian, sedang
kamu melupakan diri (kewajiban) mu
sendiri, padahal kamu membaca Al-
Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu
berpikir? (Al-Baqarah: 44)
5. Kita bisa memahami bahwa akhirat
itu lebih utama, dan dunia hanya
sarana untuk membangun
kebahagiaan akhirat.
Kami tidak mengutus sebelum kamu,
melainkan orang laki-laki yang Kami
berikan wahyu kepadanya di antara
penduduk negeri. Maka tidakkah
mereka bepergian di muka bumi lalu
melihat bagaimana kesudahan
orang-orang sebelum mereka (yang
mendustakan Rasul), dan
sesungguhnya kampung akhirat
adalah lebih baik bagi orang-orang
yang bertakwa. Maka tidakkah kamu
memikirkannya? (Yusuf: 109)
Dan apa saja[1130] yang diberikan
kepada kamu, maka itu adalah
kenikmatan hidup duniawi dan
perhiasannya; sedang apa yang di
sisi Allah adalah lebih baik dan lebih
kekal. Maka Apakah kamu tidak
memahaminya? (Al-Qashash: 60).
[1130] Maksudnya: hal-hal yang
berhubungan dengan duniawi
seperti, pangkat kekayaan keturunan
dan sebagainya.
6. Kita bisa menghindari diri dari
kebinasaan yang pernah menimpa
orang-orang sebelum kita.
Maka apakah mereka tidak
mengadakan perjalanan di muka bumi
sehingga mereka dapat
memperhatikan bagaimana
kesudahan orang-orang sebelum
mereka; Allah telah menimpakan
kebinasaan atas mereka dan orang-
orang kafir akan menerima (akibat-
akibat) seperti itu. (Muhammad: 10)
7. Bisa menghindari diri dari siksa
neraka karena bia memahami dan
mengamalkan ajaran agama dan
meninggalkan kemaksiatan dan dosa-
dosa, terutama syirik.
Dan mereka berkata, “Sekiranya
kami mendengarkan atau memikirkan
(peringatan itu) niscaya tidaklah
kami termasuk penghuni-penghuni
neraka yang menyala-nyala”. (Al-
Mulk: 10)
Ah (celakalah) kamu dan apa yang
kamu sembah selain Allah. Maka
Apakah kamu tidak memahami? (Al-
Anbiyaa’ : 67)
DHAWABITHUT TAFAKKURI (BATASAN
TAFAKUR)
Imam Al-Ghazali berkata,
“Ketahuilah bahwa semua yang ada
di alam semesta, selain Allah, adalah
ciptaan dan karya Allah Ta’ala.
Setiap atom dan partikel, apapun
memiliki keajaiban dan keunikan
yang menunjukkan kebijaksanaan,
kekuasaan, dan keagungan Allah
Ta’ala. Mendata semuanya adalah
sesuatu yang mustahil, karena
seandainya lautan adalah tinta
untuk menuliskan semua itu niscaya
akan habis sebelum menuliskan
sepersepuluhnya saja dari semua
ciptaan dan karya-Nya.”
Jadi, tafakur adalah ibadah yang
bebas dan terlepas dari ikatan segala
sesuatu kecuali satu ikatan saja,
yaitu tafakur mengenai Dzat Allah.
Saat bertafakur sebenarnya seorang
muslim sedang berusaha
meningkatkan ketaatan,
menghentikan kemaksiatan,
menghancurkan sifat-sifat destruktif
dan menumbuhkembangkan sifat-
sifat konstruktif yang ada dalam
dirinya. Berhasil tidaknya hal itu
dicapai sangat dipengaruhi banyak
faktor, di antaranya:
Kedalaman ilmu
Konsentrasi pikiran
Kondiri emosional dan rasional
Faktor lingkungan
Tingkat pengetahuan tentang objek
tafakur
Teladan dan pergaulan
Esensi sesuatu
Faktor kebiasaan
KENAPA KITA DILARANG TAFAKKUR
MENGENAI DZAT ALLAH SWT.?
Setidaknya ada dua alasan, yaitu:
1. Kita tidak akan sanggup
menjangkau kadar keagunganNya.
Allah swt. tidak terikat ruang dan
waktu. Abdullah bin Mas’ud berkata,
“Bagi Tuhanmu tidak ada malam,
tidak pula siang. Cahaya seluruh
langit dan bumi berasal dari cahaya
wajah-Nya, dan Dia-lah cahaya
langit dan bumi. Pada hari kiamat,
ketika Allah datang untuk
memberikan keputusan bumi akan
tenang oleh cahayaNya.
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia
menjadikan bagi kamu dari jenis
kamu sendiri pasangan-pasangan
dan dari jenis binatang ternak
pasangan- pasangan (pula),
dijadikan-Nya kamu berkembang
biak dengan jalan itu. tidak ada
sesuatupun yang serupa dengan Dia,
dan Dia-lah yang Maha mendengar
dan melihat. (Asy-syuuraa: 11)
Dia tidak dapat dicapai oleh
penglihatan mata, sedang Dia dapat
melihat segala yang kelihatan; dan
Dialah yang Maha Halus lagi Maha
mengetahui. (Al-An’am: 103)
Ibnu Abbas berkata, “Dzat Allah
terhalang oleh tirai sifat-sifat-Nya,
dan sifat-sifat-Nya terhalang oleh
tirai karya-karya-Nya. Bagaimana
kamu bisa membayangkan keindahan
Dzat yang ditutupi dengan sifat-
sifat kesempurnaan dan diselimunti
oleh sifat-sifat keagungan dan
kebesaran.”
2. Kita akan terjerumus dalam
kesesatan dan kebinasan.
Memberlakukan hukum Sang Khalik
terhadap makhluk ini adalah sikap
ghulluw (berlebihan). Itulah yang
terjadi di kalangan kaum Rafidhah
terhadap Ali r.a. Sebaliknya,
memberlakukan hukum makhluk
terhadap Sang Khalik ini sikap
taqshir. Perbuatan ini dilakukan oleh
aliran sesat musyabihhah yang
mengatakan Allah memiliki wajah
yang sama dengan makhluk, kaki
yang sama dengan kaki makhluk, dan
seterusnya. Semoga kita bisa
terselamatkan dari kesesatan yang
seperti ini. Amiin.
Sebar Dakwatuna, semoga yang
berbuat baik dalam tulisan ini selalu
dalam karunia-Nya. Amin
Insya Allah, bila berkeyakinan pada-
Nya melalui tafakur kita semua akan
selalu dalam kebaikan sehingga
menggapai keridhoan-Nya. Amin
http://artibimo.blogspot.com
Sabtu, 13 Agustus 2016
MAKNA DAN ARTI TAFAKUR
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar