Produk apa yang anda cari?

Minggu, 21 Agustus 2016

hukum Membaca Al Qur’an Dengan Tajwid?

Apakah Wajib
Membaca Al
Qur’an Dengan
Tajwid?
Membaca Al Qur'an adalah
amalan yang agung dan
banyak keutamaannya.
Dalam membaca Al Qur'an
dikenal ilmu tajwid.
Bagaimanakah hukum ilmu
tajwid ini? Apakah wajib
membaca Al Qur'an dengan
menerapkan kaidah-kaidah
tajwid?
By Yulian Purnama 30 April 2015
 55  8706  15
Print PDF
Fiqh dan Muamalah Al-Quran
Tafsir tajwid tartil
Yulian Purnama
Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta,
S1 Ilmu Komputer UGM,
kontributor web
PengusahaMuslim.Com
Membaca Al Qur’an adalah
amalan yang agung dan banyak
keutamaannya. Dalam membaca
Al Qur’an dikenal ilmu tajwid.
Bagaimanakah hukum ilmu tajwid
ini? Apakah wajib membaca Al
Qur’an dengan menerapkan
kaidah-kaidah tajwid?
Definisi ilmu tajwid
Tajwid secara bahasa adalah
mashdar dari jawwada-yujawwidu ,
yang artinya membaguskan.
Sedangkan secara istilah, Imam
Ibnul Jazari menjelaskan:
ﺍﻹﺗﻴﺎﻥ ﺑﺎﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﺠﻮﺩﺓ ﺑﺎﻷﻟﻔﺎﻅ ﺑﺮﻳﺌﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺩﺍﺀﺓ
ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻄﻖ ﻭﻣﻌﻨﺎﻩ ﺍﻧﺘﻬﺎﺀ ﺍﻟﻐﺎﻳﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺼﺤﻴﺢ ﻭﺑﻠﻮﻍ
ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺤﺴﻴﻦ
“tajwid adalah membaca dengan
membaguskan pelafalannya, yang
terhindar dari keburukan pelafalan
dan keburukan maknanya, serta
membaca dengan maksimal
tingkat kebenarannya dan
kebagusannya” (An Nasyr fil
Qira’at Al ‘Asyr , 1/210).
Beliau juga menjelaskan hakekat
dari ilmu tajwid,
ﻓﺎﻟﺘﺠﻮﻳﺪ ﻫﻮ ﺣﻠﻴﺔ ﺍﻟﺘﻼﻭﺓ ، ﻭﺯﻳﻨﺔ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ، ﻭﻫﻮ
ﺇﻋﻄﺎﺀ ﺍﻟﺤﺮﻭﻑ ﺣﻘﻮﻗﻬﺎ ﻭﺗﺮﺗﻴﺒﻬﺎ ﻣﺮﺍﺗﺒﻬﺎ ، ﻭﺭﺩ
ﺍﻟﺤﺮﻑ ﺇﻟﻰ ﻣﺨﺮﺟﻪ ﻭﺃﺻﻠﻪ ، ﻭﺇﻟﺤﺎﻗﻪ ﺑﻨﻈﻴﺮﻩ
ﻭﺗﺼﺤﻴﺢ ﻟﻔﻈﻪ ﻭﺗﻠﻄﻴﻒ ﺍﻟﻨﻄﻖ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺣﺎﻝ ﺻﻴﻐﺘﻪ ،
ﻭﻛﻤﺎﻝ ﻫﻴﺌﺘﻪ ; ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺇﺳﺮﺍﻑ ﻭﻻ ﺗﻌﺴﻒ ﻭﻻ
ﺇﻓﺮﺍﻁ ﻭﻻ ﺗﻜﻠﻒ
“maka tajwid itu merupakan
penghias bacaan, yaitu dengan
memberikan hak-hak, urutan dan
tingkatan yang benar kepada
setiap huruf, dan mengembalikan
setiap huruf pada tempat
keluarnya dan pada asalnya, dan
menyesuaikan huruf-huruf tersebut
pada setiap keadaannya, dan
membenarkan lafadznya dan
memperindah pelafalannya pada
setiap konteks, menyempurnakan
bentuknya. tanpa berlebihan, dan
tanpa meremehkan” (An Nasyr fil
Qira’at Al ‘Asyr , 1/212).
Hukum ilmu tajwid
Syaikh Muhammad bin Shalih Al
Utsaimin pernah ditanya, “apakah
seorang Muslim boleh membaca Al
Qur’an tanpa berpegangan pada
kaidah-kaidah tajwid?”. Beliau
menjawab:
ﻧﻌﻢ ﻳﺠﻮﺯ ﺫﻟﻚ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻠﺤﻦ ﻓﻴﻪ ﻓﺈﻥ ﻟﺤﻦ ﻓﻴﻪ ﻓﺎﻟﻮﺍﺟﺐ
ﻋﻠﻴﻪ ﺗﻌﺪﻳﻞ ﺍﻟﻠﺤﻦ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﺠﻮﻳﺪ ﻓﻠﻴﺲ ﺑﻮﺍﺟﺐ ﺍﻟﺘﺠﻮﻳﺪ
ﺗﺤﺴﻴﻦ ﻟﻠﻔﻆ ﻓﻘﻂ ﻭﺗﺤﺴﻴﻦ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﻻ ﺷﻚ ﺃﻧﻪ
ﺧﻴﺮ ﻭﺃﻧﻪ ﺃﺗﻢ ﻓﻲ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻟﻜﻦ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﺑﺤﻴﺚ
ﻧﻘﻮﻝ ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻘﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﺎﻟﺘﺠﻮﻳﺪ ﻓﻬﻮ ﺁﺛﻢ ﻗﻮﻝ ﻻ
ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻞ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺧﻼﻓﻪ ﺑﻞ ﺇﻥ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻧﺰﻝ
ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﺣﺮﻑ ﺣﺘﻰ ﻛﺎﻥ ﻛﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﻘﺮﺅﻩ
ﺑﻠﻐﺘﻪ ﺇﻻ ﺃﻧﻪ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺧﻴﻒ ﺍﻟﻨﺰﺍﻉ ﻭﺍﻟﺸﻘﺎﻕ ﺑﻴﻦ
ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﺣﺪ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻋﻠﻰ ﻟﻐﺔ
ﻗﺮﻳﺶ ﻓﻲ ﺯﻣﻦ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﻋﻔﺎﻥ
ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻦ ﻓﻀﺎﺋﻠﻪ ﻭﻣﻨﺎﻗﺒﻪ ﻭﺣﺴﻦ
ﺭﻋﺎﻳﺘﻪ ﻓﻲ ﺧﻼﻓﺘﻪ ﺃﻥ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺣﺮﻑ ﻭﺍﺣﺪ
ﻟﺌﻼ ﻳﺤﺼﻞ ﺍﻟﻨﺰﺍﻉ ﻭﺍﻟﺨﻼﺻﺔ ﺃﻥ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺎﻟﺘﺠﻮﻳﺪ
ﻟﻴﺴﺖ ﺑﻮﺍﺟﺒﺔ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﺤﺮﻛﺎﺕ ﻭﺍﻟﻨﻄﻖ
ﺑﺎﻟﺤﺮﻭﻑ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻫﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻼ ﻳﺒﺪﻝ ﺍﻟﺮﺍﺀ ﻻﻣﺎ ﻣﺜﻼ
ﻭﻻ ﺍﻟﺬﺍﻝ ﺯﺍﻳﺎً ﻭﻣﺎ ﺃﺷﺒﻪ ﺫﻟﻚ ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻤﻨﻮﻉ
“Ya, itu dibolehkan. Selama tidak
terjadi lahn (kesalahan bacaan) di
dalamnya. Jika terjadi lahn maka
wajib untuk memperbaik lahn-nya
tersebut. Adapun tajwid, hukumnya
tidak wajib. Tajwid itu untuk
memperbagus pelafalan saja, dan
untuk memperbagus bacaan Al
Qur’an. Tidak diragukan bahwa
tajwid itu baik, dan lebih
sempurna dalam membaca Al
Qur’an. Namun kalau kita katakan
‘barangsiapa yang tidak membaca
Al Qur’an dengan tajwid maka
berdosa‘ ini adalah perkataan
yang tidak ada dalilnya. Bahkan
dalil-dalil menunjukkan hal yang
berseberangan dengan itu.
Yaitu bahwasanya Al Qur’an
diturunkan dalam 7 huruf, hingga
setiap manusia membacanya
dengan gaya bahasa mereka
sendiri. Sampai suatu ketika,
dikhawatirkan terjadi perselisihan
dan persengketaan di antara kaum
Muslimin, maka disatukanlah
kaum Muslimin dalam satu qira’ah
dengan gaya bahasa Qura’isy di
zaman Amirul Mukminin Utsman
bin Affan radhiallahu’anhu. Dan ini
merupakan salah satu keutamaan
beliau (Utsman), dan jasa beliau,
serta bukti perhatian besar beliau
dalam masa kekhalifahannya
untuk mempersatukan umat dalam
satu qira’ah. Agar tidak terjadi
perselisihan di tengah umat.
Kesimpulannya, membaca Al
Qur’an dengan tajwid tidaklah
wajib. Yang wajib adalah
membaca harakat dan
mengucapkan huruf sesuai yang
sebagaimana mestinya. Misalnya,
tidak mengganti huruf ra’ (ﺭ )
dengan lam (ﻝ ), atau huruf dzal (ﺫ )
diganti zay ( ﺯ), atau semisal itu
yang merupakan perkara yang
terlarang”. ( Fatawa Nurun ‘alad
Darbi, 5/2, Asy Syamilah).
Dengan demikian, apa yang
disebutkan sebagian ulama qiraat,
bahwa wajib membaca Al Qur’an
dengan tajwid, yaitu semisal wajib
membaca dengan ikhfa, idgham,
izhar dan lainnya, adalah hal yang
kurang tepat dan membutuhkan
dalil syar’i untuk mewajibkannya.
Yang tepat adalah, ilmu tajwid
wajib dalam kadar yang bisa
menghindari seseorang dari
kesalahan makna dalam
bacaannya. Terdapat penjelasan
yang bagus dalam Al Mausu’ah Al
Fiqhiyyah :
ﺫَﻫَﺐَ ﺍﻟْﻤُﺘَﺄَﺧِّﺮُﻭﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻔْﺼِﻴﻞ ﺑَﻴْﻦَ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ‏(ﻭَﺍﺟِﺐٌ
ﺷَﺮْﻋِﻲٌّ‏) ﻣِﻦْ ﻣَﺴَﺎﺋِﻞ ﺍﻟﺘَّﺠْﻮِﻳﺪِ، ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺎ ﻳُﺆَﺩِّﻱ ﺗَﺮْﻛُﻪُ
ﺇِﻟَﻰ ﺗَﻐْﻴِﻴﺮِ ﺍﻟْﻤَﺒْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻓَﺴَﺎﺩِ ﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻰ، ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ
‏(ﻭَﺍﺟِﺐٌ ﺻِﻨَﺎﻋِﻲٌّ ‏) ﺃَﻱْ ﺃَﻭْﺟَﺒَﻪُ ﺃَﻫْﻞ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻟِﺘَﻤَﺎﻡِ
ﺇِﺗْﻘَﺎﻥِ ﺍﻟْﻘِﺮَﺍﺀَﺓِ، ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺎ ﺫَﻛَﺮَﻩُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﻓِﻲ ﻛُﺘُﺐِ
ﺍﻟﺘَّﺠْﻮِﻳﺪِ ﻣِﻦْ ﻣَﺴَﺎﺋِﻞ ﻟَﻴْﺴَﺖْ ﻛَﺬَﻟِﻚَ، ﻛَﺎﻹِْﺩْﻏَﺎﻡِ ﻭَﺍﻹِْﺧْﻔَﺎﺀِ
ﺇِﻟَﺦْ. ﻓَﻬَﺬَﺍ ﺍﻟﻨَّﻮْﻉُ ﻻَ ﻳَﺄْﺛَﻢُ ﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻋِﻨْﺪَﻫُﻢْ.
ﻗَﺎﻝ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦُ ﻋَﻠِﻲٌّ ﺍﻟْﻘَﺎﺭِﻱُّ ﺑَﻌْﺪَ ﺑَﻴَﺎﻧِﻪِ ﺃَﻥَّ ﻣَﺨَﺎﺭِﺝَ ﺍﻟْﺤُﺮُﻭﻑِ
ﻭَﺻِﻔَﺎﺗِﻬَﺎ، ﻭَﻣُﺘَﻌَﻠِّﻘَﺎﺗِﻬَﺎ ﻣُﻌْﺘَﺒَﺮَﺓٌ ﻓِﻲ ﻟُﻐَﺔِ ﺍﻟْﻌَﺮَﺏِ:
ﻓَﻴَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺃَﻥْ ﺗُﺮَﺍﻋَﻰ ﺟَﻤِﻴﻊُ ﻗَﻮَﺍﻋِﺪِﻫِﻢْ ﻭُﺟُﻮﺑًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﺘَﻐَﻴَّﺮُ
ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻤَﺒْﻨَﻰ ﻭَﻳَﻔْﺴُﺪُ ﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻰ، ﻭَﺍﺳْﺘِﺤْﺒَﺎﺑًﺎ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﺤْﺴُﻦُ ﺑِﻪِ
ﺍﻟﻠَّﻔْﻆُ ﻭَﻳُﺴْﺘَﺤْﺴَﻦُ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻨُّﻄْﻖُ ﺣَﺎﻝ ﺍﻷَْﺩَﺍﺀِ
“para ulama muta’akhirin merinci
antara wajib syar’i dengan wajib
shina’i dalam masalah tajwid .
Wajib syar’i (kewajiban yang
dituntut oleh syariat) adalah yang
jika meninggalkannya dapat
menjerumuskan pada perubahan
struktur kalimat atau makna yang
rusak. Dan wajib shina’i adalah
hal-hal yang diwajibkan para
ulama qiraat untuk
menyempurnakan kebagusan
bacaan.
Maka apa yang disebutkan pada
ulama qiraat dalam kitab-kitab
ilmu tajwid mengenai wajibnya
berbagai hukum tajwid, bukanlah
demikian memahaminya. Seperti
idgham, ikhfa’, dan seterusnya, ini
adalah hal-hal yang tidak berdosa
jika meninggalkannya menurut
mereka.
Asy Syaikh Ali Al Qari setelah
beliau menjelaskan bahwa
makharijul huruf berserta sifat-
sifat dan hal-hal yang terkait
dengannya itu adalah hal yang
berpengaruh dalam bahasa arab,
beliau berkata: ‘hendaknya setiap
orang memperhatikan semua
kaidah-kaidah makharijul huruf
ini. Wajib hukumnya dalam kadar
yang bisa menyebabkan perubahan
struktur kalimat dan kerusakan
makna. Sunnah hukumnya dalam
kadar yang bisa memperbagus
pelafalan dan pengucapan ketika
membacanya'” (Al Mausu’ah Al
Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 10/179).
Maka tidak benar sikap sebagian
orang yang menyalahkan bacaan
Al Qur’an dari orang-orang yang
belum pernah mendapatkan
pelajaran tajwid yang mendalam,
padahal bacaan mereka masih
dalam kadar yang sudah
memenuhi kadar wajib, yaitu tidak
rusak makna dan susunan
katanya. Bahkan sebagian orang
ada yang merasa tidak sah shalat
di belakang imam yang tidak
membaca dengan tajwid. Dan ada
pula sebagian pengajar tajwid
yang menganggap tidak sah
bacaan Al Qur’an setiap orang
yang tidak menerapkan semua
kaidah-kaidah tajwid dengan
sempurna. Ini adalah sikap-sikap
yang kurang bijak yang
disebabkan oleh kurangnya ilmu.
Wallahul musta’an .
Makna ayat “bacalah secara tartil”
Sebagian orang yang menganggap
wajibnya menerapkan kaidah
tajwid secara mutlak, berdalil
dengan ayat:
ﻭَﺭَﺗِّﻞِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺗَﺮْﺗِﻴﻼ
“dan bacalah Al Qur’an dengan
tartil” (QS. Al Muzammil: 4).
Tartil di sini dimaknai dengan
hukum-hukum tajwid. Kita simak
penjelasan para ulama tafsir
mengenai ayat ini.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
ﻭَﻗَﻮْﻟُﻪُ } : ﻭَﺭَﺗِّﻞِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺗَﺮْﺗِﻴﻼ{ ﺃَﻱِ: ﺍﻗْﺮَﺃْﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺗَﻤَﻬُّﻞٍ،
ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳَﻜُﻮﻥُ ﻋَﻮْﻧًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻓَﻬْﻢِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻭَﺗَﺪَﺑُّﺮِﻩِ
“dan firman-Nya: ‘ dan bacalah Al
Qur’an dengan tartil ‘, maksudnya
bacalah dengan pelan karena itu
bisa membantu untuk
memahaminya dan men-
tadabburi-nya” (Tafsir Ibni Katsir,
8/250).
Imam Ath Thabari juga
menjelaskan:
ﻭﻗﻮﻟﻪ: ‏( ﻭَﺭَﺗِّﻞِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺗَﺮْﺗِﻴﻼ ‏) ﻳﻘﻮﻝ ﺟﻞّ ﻭﻋﺰّ: ﻭﺑﻴﻦ
ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺇﺫﺍ ﻗﺮﺃﺗﻪ ﺗﺒﻴﻴﻨﺎ، ﻭﺗﺮﺳﻞ ﻓﻴﻪ ﺗﺮﺳﻼ
“dan firman-Nya: ‘ dan bacalah Al
Qur’an dengan tartil ‘, maksudnya
Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan:
perjelaslah jika engkau membaca
Al Qur’an dan bacalah dengan
tarassul (pelan dan hati-
hati)” (Tafsir Ath Thabari, 23/680).
As Sa’di menjelaskan:
{ ﻭَﺭَﺗِّﻞِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺗَﺮْﺗِﻴﻼ{ ﻓﺈﻥ ﺗﺮﺗﻴﻞ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﻪ ﻳﺤﺼﻞ
ﺍﻟﺘﺪﺑﺮ ﻭﺍﻟﺘﻔﻜﺮ، ﻭﺗﺤﺮﻳﻚ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ ﺑﻪ، ﻭﺍﻟﺘﻌﺒﺪ ﺑﺂﻳﺎﺗﻪ،
ﻭﺍﻟﺘﻬﻴﺆ ﻭﺍﻻﺳﺘﻌﺪﺍﺩ ﺍﻟﺘﺎﻡ ﻟﻪ
“‘dan bacalah Al Qur’an dengan
tartil‘, karena membaca dengan
tartil itu adalah membaca yang
disertai tadabbur dan tafakkur,
hati bisa tergerak karenanya,
menghamba dengan ayat-ayat-
Nya, dan tercipta kewaspadaan
dan kesiapan diri yang sempurna
kepadanya” (Taisir Karimirrahman ,
892).
Demikian yang dijelaskan para
ulama ahli tafsir mengenai makna
tartil. Maka kurang tepat jika ayat
ini dijadikan dalil untuk
mewajibkan untuk membaca Al
Qur’an dengan kaidah-kaidah
tajwid secara mutlak.
Semoga bermanfaat. Wallahu
a’lamu bis shawab .
***
Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar