..DIKUTIP DARI KITAB IHYA ILUMIDDIN
KITAB RAHASIA SHALAT DAN SEGALA
KEPENTINGANNYA
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢِ
(Dengan nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang).
Segala pujian bagi Allah yang
mengumiakan akan hambaNya dengan
segala nikmat yang halus-halus dan
mengurniakan akan hati mereka
dengan segala nur Agama dan
tugasnya, yang diturunkan dari 'Arasy
kebesaran ke langit dunia, dari
derajat-derajat kerah-matan, salah
satu dari tanda-tanda kasih-
sayangNya, yang berbeda dengan
raja-raja, serta ke-esa-an dengan
kebesaran dan keagungan, dengan
menggerabirakan makhlukNya untuk
bermohon dan ber-do;a. Maka
berfirman Ia :"Adakah yang berdo'a,
maka Aku terima do'anya itu. Adakah
yang meminta ampun, maka aku
ampunkan dosanya Berbeda dengan
sultan-sultan, dengan membuka pintu
dan membuang hijab,
makadimudahkanNya bagi segala
hambaNya untuk bermunajahdengan
shalat-shalat, betapapun bertukarnya
keadaan di dalam jama'ah orang ramai
dan ditempat-tempat yang sunyi.
Tidak dengan memberikan kelapangan
saja, tetapi ia dengan lemah-lembut
mengajak dan memanggil, sedang
selain Dia -dari raja-raja yang lemah
itu- tidak memperkenankan berbicara
secara sembunyi melainkan setelah
menyerahkan hadiah dan suap Maka
maha-sucilah Ia, maha-besarlah
kedudukanNya, maha-kuatlah
kekuasaanNya, maha-sempumalah
kasih-sayangNya dan maha-
lengkaplah kebaikanNya.
Rahmat kepada Muhammad Nabi Nya
dan waliNya yang pilihan dan kepada
keluarganya dan shahabatnya kunci
petunjuk dan lampu kegelapan serta
selamat yang sempuma.
Adapun kemudian, maka sesungguhnya
shalat itu tiang Agama dan tonggak
keyakinan,- pokok segala jalan
mendekatkan diri kepada Tuhan dan
sinar cemerlang untuk kebaktian
kepadaNya.
Sesungguhnya, telah kami selidiki
dalam ilmu fiqih secara meluas, sedang
dan ringkas dari madzhab akan segala
pokok dan cabangnya, kami
kesampingkan kesungguhan dari
ranting-rantingnya yang jarang
terjadi dan kejadian-kejadiannya
yang hampir tak pernah kejadian,
supaya adalah semuanya ini menjadi
simpanan bagi mufti (orang yang
mengeluarkan fatwa-fatwa).
Daripadanya ia mengambil paham dan
berpegang dan kepadanya ia mengadu
dan kembali.
Kami sekarang di dalam Kitab ini,
meringkaskan kepada yang tak boleh
tidak saja, bagi seorang pelajar fiqih,
mengenai segala amal perbuatan
dhahiriyah dan segala rahasianya
yang bathiniyah. Kami menyingkapkan
segala artinya yang halus-halus
tersembunyi, mengenai pengertian
khusyu', ikhlas dan niat, hal mana
yang tiada berlaku kebiasaan
menyebutkannya di dalam ilmu fiqih,
Kami su-sun Kitab ini kepada tujuh
bab :
mengenai fadlilah (keutamaan) shalat.
mengenai pengutamaan amalan dhahir
dari shalat. mengenai pengutamaan
amalan bathin dari shalat. mengenai
imam shalat dan cara mengikuti imam,
mengenai shalat Jum'at dan adabnya.
mengenai masalah yang bermacam-macam yang menjadi bahaya yang merata, yang memerlukan murid kepada mengetahuinya. mengenai
amalan sunat dan lainnya.
Bab Pertama
Bab Kedua
Bab Ketiga
Bab Keempat
Bab Kelima
Bab Keenam
Bab Ketujuh
Bab pertama : Mengenai fadiilah
shalat, sujud, berjama'ah, adzan dan
lainnya.
FADLILAH ADZAN :
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . :
"Tiga orang pada hari qiamat di atas
bukit kecil dan kesturi hitam, tiada
menyusahkan mereka oleh hisab
amalan dan tiada menimpa ke atas diri
mereka oleh kegelisahan, sehingga
selesailah ia dari segala sesuatu
diantara manusia . Orang yang tiga itu
ialah : orang yang membaca Al-Qur'an
karena mengharap akan Wajah Allah
'Azza wa Jalla dan menjadi imam pada
sesuatu kaum, di mana kaum itu
senang kepadanya; orang yang
beradzan (melakukan bang) pada
masjid dan berdo a kepada Allah 'Azza
wa Jalla karena mengharap akan
WajahNya dan orang yang
berpenghidupan sempit di dunia maka
yang demikian itu tiada
mengganggukannya daripada berbuat
amalan akhirat". (1).
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Tiadalah yang mendengar seruan
adzan dari orang yang beradzan itu,
baik yang mendengar itu jin atau
manusia ataupun sesuatu yang lain,
melainkan naik saksi ia untuk orang
yang beradzan itu pada hari qiamat".
(2).
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : "
Tangan Tuhan Yang Maha Pengasih itu
di atas kepala muadzin (orang yang
beradzan)r sehingga selesailah ia
daripada adzannya". (3)
Ada yang mengatakan mengenai
penafsiran firman Allah 'Azza wa Jalla :
ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻗَﻮْﻻ ﻣِﻤَّﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ
(Wa man ahsanu qaulan mim man da'aa
ilallaahi wa 'amila shaali-haa).
Artinya : "Siapa yang lebih baik
perkataannya dari orang yang
memanggil kepada Tuhan dan
mengerjakan perbuatan baik". (S. Ha
Mim @ Al fushilat33), bahwa ayat ini
turun mengenai orang-orang muadzin.
1.Dirawikan At-Tirmidzi daru Ibnu
Umar dan dipandangnya hadits hasan
(baik).
2.Dirawikan Al-Bukhari dari Abdullah
bin Yusuf.
3.Dirawikan Ath-Thabrani dan Al-
Hasan bin Sa'id dari Anas, dengan
isnad dla'if.
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
ﺇﺫﺍ ﺳﻤﻌﺘﻢ ﺍﻟﻨﺪﺍﺀ ﻓﻘﻮﻟﻮﺍ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻤﺆﺫﻥ
(Idzaa sami -tumun nidaa-a faquuluu
mitsla maa yaquulul mu-adzdzin).
Artinya : "Apabila kamu mendengar
seruan adzan, maka ucapkanlah apa
yang diucapkan oleh muadzin itu ".
Mengucapkan yang demikian itu
adalah sunat, kecuali mengenai "Hayya
'alash-shalaah " dan "Hayya 'alal-
falaak " maka diucapkan pada yang
dua mi ialah : "Laa haula wa laa
quwwata illaa billaah ". Dan pada
ucapan muadzin : "Qadqaamatish
shalaah", maka pendengar
mengucapkan : ﺃﻗﺎﻣﻬﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺩﺍﻣﻬﺎ ﻣﺎ ﺩﺍﻣﺖ
ﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺕ ﻭﺍﻷﺭﺽ Aqaamahallaahu wa
adaamahaa maa daama-tis
samaawaatu wal ardl". (Ditegakkan
Allah kiranya shalat itu dan
dikekalkanNya selama kekal langit dan
bumi),
Dan pada tatswib, yaitu : ucapan
muadzin pada shalat shubuh :
"Ashshalaatu khairum minan nauum".
(Shalat itu lebih baik dari pada tidur),
maka pendengarnya mengucapkan :
" ﺻﺪﻗﺖ ﻭﺑﺮﺭﺕ ﻭﻧﺼﺤﺖ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﻔﺮﺍﻍ Shadaqta
wa bararta wa nashahta" (Benar
engkau, telah berbuat kebajikan
engkau dan telah memberi nasehat
engkau).
Ketika selesai dari adzan, maka
dibacakan do'a, yaitu :
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺭﺏ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺍﻟﺘﺎﻣﺔ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻘﺎﺋﻤﺔ ﺁﺕ
ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺍﻟﻮﺳﻴﻠﺔ ﻭﺍﻟﻔﻀﻴﻠﺔ ﻭﺍﻟﺪﺭﺟﺔ ﺍﻟﺮﻓﻴﻌﺔ ﻭﺍﺑﻌﺜﻪ
ﺍﻟﻤﻘﺎﻡ ﺍﻟﻤﺤﻤﻮﺩ ﺍﻟﺬﻱ ﻭﻋﺪﺗﻪ ﺇﻧﻚ ﻻ ﺗﺨﻠﻒ ﺍﻟﻤﻴﻌﺎﺩ
(Allaahumma rabba haadzihid da'-watit
taammati wash- shalaatil qaa-imati,
aati Muhammadanil wasiilata wal
fadliilata wad darajatar rafn-'ata
wab-'atshul maqaamal mahmuudal
ladzii wa 'adtahu, innaka laa tukhliful
mii-'aad).
Artinya : "Ya Allah, ya Tuhanku, yang
memiliki do'a ini yang sempurna, dan
shalat yang berdiri tegak! Berikanlah
kepada Muhammad jalan„ kelebihan
dan derajat tinggi! Dan bangkitkanlah
dia pada tempat terpuji yang telah
Engkau janjikan! Sesungguhnya
Engkau tiada menyalahi janji".
Berkata Sa'id bin Al-Musayyab :
"Barangsiapa mengerjakan shalat pada
tanah Sahara yang luas, niscaya
bershalat di kanannya seorang
malaikat dan dikirinya seorang
malaikat. Maka jika ia beradzan dan
berqamat (iqamah), niscaya bershalat
di belakangnya malaikat-ma-laikat
berbaris seperti bukit".
FADLILAH SHALAT FARDLU.
Berfirman Allah Ta'ala :
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﻣَﻮْﻗُﻮﺗًﺎ
(Innash shalaata kaanat 'alal
mu'miniina kitaaban mauquutaa).
Artinya : "Sesungguhnya shalat itu
suatu kewajiban yang ditentukan
waktunya untuk orang-orang yang
beriman". (S. An-Nisaa', ayat 103).
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : "Lima
shalat diwajibkan oleh Allah kepada
segala hamba. Maka barangsiapa
mengerjakan semuanya dan tidak
menyianyiakan suatupun daripadanya,
sebagai meringan-ringankan haknya,
niscaya adalah untuknya pada Allah
suatu janji bahwa ia akan masuk sorga.
Dan barangsiapa tidak mengerjakan
semuanya, maka tiadalah baginya pada
Allah suatu janji. Jika dikehendaki oleh
Allah niscaya di'azabkannya dan jika
dikehendakiNya niscaya
dimasukkannya ke dalam sorga". (1)
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻞ :
"Perumpamaan shalat yang lima itu
adalah seumpama sebuah sungai yang
tawar airnya yang meluap-luap, di
pintu seseorang daripada kamu. la
mandi padanya tiap-tiap hari lima
kali. Apakah pendapatmu tentang
orang itu, apakah masih ada
dakinya?".
Menjawab para shahabat : "Tak ada
sedikitpun!".
Maka menyambung Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻞ : "Sesungguhnya shalat yang lima
itu, menghilangkan dosa seperti air
menghilangkan daki". (2)
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Sesungguhnya shalat-shalat itu
menghapus-kan dosa yang terjadi
diantaranya, selama bukan dosa
besar". (3)
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Diantara kita dan orang-orang
munafiq itu terdapat saksi-saksi gelap
dan terang, yang tiada sanggup
mereka mempengaruhi kedua saksi itu
". (4)
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Barangsiapa menjumpai Allah, sedang
dia menyia-nyiakan shalat, maka tidak
diperdulikan oleh Allah sesuatu
daripada kebajikan-kebajikannya ".
(5)
1)Dirawikan Malik, Ahmad dan lain-
lain dari Ubbadah bin Ash-Shamit,
2)Dirawikan Muslim dari Jabir.
3)Dirawikan Muslim daru Abi Hurairah.
4)Dirawikan Malik dari Sa'id bin Al-
Musayyab, hadits mursal.
5)Dirawikan Ath-Thabrani dart Anas.
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
Shalat itu tiang Agama. Barangsiapa
meninggalkan shalat maka ia telah
meruntuhkan Agama'(1)
Ditanyakan Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
: "Amalan apakah yang lebih utama
(afdlal)?".
Menjawab Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Shalat pada awal waktunya".
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Barangsiapa memelihara shalat yang
lima itu dengan menyempurnakan
bersuci dan waktunya, niscaya jadilah
shalat itu nur baginya dan pembuktian
pada hari qiamat. Dan barangsiapa
menyianyiakannya, niscaya
dibangkitkan ia beserta Fir'aun dan
Haman".
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : "Kunci
sorga itu shalat".
Dan bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . :
"Tiada diwajibkan oleh Allah kepada
makhlukNya sesudah tauhid yang lebih
menyukakan kepadaNya selain
daripada shalat. Jikalau adalah
sesuatu yang lain, yang lebih
menyukakan kepadaNya dari shalat,
niscaya telah beribadah dengan dia
para malaikatNya. Para malaikat itu,
sebahagiannya ruku' sebahagian sujud,
sebahagian berdiri dan duduk".
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Barangsiapa meninggalkan shalat
dengan sengaja, maka kufurlah dia",
Artinya : hampir tercabut daripada
Iman dengan terbuka talinya dan
jatuh tiangnya. Sebagaimana
dikatakan bagi orang yang telah
mendekati suatu kampung, bahwa ia
telah sampai ke kampung itu dan telah
memasukinya.
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ( 2 ) :
"Barangsiapa meninggalkan shalat
dengan sengaja maka terlepaslah ia
dari tanggungan Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .
Berkata Abu Hurairah ra. :
"Barangsiapa berwudlu, maka
membaguskan wudlunya, kemudian ia
keluar dengan sengaja untuk shalat,
maka sesungguhnya dia di dalam shalat
yang sengaja ia kepada shalat itu. Dan
dituliskan baginya dengan salah satu
dari dua langkahnya kebajikan dan
dihapuskan daripadanya dengan
langkah yang satu lagi, kejahatan.
Apabila mendengar seorang kamu akan
qamat, maka tidak wajar lah baginya
mengemudiankan. Karena yang
terbesar pahala bagi kamu ialah yang
terjauh rumah daripada kamu".
Bertanya mereka : "Mengapa begitu
wahai Abu Hurairah?".
Menjawab Abu Hurairah : "Dari karena
banyaknya langkah.
1)Dirawikan Al-Baihaqi dari Umar.
dengan sanad dla'if.
2)Dirawikan Ahmad dan Al-Baihaqi
dari Ummu Aiman.
Diriwayatkan : "Bahwa yang mula
pertama diperhatikan dari amalan
hamba pada hari qiamat ialah shalat.
Kalau terdapat shalat itu sempuma,
niscaya diterima shalat itu
daripadanya dan amalannya yang lain.
Dan kalau terdapat kurang, niscaya
ditolak shalat itu daripadanya dan
amalannya yang Iain".
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : "Hai
Abu Hurairah! Suruhlah keluargamu
dengan shalat! Sesungguhnya Allah
mendatangkan rezeqi bagimu dari
tempat yang tidak kamu sangka
".Berkata setengah ulama "Orang yang
mengerjakan shalat itu adalah
seumpama saudagar yang tidak
memperoleh keuntungan sebelum
kembali pokoknya. Demikian juga
orang yang mengerjakan shalat,tidak
diterima yang sunat sebelum
ditunaikannya yang fardlu’
Abu Bakar ra. berkata : "Apabila telah
datang waktu shalat, maka pergilah ke
apimu yang telah kamu nyalakan, lalu
padamkanlah api itu!".
FADLILAH MENYEMPURNAKAN RUKUN.
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . : "Shalat fardiu itu adalah
seumpama neraca. Siapa yang
mencukupkan, niscaya memperoleh
cukup". (1)
Berkata Yazid Ar-Riqasyi: "Adalah
shalat Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . itu
sama seolah-olah sudah ditimbang",
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . : "Sesungguhnya dua orang
dari ummatku, keduanya berdiri
kepada shalat, di mana ruku' dan sujud
keduanya itu satu. Dan diantara shalat
keduanya itu adalah diantara langit
dan bumi", diisyaratkan Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ dengan sabdanya itu untuk
"khusyu'".
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : "Allah
tiada memandang pada hari qiamat
kepada hamba yang tiada menegakkan
tulang sulbinya diantara ruku' dan
sujudnya ". (2)
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . :
"Tidakkah takut orang yang
memutarkan mukanya di dalam shalat,
akan diputarkan oleh Allah mukanya
menjadi muka keledai?". (3)
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Barangsiapa mengerjakan shalat pada
waktunya dan melengkapkan wudlunya,
menyempurnakan ruku 'nya, sujudnya
dan khusu nya, niscaya shalat itu naik
dengan warna yang putih bersih,
seraya mengatakan : "Kiranya Allah
menjaga engkau sebagaimana engkau
telah menjaga aku!". Barangsiapa
mengerjakan shalat pada bukan
waktunya dan tidak melengkapkan
wudlunya, tidak menyempurnakan
ruku'nya, sujudnya dan khusu 'nya,
niscaya shalat itu naik dengan warna
yang hitam gelap, seraya mengatakan:
"Disia-siakan oleh Allah kiranya
engkau, sebagaimana engkau telah
menyia-nyiakan aku". Sehinggakalau
dikehendaki oleh Allah apabila shalat
itu, dilipatkan sebagaimana dilipatkan
kain buruk, maka dipukulkanlah dengan
shalat itu mukanya".
1.Dirawikan dari ibnul Mubarak dari
ibnu hasan , Hadis Mursal
2.Dirawikan Ahmad dari Abu Hurairah,
Isnad sahih.
3.Dirawikan Ibnu Uda dari jabir
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Sejahat-jahat manusia mencuri ialah
orang yang mencuri dari shalatnya".
(1)
Berkata Ibnu Mas'ud dan Salman ra. :
"Shalat itu alat penyukat. Maka
barangsiapa menyempurnakan, niscaya
ia menerima sempurna dan
barangsiapa menipu di dalam sukatan,
maka tahulah ia apa yang difirmankan
Allah, mengenai orang-orang yang
menipu pada sukatan".
FADLILAH SHALAT JAMA'AH.
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . :
ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺗﻔﻀﻞ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻔﺬ ﺑﺴﺒﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺩﺭﺟﺔ
(Shalaatul jamaa-'ati tafdlulu shalaatal
fadzdzi bisab-'in wa 'isyriina
darajatan).
Artinya : "Shalat jama'ah itu melebihi
dari shalat sendirian dengan dua
puluh tujuh derajat". (2)
Diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Nabi
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . tidak melihat orang
pada sebahagian shalat, lalu bersabda
: "Sesungguhnya aku bercita-cita
menyuruh seseorang menjadi imam
yang mengimami shalat orang banyak.
Kemudian aku sendiri mencari orang-
orang yang meninggalkan shalat ber
jama'ah itu lalu aku bakar rumah-
rumah-nya". (3)
Pada riwayat yang lain : "Kemudian
aku mencari orang-orang yang
meninggalkan shalat jama'ah itu, maka
aku suruh mereka. Lalu kalau
meninggalkan juga, maka rumah
mereka dibakar dengan unggunan
kayu api. Jikalau tahulah seseorang
dari mereka bahwa akan memperoleh
tulang yang berminyak atau dua kuku
hewan, niscaya dihadlirinya", yakni :
"shalat 'Isya'"
1.Dirawikan Ahmad dan AlHakim.,Sahih
Isnadnya
2.Dirawikan Bukhari Dan Muslim Dari
Ibnu Umar.
3.Dirawikan Bukhari dan muslim Dari
Abu Hurairah.
Berkata Usman ra., di mana
perkataannya itu adalah suatu hadits
marfu' : "Barangsiapa menghadliri
shalat jama'ah 'Isya', maka seakan-
akan ia bangun setengah malam
dengan ibadah. Dan barangsiapa
menghadliri shalat jama'ah Shubuh,
maka seakan-akan ia bangun
semalam-malaman dengan ibadah".
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Barangsiapa mengerjakan suatu shalat
dengan berjama'ah, maka ia telah
memenuhkan dadanya dengan ibadah
Berkata Sa'id bin Al-Musayyab :
"Tiadalah seorang muadzin mela-kukan
adzan semenjak dua puluh tahun yang
lampau, melainkan saya ada di dalam
masjid.".
Berkata Muhammad bin Wasi' : "Tiada
aku rindukan dari dunia, selain dari
tiga : teman, jikalau aku bengkok,
maka diluruskannya; makanan dari
rezeki yang aku peroleh dengan
mudah tanpa menu-ruti kata orang
dan shalat berjama'ah yang tak aku
melupakannya dan dituliskan bagiku
keutamaannya".
Diriwayatkan bahwa Abu 'Ubaidah bin
Al-Jarrah pada suatu kali menjadi
imam shalat dari suatu kaum.Tatkala
mau pergi, maka ia berkata : "Terus-
nienerus setan tadi padaku, sampai
setan itu me-nampakkan kepadaku
bahwa aku mempunyai kelebihan dari
orang lain. Dari itu, aku tidak mau
menjadi imam shalat selama-lamanya".
Berkata Al-Hasan : "Janganlah engkau
bershalat di belakang orang yang
tiada bergaul dengan ulama".
Berkata An-Nakha'i ; "Orang yang
menjadi imam shalat dari orang banyak
tanpa ilmu, adalah seumpama orang
yang menyukat air di dalam laut, tidak
mengetahui tambahannya daripada
kekurangannya".
Berkata Hatim Al-Asham : "Tertinggal
aku suatu shalat dari berjama'ah, maka
diratapi aku oleh Abu Ishak Al-Bukhari
sendirian. Dan jikalau meninggallah
anakku, maka diratapi aku oleh lebih
dari sepuluh ribu orang, karena
bahaya yang menimpakan Agama
dipandang manusia lebih mudah
daripada bahaya yang menimpakan
dunia".
Berkata Ibnu Abbas ra. : "Siapa yang
mendengar suatu penyeru (suara
muadzin) dan tidak menjawabnya,
maka adalah dia tidak menghendaki
kebajikan dan kebajikanpun tiada
berkehendak kepadanya".
Berkata Abu Hurairah ra. : "Adalah
lebih baik bagi anak Adam, telinganya
penuh dengan timah hancur, daripada
mendengar adzan yang tidak
dijawabnya".
Diriwayatkan bahwa Maimun bin
Mahran datang ke masjid, lalu orang
mengatakan kepadanya bahwa orang
ramai sudah pulang (karena shalat
jama'ah sudah selesai), maka Maimun
menjawab:"Innaa lillaahi wa innaa
illaihi raaji'uun! Sesungguhnya
keutamaan shalat ini (shalat jama'ah),
adalah lebih baik bagiku daripada
menjadi wali negeri Irak".
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
ﻣﻦ ﺻﻠﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻓﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻻ ﺗﻔﻮﺗﻪ
ﻓﻴﻬﺎ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﺣﺮﺍﻡ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺑﺮﺍﺀﺗﻴﻦ ﺑﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ
ﺍﻟﻨﻔﺎﻕ ﻭﺑﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺭ
(Man shallaa arba'iina yaumanish-
shalawaati fii jamaa'atin laa ta-
fuutuhu fiihaa takbiiratul-ihraami
kataballaahu baraa-ataini baraa-atan
min an nifaaqi wa baraa-atan minan
naar).
Artinya : "Barangsiapa mengerjakan
shalat empat puluh hari dalam jama'ah,
yang tidak tertinggal padanya suatu
takbiratul-ihram, maka di tulis kan
oleh Allah baginya dua kelepasan :
kelepasan dari nifaq dan kelepasan
daripada neraka ". (1)
Ada yang mengatakan bahwa pada
hari qiamat dibangkitkan dari kubur
suatu kaum, wajahnya berseri-seri
seperti bintang yang berkilau-kilauan.
Maka bertanya malaikat kepada
mereka : "Apakah amal perbuatan kamu
dahulu?".
Menjawab mereka : "Adalah kami
apabila mendengar adzan, lalu bangun
bersuci dan tidak diganggu kami oleh
yang lain".
Kemudian dibangkitkan dari kubur
suatu golongan, wajahnya seperti
bulan, maka menjawab golongan ini
sesudah ditanya : "Adalah kami
berwudlu sebelum masuk waktu".
Kemudian dibangkitkan suatu golongan,
wajahnya seperti matahari, maka
golongan ini menjawab : "Adalah kami
mendengar adzan di masjid".
(1) Dirawikan At-Turmudzi diri Anas,
dengan isnad orang-orang perawinya
kepercayaan.
Diriwayatkan bahwa ulama-ulama
terdahulu (salaf) adalah meratapi
dirinya tiga hari, apabila tertinggal
takbir pertama pada shalat jama'ah,
Dan meratapi dirinyatujuh hari,
apabila tertinggal shalat jama'ah.
FADLILAH SUJUD.
Bersabda Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻞ :
"Tiadalah seorang hamba mendekatkan
dirinya kepada Allah dengan sesuatu,
yang lebih utama daripada sujud yang
tersembunyi (tidak di muka umum) "(1)
Bersabda Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . :
"Tiadalah seorang muslim bersujud
kepada Allah dengan satu sujud,
melainkan ia diangkatkan oleh Allah
satu tingkat dan dihapuskan
daripadanya satu kejahatan dengan
sebab sujud itu". (2)
Diriwayatkan : "Bahwa seorang laki-
laki meminta kepada Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : "Berdo'alah pada Allah
kiranya dijadikanNya aku diantara
orang yang memperoleh syafa'atmu
dan diberikanNya aku rezeki
mengawani engkau dalam sorga".
Maka menjawab Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .
: "Tolonglah aku dengan berbanyak
Sujud". (3)
Ada yang mengatakan : "Yang paling
dekat seorang hamba kepada Allah,
ialah bahwa ada ia seorang yang
sujud", itulah maksud firman Allah
Ta'ala : "Wasjud waqtarib". (Dan
sujudlnh dan. dekat-kanlah din
kepada ﺍﻟﻠﻪ ). (S. Al-Alaq, ayat 19).
Dan berfirman Allah Ta'ala : "Di muka
mereka ada tanda-tanda bekas sujud".
(S. Al-Fath, ayat 29). Ada yang
mengatakan, yaitu apa yang tersentuh
dengan mukanya dari bumi ketika
sujud. Ada yang mengatakan, yaitu
nur khusyu, yang menembus cemerlang
dari bathinnya kepada dhahir. Inilah
yang lebih benar. Dan ada yang
mengatakan, yaitu cahaya gemilang
yang ada pada mukanya di hari
qiamat dari bekas wudlu.
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Apabila anak Adam membaca ayat
sajadah (ayat yang disunatkan sujud
sesudah membacanya), lalu ia sujud,
maka pergilah setan sambil menangis
dan berkata : "Alangkah celakanya aku!
Orang ini disuruh sujud, lalu ia sujud
maka baginya sorga. Aku disuruh
sujud, lalu aku durhaka, maka bagiku
neraka".
1) Dirawikan tbnul-Mubarak dari
Shamrah bin Habib, hadits mursal
2)Dirawikan Muslim dari Tsauban dan
Abid-Darda'.
3)DirawikanMuslim dari Rabi'ah bin
Ka'ab Al-Aslami.
Diriwayatkan dari Ali bin Abdullah bin
Abbas, bahwa ia bersujud tiap-tiap
hari seribu sujud. Dan orang banyak
menggelarkan Ali ini dengan gelar "As-
Sajjad", artinya : orang banyak sujud.
Diriwayatkan bahwa Umar bin
Abdul-'Aziz ra. tiada melakukan sujud
selain atas tanah. Dan Yusuf bin
Asbath berkata : "Hai para pemuda!
Bersegeralah mempergunakan ketika
sehat sebelum sakit! Maka tiadalah
tinggal seseorang yang aku gemari,
selain orang yang menyempurnakan
ruku'nya dan sujudnya dan telah
terdindinglah diantara aku dan ruku'
sujud itu (karena telah lanjut
umurnya)"
Berkata Sa'id bin Jubair : "Tiada aku
meminta tolong pada sesuatu di dunia
ini, selain kepada sujud".
Berkata Uqbab bin Muslim : "Tiada
suatu perkarapun pada hamba yang
lebih disukai oleh Allah selain daripada
orang yang menyukai berjumpa
dengan Dia. Dan tiadalah dari sa'at
kehidupan hamba yang lebih dekat
kepadaNya, selain dari sa'at di mana
ia tersungkur bersujud kepadaNya".
Berkata Abu Hurairah ra. : "Yang lebih
mendekati seorang hamba kepada Allah
'Azza wa Jalla, ialah apabila ia sujud,
lalu membanyakkan do'a ketika itu".
FADLILAH KHUSYU' Berfirman Allah
Ta'ala :
Berfirman Allah 'Azza wa Jalla :
ﻭَﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻟِﺬِﻛْﺮِﻱ
(Wa-aqi mish shalaata lidzikrii).
Artinya : "Kerjakanlah shalat untuk
mengingati Aku!". (S. Tha Ha, ayat
14).
ﻭَﻻ ﺗَﻜُﻦْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ
Berfirman ﺍﻟﻠﻪ Ta'ala :
(Wa laa takun minal ghaafiliin).
Artinya : "janganlah engkau termasuk
orang-orang yang alpa". (S. Al-A'raaf,
ayat 205).
ﻻ ﺗَﻘْﺮَﺑُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺳُﻜَﺎﺭَﻯ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﺍ ﻣَﺎ
ﺗَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ
(Wa laa taqrabush shalaata wa antum
sukaaraa hattaa ta'lamuu maa
taquuluun).
Artinya : "Janganlah kamu hampiri
shalat ketika kamu sedang mabuk,
sampai kamu mengetahui apa yang
kamu katakan".(S. An-Nisaa', ayat 43).
Ada yang mengatakan : mabuk dari
banyak angan-angan. Dan ada yang
mengatakan : mabuk dari cinta kepada
dunia. Berkata Wahb : "Yang
dimaksudkan dengan mabuk itu secara
dhahirnya saja. Yaitu memperingati
kepada mabuk dunia, karena
diterangkan oleh Allah sebabnya,
dengan firmanNya : "Sampai kamu
mengetahui apa yang kamu katakan
Berapa banyak orang yang bershalat
yang tidak minum khamar, padahal dia
tiada mengetahui apa yang dibacanya
dalam shalat.
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Barangsiapa mengerjakan shalat dua
raka'at, di mana ia tidak berbicara
dengan dirinya dalam dua raka'at itu
mengenai sesuatu urusan duniawi,
niscaya diampunkan baginya apa yang
telah lalu daripada dosanya". (1)
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Sesungguhnya shalat itu menetapkan
hati, menundukkan diri, merendahkan
hati, merapati bathin, menyesali diri.
Dan engkau meletakkan dua tangan
engkau seraya membaca : "Ya Allah ya
TuhankuI Ya Allah, ya Tuhanku!".
Barangsiapa tiada berbuat demikian,
maka shalat itu penuh kekurangan-
kekurangan".(2)
Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala
berfirman dalam kitab-kitab yang
dahulu ; "Tidaklah tiap-tiap orang
yang mengerjakan shalat itu, Aku
terima shalatnya. Hanya Aku terima
shalat orang yang merendahkan diri
karena kebesaranKu, tiada
menyombong dengan hamba-hambaKu
dan memberi makanan kepada orang
miskin yang lapar karena Aku
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :
"Sesungguhnya diwajibkan shalat,
disuruh mengerjakan hajji dan thawaf
dan disuruh syi'arkan segala ibadah
hajji itu, adalah karena menegakkan
dzikir (mengingati) Allah Ta'ala". (3)
Apabila tidak ada dalam hatimu untuk
yang tersebut tadi, yang mana itulah
yang dimaksud dan yang dicari,
karena kebesaran dan tidak
kehebatan, maka apakah harganya
dzikirmu itu?".
1)Dirawikan Ibnu Abi Syatbah dari
Shillah bin Usyaim hadits mursal.
2)Dirawikan At-Tirmidzi dan lain-lain
dari Ai-Fadl bin Abbas, dengan isnad
yang tidak diyakini.
3)Dirawikan At-Tirmidzi dari A'isyah,
hadits hasan (baik) dan shahih.
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ kepada
orang yang diberinya wasiat: "Apabila
engkau mengerjakan shalat, maka
bershalatlah sebagai shalat orang yang
mengucapkan selamat tinggal". Artinya
: mengucapkan selamat tinggal kepada
dirinya, kepada hawa-nafsunya dan
kepada umurnya, berjalan kepada
Tuhannya, sebagaimana berfirman
Allah 'Azza wa Jalla :
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻹﻧْﺴَﺎﻥُ ﺇِﻧَّﻚَ ﻛَﺎﺩِﺡٌ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻚَ ﻛَﺪْﺣًﺎ ﻓَﻤُﻼﻗِﻴﻪِ
(Yaa-ayyuhal insaanu innaka kaadihun
ilaa rabbika kad-han famu-laaqiih).
Artinya : "Hai manusia! Sesungguhnya
engkau mesti bekerja keras dengan
sesungguhnya (menuju) kepada Tuhan,
kemudian itu kamu akan menemuiNya".
(S. Al-Insyiqaq, ayat 6).
Berfirman Allah Ta'ala : "Bertaqwalah
kepada Allah! Allah mengajar kamu
(S.Al-Baqarah282).
Berfirman Allah Ta'ala : "Dan
bertaqwalah kepada Allah dan
ketahuilah bahwa kamu akan menemui
Dia". (S. Al-Baqarah, ayat 223).
ﻣﻦ ﻟﻢ ﺗﻨﻬﻪ ﺻﻼﺗﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻔﺤﺸﺎﺀ ﻭﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻟﻢ ﻳﺰﺩﺩ ﻣﻦ
ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﺑﻌﺪﺍ ﺣﺪﻳﺚ ﻣﻦ ﻟﻢ ﺗﻨﻬﻪ
(Man lam tanhahu shalaatuhu "anil
faljsyaa-i wal munkari lam yaz-dad
minallaahi illaa bu'-daa).
Artinya : "Barangsiapa tidak dicegah
oleh shalatnya daripada perbuatan keji
dan munkar, maka dia tidak bertambah
dekat kepada Allah melainkan
bertambah jauh". (1)
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻞ :
Shalat itu adalah munajah dengan
Allah. Maka bagaimanakah ada
munajah itu serta kelalaian?
Berkata Bakr bin Abdullah : "Hai anak
Adam! Apabila engkau bermaksud
masuk kepada Tuhanmu tanpa izin dan
berbicara dengan Dia tanpa juru
bahasa, maka masuklah!".
Lalu orang bertanya : "Bagaimanakah
yang demikian itu?".
Maka menjawab Bakr bin Abdullah :
"Engkau lengkapkan wudlumu dan
engkau masuk ke mihrabmu. Apabila
engkau telah masuk kepada Tuhanmu
dengan tanpa izin itu, maka
berbicaralah dengan Dia tanpa ada
juru bahasa!".
(1) Dirawikan Ali bin Ma'bad dari Al-
Hasan, hadits mursal, dengan isnad
shahih.
Dari 'Aisyah ra. yang mengatakan :
"Adalah Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
bercakap-cakap dengan kami dan kami
pun bercakap-cakap dengan beliau.
Maka apabila datang waktu shalat, lalu
seolah-olah beliau tidak mengenal
kami dan kamipun tidak mengenal
beliau", karena seluruh jiwa raga
tertuju kepada kebesaran Allah. (1)
Bersabda Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . :
"Allah tidak memandang kepada shalat,
di mana orang itu di dalam shalatnya
tidak menghadhrkan hatinya serta
badannya'\
Adalah Nabi Ibrahim as. apabila
berdiri kepada shalat, lalu terdengar
detak jantungnya pada jarak dua mil,
Dan adalah Sa'id At-Tunukhi apabila
mengerjakan shalat, maka tiada putus-
putusnya air mata dari dua pipinya ke
atas janggutnya.
Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ melihat
seorang laki-laki bermain-main
dengan janggutnya dalam shalat, maka
beliau bersabda : "Jikalau khusyu lah
hati orang ini, niscaya khusyu'lah
anggota-anggota badannya ". (2)
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan
memandang kepada seorang laki-laki
yang bermain-main dengan batu dan
berdo'a : "Ya Allah, ya Tuhanku!
Kawinkanlah aku dengan bidadari!".
Maka berkata Al-Hasan : "Buruk
benarlah pelamar yang semacam ini!
Engkau melamarkan bidadari, sedang
engkau bermain-main dengan batu".
Ditanyakan kepada Khalf bin Ayyub :
"Tidakkah diganggu engkau oleh lalat
dalam shalat engkau, sehingga perlu
engkau usir lalat itu?"
Menjawab Khalf bin Ayyub : "Tidak aku
biasakan bagi diriku sesuatu yang
merusakkan shalatku".Maka ditanyakan
lagi : "Bagaimanakah engkau bisa
tahan yang demikian itu?".
Menjawab Khalf bin Ayyub : "Orang
menceriterakan kepadaku bahwa
penjahat-penjahat tahan dari pukulan
cemeti-cemeti sultan, supaya
dikatakan : "Bahwa si Anu itu tahan
menderita". Lalu mereka itu merasa
bangga dengan demikian. Adapun aku
berdiri dihadapan Tuhanku, maka
patutkah aku bergerak karena seekor
lalat?".
Diriwayatkan dari Muslim bin Yassar,
bahwa apabila ia bermaksud
mengerjakan shalat, maka ia berkata
kepada keluarganya : "Bercakap-cakap
lah kamu sesama kamu, sedang aku
tidak mendengar percakapanmu itu!".
Diriwayatkan dari Muslim bin Yassar
tadi, bahwa pada suatu hari ia
mengerjakan shalat di masjid jami'
Basrah. Maka robohlah suatu sudut
dari masjid itu. Lalu berkumpullah
manusia ke sana. Sedang Muslim tadi
tiada mengetahuinya sama sekali,
sehingga selesailah ia daripada
shalatnya itu.
1.Diriwayatkan Dari Al Azdi dari
Suwaid Bin Ghaflah Hadis Mursal
2.Dirawikan Dari AtTirmidzi dari Abu
Hurairah. Dengan sanad dlai'if
Adalah Ali bin Abi Thalib ra. apabila
datang waktu shalat, maka
gementarlah badannya dan berobahlah
warna mukanya. Lalu ia ditanyakan
orang : "Apakah yang menimpakan
kepada engkau wahai Amirul
mu'minin?".
Ali menjawab : "Telah datang waktu
amanah yang didatangkan oleh Allah
kepada langit, bumi dan bukit, maka
semuanya ini enggan menerimanya
dan merasa berat daripadanya. Dan
aku meneri-manya".
Diriwayatkan dari Ali bin Al-Husain,
bahwa apabila ia mengambil wudlu
maka pucatlah warna mukanya. Lalu
bertanyalah keluarga-nya : „Apakah
yang menimpakan kamu ketika
berwudlu?".
Maka menjawab Ali bin Al-Husain :
"Tahukah kamu dihadapan Siapa aku
mau berdiri?".
Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas ra.
bahwa ia berkata : "Berdo'a-lah Nabi
Dawud as. dalam munajahnya : "Wahai
Tuhanku! Siapakah yang mendiami
rumah Engkau dan dari siapakah yang
Engkau terima shalatnya?".
Maka diturunkan Allah wahyu kepada
Dawud as. : "Wahai Dawud.'
Sesungguhnya yang mendiami rumah
Ku dan yang Aku terima shalat
daripadanya, ialah orang yang
merendahkan diri karena
keagunganKu, menghabiskan siangnya
dengan mengingati Aku, mencegah
dirinya dari hawa nafsu karena Aku,
diberinya makanan kepada orang yang
lapar, diberinya tempat kepada orang
yang merantau dan dikasihaninya
orang yang mendapat mushibah. Itulah
orang yang bercahaya nurnya pada
segala langit Iaksana matahari. Kalau
ia berdo'a kepadaKu niscaya Aku
terima dan kalau ia meminta kepadaKu
niscaya Aku berikan. Aku jadikan
baginya di dalam kebodohannya, akan
kasih sayang, di dalam kelalaiannya
akan peringatan dan di dalam
kegelapannya akan nur yang terang
ben-derang. Dia dalam kalangan
manusia, adalah Iaksana sorga firdaus
pada lapisan sorga yang paling tinggi,
tiada kering sungainya dan tiada
berobah buah-buahannya'
Diriwayatkan dari Hatim Al-Ashamm ra.
bahwa ditanyakan orang mengenai
shalatnya, maka ia menjawab : "Apabila
datang waktu shalat, maka aku
lengkapkan wudlu dan aku datangi
tempat, di mana di situ aku bermaksud
mengerjakan shalat. Maka aku duduk
pada tempat itu, sehingga
berkumpullah segala anggota badan ku.
Kemudian aku berdiri kepada shalatku,
aku jadikan Ka'bah diantara dua
keningku, titian Ash-Shiraathal
Mustaqim di bawah tapak-ku, sorga di
kananku, neraka di kiriku, malikul-
maut di belakangku, aku menyangka
shalat ini penghabisan shalatku,
kemudian aku berdiri diantara harap
dan cemas. Aku bertakbir dengan
penuh keyakinan, aku membaca bacaan
dengan bacaan yang baik, aku ruku'
dengan merendahkan diri, aku sujud
dengan khusu' hati, aku duduk atas
punggung kiri dan aku bentangkan
belakang tapak kiri, aku tegakkan
tapak-kanan atas ibu jari kaki dan
aku ikutkan keikhlasan hati. Kemudian
aku tiada mengetahui, apakah shalatku
itu diterima atau tidak".
Berkata Ibnu Abbas ra. : "Dua raka'at
shalat dengan sempurna tafakkur,
adalah lebih baik daripada
mengerjakan shalat semalam suntuk,
sedang hati itu lupa",
Tidak ada komentar:
Posting Komentar