Produk apa yang anda cari?

Rabu, 14 September 2016

KISAH WALISONGO

“Walisongo” berarti sembilan orang
wali”
Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim,
Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang,
Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan
Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung
Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang
persis bersamaan. Namun satu sama lain
mempunyai keterkaitan erat, bila tidak
dalam ikatan darah juga dalam
hubungan guru-murid
Maulana Malik Ibrahim yang tertua.
Sunan Ampel anak Maulana Malik
Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan
Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga
sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan
Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel.
Sunan Kalijaga merupakan sahabat
sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan
Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus
murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati
adalah sahabat para Sunan lain, kecuali
Maulana Malik Ibrahim yang lebih
dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari
awal abad 15 hingga pertengahan abad
16, di tiga wilayah penting. Yakni
Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa
Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa
Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat.
Mereka adalah para intelektual yang
menjadi pembaharu masyarakat pada
masanya. Mereka mengenalkan berbagai
bentuk peradaban baru: mulai dari
kesehatan, bercocok tanam, niaga,
kebudayaan dan kesenian,
kemasyarakatan hingga pemerintahan.
http://
juragansejarah.blogspot.com/2013/05/
sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-
wali.html
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah
dua institusi pendidikan paling penting
di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam
berkembang ke seluruh wilayah timur
Nusantara. Sunan Giri dan Sunan
Gunung Jati bukan hanya ulama, namun
juga pemimpin pemerintahan. Sunan
Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah
kreator karya seni yang pengaruhnya
masih terasa hingga sekarang. Sedangkan
Sunan Muria adalah pendamping sejati
kaum jelata.
Era
Walisongo adalah era berakhirnya
dominasi Hindu-Budha dalam budaya
Nusantara untuk digantikan dengan
kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol
penyebaran Islam di Indonesia.
Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh
lain yang juga berperan. Namun peranan
mereka yang sangat besar dalam
mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga
pengaruhnya terhadap kebudayaan
masyarakat secara luas serta dakwah
secara langsung, membuat “sembilan
wali” ini lebih banyak disebut dibanding
yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai
peran yang unik dalam penyebaran Islam.
Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang
menempatkan diri sebagai “tabib” bagi
Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang
disebut para kolonialis sebagai “paus dari
Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta
karya kesenian dengan menggunakan
nuansa yang dapat dipahami masyarakat
Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.
1. Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum
Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di
Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal
abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma
menyebutnya Asmarakandi, mengikuti
pengucapan lidah Jawa terhadap As-
Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut
sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat
malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia
bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama
terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah
dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan
Ishak adalah anak dari seorang ulama
Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro,
yang menetap di Samarkand. Maulana
Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan
ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi
Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di
Campa, sekarang Kamboja, selama tiga
belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah
menikahi putri raja, yang memberinya dua
putra. Mereka adalah Raden Rahmat
(dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali
Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup
menjalankan misi dakwah di negeri itu,
tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah
ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa
kedatangannya disertai beberapa orang.
Daerah yang ditujunya pertama kali yakni
desa Sembalo, daerah yang masih berada
dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa
Sembalo sekarang, adalah daerah Leran
kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota
Gresik.
http://
juragansejarah.blogspot.com/2013/05/
sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-wali.html
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika
itu adalah berdagang dengan cara membuka
warung. Warung itu menyediakan kebutuhan
pokok dengan harga murah. Selain itu
secara khusus Malik Ibrahim juga
menyediakan diri untuk mengobati
masyarakat secara gratis. Sebagai tabib,
kabarnya, ia pernah diundang untuk
mengobati istri raja yang berasal dari
Campa. Besar kemungkinan permaisuri
tersebut masih kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara
baru bercocok tanam. Ia merangkul
masyarakat bawah -kasta yang disisihkan
dalam Hindu. Maka sempurnalah misi
pertamanya, yaitu mencari tempat di hati
masyarakat sekitar yang ketika itu tengah
dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.
Selesai membangun dan menata pondokan
tempat belajar agama di Leran, tahun 1419
M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya
kini terdapat di kampung Gapura, Gresik,
Jawa Timur.n
2. Sunan Ampel
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim.
Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah
Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal
dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di
Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel
sendiri, diidentikkan dengan nama tempat
dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel
atau Ampel Denta, wilayah yang kini
menjadi bagian dari Surabaya (kota
Wonokromo sekarang)
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan
Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun
1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang
adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka
singgah dulu di Palembang. Setelah tiga
tahun di Palembang, kemudian ia melabuh
ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke
Majapahit menemui bibinya, seorang putri
dari Campa, bernama Dwarawati, yang
dipersunting salah seorang raja Majapahit
beragama Hindu bergelar Prabu Sri
Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang
adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia
dikaruniai beberapa putera dan puteri.
Diantaranya yang menjadi penerusnya
adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat.
Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah
selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan
Ampel turut membidani lahirnya kerajaan
Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang
menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari
Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk
menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
http://
juragansejarah.blogspot.com/2013/05/
sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-wali.html
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah
yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia
membangun mengembangkan pondok
pesantren. Mula-mula ia merangkul
masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan
Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra
pendidikan yang sangat berpengaruh di
wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di
antara para santrinya adalah Sunan Giri dan
Raden Patah. Para santri tersebut kemudian
disebarnya untuk berdakwah ke berbagai
pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi.
Namun, pada para santrinya, ia hanya
memberikan pengajaran sederhana yang
menekankan pada penanaman akidah dan
ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah
“Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh
maling, moh madat, moh madon). Yakni
seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum
minuman keras, tidak mencuri, tidak
menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun
1481 M di Demak dan dimakamkan di
sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.
3. Sunan Giri
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias
Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di
Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M.
Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra.
Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa
kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga
ibunya–seorang putri raja Blambangan
bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden
Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai
Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara
sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana
Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi
gagal mengislamkan sang mertua. Oleh
karena itulah ia meninggalkan keluarga
isterinya berkelana hingga ke Samudra
Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren
misannya, Sunan Ampel, tempat dimana
Raden Patah juga belajar. Ia sempat
berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah
merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren
di daerah perbukitan Desa Sidomukti,
Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit
adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan
sebagai tempat pendidikan dalam arti
sempit, namun juga sebagai pusat
pengembangan masyarakat. Raja Majapahit
-konon karena khawatir Sunan Giri
mencetuskan pemberontakan- memberi
keleluasaan padanya untuk mengatur
pemerintahan. Maka pesantren itupun
berkembang menjadi salah satu pusat
kekuasaan yang disebut Giri Kedaton.
Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri
juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik
yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika
Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit,
Sunan Giri malah bertindak sebagai
penasihat dan panglima militer Kesultanan
Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad
Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari
pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai
mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-
Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun.
Salah seorang penerusnya, Pangeran
Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih
menentang kolusi VOC dan Amangkurat II
pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal
sebagai penyebar Islam yang gigih ke
berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean,
Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa
Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi
Selatan, Datuk Ribandang dan dua
sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang
berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena
pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih.
Orang-orang pun menyebutnya sebagai
Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya
seni yang luar biasa. Permainan anak seperti
Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng
disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian
pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi
bernuansa Jawa namun syarat dengan
ajaran Islam.
4. Sunan Bonang
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu
Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya
adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir
diperkirakan 1465 M dari seorang
perempuan bernama Nyi Ageng Manila,
puteri seorang adipati di Tuban
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan
Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai
daerah tandus di Jawa Tengah seperti
Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara
berdakwahnya pun meniru pendekatan
Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya
setempat. Cara penyampaiannya bahkan
lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang
kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang
mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-
menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat
Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-
simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari
arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara,
gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang
melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah
wujud kompromi yang dilakukan Sunan
Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat
untuk pergi ke masjid mendengarkan
tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja
menambatkan sapinya yang diberi nama
Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-
orang Hindu yang mengagungkan sapi,
menjadi simpati. Apalagi setelah mereka
mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang
surat Al Baqarah
yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang,
sebagian masyarakat tradisional Kudus,
masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita
ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya
secara berseri, sehingga masyarakat tertarik
untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah
pendekatan yang tampaknya mengadopsi
cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan
Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus
mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang
dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana
ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima
Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur
saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan
Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang,
Arya Penangsang.
5. Sunan Kalijaga
Dialah “wali” yang namanya paling banyak
disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar
tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya
Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari
tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe.
Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah
menganut Islam
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden
Said. Ia juga memiliki sejumlah nama
panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya,
Pangeran Tuban atau Raden
Abdurrahman.Terdapat beragam versi
menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang
disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa
nama itu berasal dari dusun Kalijaga di
Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah
tinggal di Cirebon dan bersahabat erat
dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa
mengaitkannya dengan kesukaan wali ini
untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali)
atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut
istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli
dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai
“penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan
mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan
demikian ia mengalami masa akhir
kekuasaan Majapahit (berakhir 1478),
Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan
Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang
lahir pada 1546 serta awal kehadiran
Kerajaan Mataram dibawah pimpinan
Panembahan Senopati. Ia ikut pula
merancang pembangunan Masjid Agung
Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang
“tatal” (pecahan kayu) yang merupakan
salah satu dari tiang utama masjid adalah
kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama
dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya,
Sunan Bonang. Paham keagamaannya
cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan
sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga
memilih kesenian dan kebudayaan sebagai
sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia
berpendapat bahwa masyarakat akan
menjauh jika diserang pendiriannya. Maka
mereka harus didekati secara bertahap:
mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan
Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah
dipahami, dengan sendirinya kebiasaan
lama hilang.
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan
sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia
menggunakan seni ukir, wayang, gamelan,
serta seni suara suluk sebagai sarana
dakwah. Dialah pencipta Baju takwa,
perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang
Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja.
Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun
dengan dua beringin serta masjid diyakini
sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif.
Sebagian besar adipati di Jawa memeluk
Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya
adalah Adipati Padanaran, Kartasura,
Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang
Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga
dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.
6. Sunan Gunung Jati
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan
dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya
adalah bahwa ia pernah mengalami
perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu
bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi
Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman.
(Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).
Semua itu hanya mengisyaratkan
kekaguman masyarakat masa itu pada
Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau
Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir
sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai
Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden
Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah
Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda,
pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari
Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama
sejak berusia 14 tahun dari para ulama
Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai
negara. Menyusul berdirinya Kesultanan
Bintoro Demak, dan atas restu kalangan
ulama lain, ia mendirikan Kasultanan
Cirebon yang juga dikenal sebagai
Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah
satu-satunya “wali songo” yang memimpin
pemerintahan. Sunan Gunung Jati
memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra
Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam
dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan
atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia menganut
kecenderungan Timur Tengah yang lugas.
Namun ia juga mendekati rakyat dengan
membangun infrastruktur berupa jalan-jalan
yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin,
Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi
ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk
Umum, menyerahkan sukarela penguasaan
wilayah Banten tersebut yang kemudian
menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati
mundur dari jabatannya untuk hanya
menekuni dakwah. Kekuasaan itu
diserahkannya kepada Pangeran Pasarean.
Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati
wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu
Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung
Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer
sebelum kota Cirebon dari arah barat.
7. Sunan Drajat
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan
Ampel. Dengan demikian ia bersaudara
dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan
Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini
lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat
mendapat tugas pertama kali dari ayahnya
untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui
laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog –
pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang.
Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat
berpindah 1 kilometer ke selatan dan
mendirikan padepokan santri Dalem Duwur,
yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-
Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan
Drajat mengambil cara ayahnya: langsung
dan tidak banyak mendekati budaya lokal.
Meskipun demikian, cara penyampaiannya
mengadaptasi cara berkesenian yang
dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.
Maka ia menggubah sejumlah suluk, di
antaranya adalah suluk petuah “berilah
tongkat pada si buta/beri makan pada yang
lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang
bersahaja yang suka menolong. Di pondok
pesantrennya, ia banyak memelihara anak-
anak yatim-piatu dan fakir miskin.
8. Sunan Kudus
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra
pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik
Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka.
Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah
salah seorang putra Sultan di Mesir yang
berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan
Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima
Perang.
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan
Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai
daerah tandus di Jawa Tengah seperti
Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara
berdakwahnya pun meniru pendekatan
Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya
setempat. Cara penyampaiannya bahkan
lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang
kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang
mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-
menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat
Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-
simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari
arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara,
gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang
melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah
wujud kompromi yang dilakukan Sunan
Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat
untuk pergi ke masjid mendengarkan
tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja
menambatkan sapinya yang diberi nama
Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-
orang Hindu yang mengagungkan sapi,
menjadi simpati. Apalagi setelah mereka
mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang
surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”.
Sampai sekarang, sebagian masyarakat
tradisional Kudus, masih menolak untuk
menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita
ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya
secara berseri, sehingga masyarakat tertarik
untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah
pendekatan yang tampaknya mengadopsi
cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan
Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus
mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang
dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana
ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima
Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur
saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan
Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang,
Arya Penangsang.
9. Sunan Muria
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan
Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak,
dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya
adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil
dari tempat tinggal terakhirnya di lereng
Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota
Kudus
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara
ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda
dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka
tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh
dari pusat kota untuk menyebarkan agama
Islam.
http://
juragansejarah.blogspot.com/2013/05/
sejarah-wali-songo-lengkap-cerita-wali.html
Bergaul dengan rakyat jelata, sambil
mengajarkan keterampilan-keterampilan
bercocok tanam, berdagang dan melaut
adalah kesukaannya.
Sunan Muria seringkali dijadikan pula
sebagai penengah dalam konflik internal di
Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal
sebagai pribadi yang mampu memecahkan
berbagai masalah betapapun rumitnya
masalah itu. Solusi pemecahannya pun
selalu dapat diterima oleh semua pihak yang
berseteru. Sunan Muria berdakwah dari
Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus
dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat
seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar