Produk apa yang anda cari?

Minggu, 21 Agustus 2016

tafakur (Merenung) Sebagai Jalan Masuknya Hikmah

Adalah akan jauh lebih baik, bila
saudara-saudaraku menemukan
kebenaran dari hasil perenungan
sendiri daripada menerima suatu
kebenaran dari orang lain (pepatah
Barat mengatakan : “I hear I forget,
I see I Know, I do I Understand”
yang artinya kurang lebih “Aku
Dengar Aku Lupakan, Aku Lihat Aku
Mengetahui, Aku Melakukan Aku
Pahami”.
Menerima kebenaran dan menemukan
kebenaran adalah sesuatu yang
berbeda. Menerima kebenaran
cukuplah dengan bertaqliq atau
‘mengikut’, sedangkan menemukan
kebenaran hanya akan diperoleh
melalui perenungan demi perenungan
yang mendalam.
Sudah menjadi sunatullah bahwa
kebenaran yang ditemukan sendiri,
ibarat mata air yang tak pernah
kering; sedangkan kebenaran yang
kita terima dari manusia, ibarat
hujan di musim kemarau. Tentu saja
yang dimaksud dengan kebenaran
disini bukanlah kebenaran dalam
konteks seperti dua tambah dua
sama dengan empat, tetapi
maksudnya adalah kebenaran yang
sifatnya memberikan “pencerahan”
bagi jiwa; misalnya saja. “perbuatan
maksiat itu artinya sama dengan
menanda tangani kontrak untuk
tinggal di neraka”.
Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a.
berkata :
“Janganlah kamu mengenal dan
mengikuti kebenaran karena
tokohnya; tetapi kenalilah kebenaran
itu sendiri, niscaya kamu mengetahui
siapa tokohnya”
“Allah menganugerahkan al-hikmah
(kepahaman yang dalam tentang Al-
Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa
yang Dia kehendaki. Dan
barangsiapa yang dianugerahkan al-
hikmah itu, ia benar-benar telah
dianugerahi karunia yang banyak.
Dan tak ada yang dapat mengambil
pelajaran kecuali orang-orang yang
berakal” Qs. Al-Baqoroh :269
Nasihat Luqman Al Hakim kepada
anaknya : “Wahai anakku,
sesungguhnya hikmah itu
mendudukkan orang-orang miskin di
tempat para raja”
Raja sebagai gambaran orang yang
tidak pernah susah. Orang miskin
pun dapat merasakan bahagia bila
memiliki banyak hikmah. Hikmah
menggambarkan “pencerahan” jiwa,
yaitu yang akan berfungsi
mengendalikan ketentraman. Sebagai
contoh orang yang jiwanya telah
tercerahkan bahwa segala yang
menimpanya pasti berasal dari
keputusan Allah Yang Maha Pengasih
Maha Penyayang dan Maha Adil,
maka niscaya ia tidak akan mudah
goyah bila ditimpa musibah. Ia akan
pasrah, ketentramannya pun tidak
terusik.
Seperti halnya rezeki, maka hikmah
inipun hanya diberikan Allah kepada
orang-orang yang berusaha untuk
mendapatkannya; yaitu yang mau
menggunakan kemampuan AKAL dan
RASA yang dimilikinya untuk
bertafakur. Sayidina Ali bin Abi
Thalib r.a. berkata : “Tiada ilmu
yang lebih baik daripada hasil
tafakur”. Dan di dalam Al-Qur’an
pun, ditemukan tidak kurang dari
130 kali perintah Allah untuk berfikir
(antara lain pada surat Shaad:29,
Adz-Dzariyaat:20-21, Yunus:24);
serta kehinaan akan menimpa orang
yang tidak mau berfikir (Al-
Furqan:44, Al-A’raaf:179, Al-
Mulk:10).
Tafakur sudah terbukti merupakan
pelita hati, karena itu apabila ia
tidak dihidupkan, maka hati akan
gelap gulita. Orang yang serius
merenungi tentang apa-apa yang
telah Allah ciptakan ; atau apa pun
tentang sakratulmaut, siksa kubur,
maupun kesulitan-kesulitan yang
akan dijumpai di hari kiamat kelak,
niscaya akan mendapatkan
pencerahan jiwa. Demikian besar
keutamaan bertafakur, sehingga
Rasulullah pun pernah bersabda:
“Bertafakur sejenak lebih baik
daripada ibadah satu tahun”.
Mengapa Rasulullah berwasiat
demikian?, sebagaimana peringatan
tegas Allah dalam Al-Qur’an : “Dan
sesungguhnya kami ciptakan untuk
(isi neraka jahanam) kebanyakan dari
jin dan manusia. Mereka mempunyai
hati tapi tidak dipergunakan untuk
memahami, mempunyai mata tidak
dipergunakan untuk melihat,
mempunyai telinga tidak
dipergunakan untuk mendengar.
Mereka itu seperti binatang ternak,
bahkan lebih sesat lagi. Mereka
itulah orang-orang yang lalai.[Al-
A’raaf(7):179]
Seorang ulama besar bernama Hasan
Al-Basryi pernah berkata : “Tafakur
itu seperti cermin yang dapat
menunjukkan kebaikanmu dan
kejelekanmu. Dengan cermin itu pula
manusia dapat melihat kagungan dan
kebesaran Allah Yang Maha Tinggi.
Disamping itu, dengan cermin itu
pula manusia dapat melihat tanda-
tanda yang diberikan Allah, baik
yang jelas maupun yang samar,
sehingga akhirnya ia dapat berlaku
lurus di dalam pengabdian
kepadaNya.”
Apa yang harus ditafakuri ?
Sesungguhnya buah dari tafakur
adalah keyakinan-keyakinan
Illahiyah yang akan memudahkan
kita dalam pengendalian diri agar
dapat selalu taat pada keinginan
Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu
banyak obyek yang dapat ditafakuri,
antara lain :
a. Bertafakur mengenai tanda-tanda
yang menunjukkan kekuasaan Allah;
akan lahir darinya rasa tawadhu
(rendah hati) dan rasa takzim akan
keagungan Allah.
b. Bertafakur mengenai kenikmatan-
kenikmatan yang telah Allah berikan;
akan lahir darinya rasa cinta dan
syukur kepada Allah,
c. Bertafakur tentang janji-janji
Allah; akan lahir darinya rasa cinta
kepada akhirat,
d. Bertafakur tentang ancaman Allah;
akan lahir darinya rasa takut kepada
Allah,
e. Bertafakur tentang sejauh mana
ketaatan kita kepada Allah
sementara Ia selalu mencurahkan
karunianya kepada kita; akan lahir
darinya kegairahan dalam beribadah.
Salah satu contoh tafakur :
Bila direnungkan, sedetik dari hidup
ini pun sudah mukjizat. Bagaimana
kita bisa bernafas, punya jantung
yang berdetak, mata berkedip,
telinga yang dapat mendengar, lidah
yang dapat merasakan kenikmatan
makanan, dan seterusnya. Semuanya
sungguh menakjubkan !
Ketika gigi kita tanggal satu, kita
menjadi susah makan. Ya Allah, gigi
satu hilang begitu susahnya. Sekian
tahun Engkau berikan gigi itu, baru
sekarang disadari artinya ketika dia
copot. Satu gigi menjadi begitu
bernilainya, lalu bagaimana dengan
tangan, hidung, mata, telinga dan
otak ?
Dengan bertafakur seperti ini, akan
timbul rasa malu. Betapa Allah telah
memberikan karunia yang sangat
banyak, tetapi kita tidak mengabdi
kepada-Nya dengan bersungguh-
sungguh.
Namun, mengerti atau mengenal
“kebenaran” saja tidaklah cukup.
Karena Al-Qur’an mengatakan,
bahwa orang yang terhindar dari
“kerugian” adalah mereka yang
memenuhi 4 kriteria :
Pertama, yang mengenal kebenaran
Kedua, yang mengamalkan kebenaran
Ketiga, yang saling nasehat
menasehati mengenai kebenaran,
dan
Keempat, yang sabar dan tabah
dalam mengamalkan serta
mengajarkan kebenaran.
Wallohu`alam bis showab

1 komentar: